Dari Limbah Dapur Menjadi Harapan, WBP Binaan Lapas Banjarmasin Sulap Sampah Jadi Pupuk Kompos

Lapas Banjarmasin
WBP Lapas Kelas IIA Banjarmasin melakukan inovasi dengan mengubah limbah sisa sayuran seperti labu, terong, timun, daun singkong, semangka, sawi, ditambah gula merah dan air cucian beras, seluruh bahan difermentasi hingga menghasilkan kompos organik yang siap menyuburkan tanah, Senin (12/1/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com – Di balik tembok tinggi Lapas Kelas IIA Banjarmasin, proses pembinaan kemandirian terus berjalan secara perlahan namun pasti. Senin (12/1) pagi, sejumlah warga binaan tampak serius mengolah lahan pertanian.

Bukan sekadar menanam, mereka mempraktikkan pengaplikasian pupuk kompos hasil olahan limbah dapur sebuah kegiatan sederhana yang menyimpan nilai edukatif dan harapan masa depan.

Pupuk kompos tersebut bukan produk siap pakai. Ia lahir dari proses panjang yang melibatkan ketekunan dan pengetahuan. Berbahan dasar sisa sayuran seperti labu, terong, timun, daun singkong, semangka, sawi, ditambah gula merah dan air cucian beras, seluruh bahan difermentasi hingga menghasilkan kompos organik yang siap menyuburkan tanah.

Kegiatan ini berlangsung di Lahan Pertanian Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Kelas IIA Banjarmasin, melibatkan warga binaan yang didampingi Peserta Magang Nasional. Suasana belajar tampak hidup. Setiap tahap dijalani bersama, menjadikan lahan pertanian sebagai ruang berbagi ilmu sekaligus tempat menumbuhkan rasa percaya diri.

Salah seorang warga binaan, Amang Saleh, mengaku mendapatkan pengalaman berharga dari kegiatan tersebut.

“Awalnya saya tidak pernah berpikir sisa dapur bisa diolah jadi pupuk. Dari sini saya belajar bahwa sesuatu yang dianggap tidak berguna ternyata bisa memberi manfaat besar. Ilmu ini sederhana, tapi sangat berguna untuk kehidupan kami nanti,” ujarnya.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa kegiatan pengolahan pupuk kompos ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang berkelanjutan. Menurutnya, lapas tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan mental, tetapi juga ruang pembelajaran keterampilan hidup.

“Kami ingin warga binaan memiliki bekal nyata ketika kembali ke masyarakat. Melalui kegiatan pertanian dan pengolahan kompos ini, mereka belajar disiplin, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai inilah yang penting untuk membangun kemandirian setelah bebas nanti,” ujar Herriansyah.

Lebih dari sekadar aktivitas rutin, program ini mengajarkan makna keberlanjutan. Dari sisa dapur yang sering terbuang, lahir pupuk yang menyuburkan tanah. Dari proses sederhana, tumbuh kesadaran bahwa perubahan selalu dimulai dari kemauan untuk belajar.

Di Lapas Kelas IIA Banjarmasin, pembinaan tidak hanya tentang menjalani hari, tetapi tentang menanam harapan. Karena pada akhirnya, pembinaan sejati adalah memberi akar agar setiap warga binaan mampu tumbuh dan berdiri tegak di mana pun mereka kelak melangkah.

Tinggalkan Komentar