Dari Balik Jeruji, Hati yang Merindu Allah SWT Menggema di Jum’at Taqwa Lapas Banjarmasin

Lapas Banjarmasin
Peserta Magang Nasional, Mursalim, memberikan tausyiah pada kegiatan Jum’at Taqwa yang digelar di Masjid Baabut Taqwa Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Jum’at (30/1/2026) pagi.

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin, lantunan shalawat dan doa menggema dengan khusyuk.

Jumat pagi itu, Masjid Baabut Taqwa menjadi saksi bahwa keterbatasan ruang tidak pernah membatasi kerinduan hati untuk mendekat kepada Allah SWT.

Suasana religius terasa kuat saat kegiatan Jum’at Taqwa kembali digelar sebagai bagian dari pembinaan kepribadian dan spiritual warga binaan.

Kegiatan diawali dengan pembacaan Maulid Habsyi dan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW, menciptakan atmosfer haru dan ketenangan di antara para jamaah.

Momentum keagamaan tersebut semakin bermakna ketika Peserta Magang Nasional, Mursalim, menyampaikan tausyiah yang menyentuh relung hati para warga binaan. Dengan bahasa sederhana dan penuh makna, ia mengajak jamaah merenungi dua pondasi utama kehidupan: Habluminallah dan Habluminannas.

“Hubungan dengan Allah selalu terbuka selama kita mau bertobat dan memperbaiki diri. Namun hubungan dengan sesama manusia sering kali lebih berat, karena di sana ada perasaan, kesalahan, dan hak yang harus diselesaikan,” tutur Mursalim di hadapan jamaah.

Ia menekankan bahwa perubahan sejati tidak hanya diukur dari rajinnya ibadah, tetapi juga dari sikap dan perilaku sehari-hari menjaga lisan, saling menghormati, serta membiasakan diri untuk meminta dan memberi maaf.
Bagi para warga binaan, tausyiah tersebut menjadi cermin sekaligus penguat harapan.

Salah seorang warga binaan berinisial AS mengaku kegiatan tersebut memberi sentuhan batin yang mendalam.

“Di sini kami belajar bahwa memperbaiki diri bukan hanya soal ibadah, tapi juga soal memperbaiki hubungan dengan orang lain. Tausyiah ini menguatkan niat kami untuk berubah menjadi lebih baik,” ujarnya lirih.

Sementara Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan spiritual memiliki peran penting dalam proses pemasyarakatan.

“Dari balik jeruji, kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa setiap warga binaan memiliki kesempatan untuk berubah. Kegiatan Jum’at Taqwa ini menjadi sarana memperkuat iman, membentuk akhlak, dan menanamkan harapan agar masa pembinaan menjadi titik balik menuju kehidupan yang lebih baik,” ungkapnya.

Menurutnya, pendekatan keagamaan tidak hanya menenangkan jiwa, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun karakter dan kesadaran moral warga binaan saat kembali ke masyarakat.

Melalui kegiatan Jum’at Taqwa, Lapas Banjarmasin terus berupaya menghadirkan ruang refleksi dan pembinaan yang bermakna. Sebab di balik jeruji besi, masih ada hati yang bersujud, berdoa, dan merindukan ampunan serta kasih sayang Allah SWT.

Tinggalkan Komentar