Belajar Menata Bacaan dan Batin, Warga Binaan Blok E Dalami IQRO dan Tajwid

Lapas Banjarmasin
WBP Blok E Lapas Kelas IIA Banjarmasin menggelar pembelajaran penguatan makhrajul huruf serta pemahaman hukum tajwid Idgham Bighunnah, Sabtu (17/1/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Blok E Lapas Kelas IIA Banjarmasin terasa berbeda. Di tengah rutinitas yang serba terbatas, sekelompok Warga Binaan duduk khusyuk memegang buku IQRO. Huruf demi huruf dilafalkan perlahan, memperhatikan makhraj dan dengung, seolah memberi ruang bagi hati untuk ikut belajar kembali.

Pembelajaran IQRO kali ini difokuskan pada penguatan makhrajul huruf serta pemahaman hukum tajwid Idgham Bighunnah. Para Warga Binaan dibimbing mengenali titik keluarnya huruf hijaiyah secara tepat, mulai dari tenggorokan, lidah, hingga bibir. Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung hukum Idgham Bighunnah pada huruf ya, nun, mim, dan wau, dengan penekanan pada dengung yang benar.

Metode praktik menjadi pendekatan utama. Setiap kesalahan diluruskan dengan sabar, setiap kemajuan diapresiasi sederhana. Suasana belajar berlangsung tertib dan khidmat, menciptakan ruang tenang di balik tembok lapas.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan, termasuk pembelajaran IQRO, memiliki peran penting dalam proses perubahan Warga Binaan.

“Pembinaan keagamaan adalah pondasi utama pembentukan karakter. Ketika Warga Binaan mampu membaca Al-Qur’an dengan benar, kami berharap muncul ketenangan batin, kesadaran diri, dan perubahan sikap ke arah yang lebih positif,” ujarnya, Sabtu (17/1/2026).

Herriansyah secara terpisah.
Manfaat kegiatan ini dirasakan langsung oleh para peserta. Salah satu Warga Binaan Blok E berinisial AB mengaku kini lebih memahami cara membaca Al-Qur’an dengan benar.

“Dulu saya membaca seadanya, sekarang jadi tahu letak keluarnya huruf dan kapan harus dengung. Pelan-pelan bacaan saya lebih rapi, dan hati juga terasa lebih tenang,” tuturnya.

Di ruang yang dibatasi tembok dan waktu, pembelajaran IQRO menjadi jeda yang menenangkan. Setiap huruf yang dibaca bukan sekadar latihan lisan, melainkan ikhtiar menata ulang diri. Kesalahan diperbaiki tanpa menghakimi, kemajuan dirayakan tanpa berlebihan. Di Blok E, Sabtu pagi itu, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, ia hadir sebagai pengingat bahwa perubahan selalu memiliki ruang untuk dimulai.

Tinggalkan Komentar