Dari Masjid Baabut Taqwa, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Menata Hati Lewat Ratibul Haddad dan Fiqih Ibadah
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Minggu pagi di Lapas Kelas IIA Banjarmasin berjalan lebih hening dari biasanya. Di Masjid Baabut Taqwa, lantunan dzikir Ratibul Haddad menggema pelan, menyatu dengan wajah-wajah khusyuk para warga binaan yang duduk bersila, menata hati dan pikiran.
Tak ada hiruk-pikuk. Yang terasa justru suasana tenang, seolah ruang sempit di balik jeruji itu sejenak berubah menjadi tempat perenungan dan harapan. Pembacaan Ratibul Haddad menjadi pembuka kegiatan pembinaan keagamaan yang rutin digelar, namun selalu dinanti oleh para warga binaan.
Dzikir demi dzikir dilantunkan bersama. Bagi sebagian dari mereka, momen ini bukan sekadar rutinitas, melainkan jeda untuk bercermin—mengakui kekhilafan masa lalu dan memohon kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Usai ratib, kegiatan berlanjut dengan pengajian Kitab Fiqih Tangga Ibadah, kitab berbahasa Melayu Arab karya H. Muhammad Zuhdi bin H. Ramli. Menariknya, pengajian kali ini disampaikan oleh Noor Rahman, salah satu warga binaan yang telah lama mendalami kitab tersebut.
Dengan bahasa sederhana dan contoh-contoh yang dekat dengan keseharian, Noor Rahman mengulas materi tentang najis dan tata cara beristinja yang benar sesuai tuntunan syariat. Materi dasar, namun esensial—tentang kebersihan, kesucian, dan kesiapan diri sebelum menghadap Sang Pencipta.
“Hal-hal kecil seperti bersuci sering dianggap sepele, padahal dari sanalah kualitas ibadah seseorang bermula,” ujar Noor Rahman di sela pengajian.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan menjadi fondasi penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, pemahaman fiqih dasar bukan hanya soal ritual, tetapi juga pembentukan karakter.
“Pemahaman fiqih dasar seperti bersuci sangat penting. Dari hal-hal sederhana inilah kedisiplinan, kebersihan, dan kualitas ibadah warga binaan dibentuk. Kami berharap ilmu yang didapat bisa diamalkan secara konsisten,” kata Akhmad Herriansyah.
Ia juga mengapresiasi antusiasme warga binaan yang tetap mengikuti kegiatan positif meski dilaksanakan di hari libur.
“Walaupun di hari Minggu, mereka tetap melaksanakan kegiatan yang bermanfaat. Tentu saja kegiatan seperti ini sangat kami dukung sebagai bagian dari pembinaan warga binaan di dalam lapas,” ujarnya.
Bagi Noval, salah satu peserta pengajian, kegiatan ini memberi pemahaman baru yang sebelumnya hanya ia ketahui secara umum.
“Sekarang saya jadi lebih paham tentang najis dan cara beristinja yang benar. Ilmunya sederhana, tapi sangat penting untuk ibadah sehari-hari. Jadi lebih yakin dan tenang,” tuturnya.
Pengajian pagi itu ditutup tanpa seremoni. Para warga binaan kembali ke blok masing-masing dengan langkah tertib, membawa pulang bukan hanya catatan fiqih, tetapi juga ketenangan batin.
Di balik tembok tinggi Lapas Banjarmasin, perubahan memang tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, ia tumbuh dari perkara paling dasar: membersihkan diri, menenangkan hati, lalu perlahan belajar melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
BACA JUGA
