Dari Sisa Dapur ke Sumber Harapan, Lapas Banjarmasin Olah Limbah Jadi Pakan Maggot

Lapas Banjarmasin
Kalapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah melihat kegiatan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), warga binaan dalam mengolah limbah organik menjadi pakan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) dalam sebuah siklus pembinaan berbasis lingkungan, Selasa (3/2/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin, sisa-sisa dapur yang biasanya berakhir di tempat sampah kini menjelma menjadi sumber pembelajaran, penghidupan, sekaligus harapan baru. Melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE), warga binaan diajak mengolah limbah organik menjadi pakan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) dalam sebuah siklus pembinaan berbasis lingkungan.

Setiap hari, dapur Lapas Banjarmasin menghasilkan limbah organik berupa sisa sayuran dan bahan makanan. Limbah inilah yang kemudian dikumpulkan dan dipilah oleh warga binaan. Setelah dicacah agar lebih mudah terurai, limbah dimasukkan ke media budidaya maggot. Dalam waktu singkat, larva BSF bekerja secara alami mengurai limbah tersebut.

Hasilnya bukan sekadar pengurangan sampah. Maggot yang tumbuh menjadi sumber protein tinggi dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan ternak, sementara sisa penguraian yang dikenal sebagai kasgot digunakan sebagai pupuk organik untuk lahan pertanian di area SAE. Seluruh proses berjalan dalam satu sistem terpadu, tanpa menyisakan limbah baru.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa program ini dirancang tidak hanya untuk menjawab persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai sarana pembinaan kemandirian.

“Budidaya maggot ini kami dorong sebagai solusi nyata. Limbah dapur berkurang, lingkungan lebih terjaga, dan yang terpenting warga binaan memperoleh keterampilan yang aplikatif dan bernilai ekonomi. Ini bekal penting ketika mereka kembali ke masyarakat,” ujar Akhmad Herriansyah, Selasa (3/2/2026).

Menurutnya, pendekatan pembinaan seperti ini selaras dengan semangat pemasyarakatan yang menempatkan warga binaan sebagai subjek pembelajaran, bukan sekadar objek pembinaan.

Senada dengan itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Bagus Paras Etika, menjelaskan bahwa program maggot dirancang sebagai sebuah siklus berkelanjutan.

“Kami menyusun sistemnya dari hulu ke hilir. Mulai dari pemilahan limbah dapur, proses budidaya maggot, sampai pemanfaatan hasilnya sebagai pakan ikan dan pupuk organik. Warga binaan terlibat aktif di setiap tahapan, sehingga mereka memahami prosesnya secara utuh,” kata Bagus.

Data internal Lapas menunjukkan, pengolahan limbah dapur melalui budidaya maggot mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan setiap harinya.
Selain itu, kebutuhan pakan ikan di area SAE kini sebagian besar dapat dipenuhi secara mandiri dari hasil budidaya tersebut, sehingga menekan biaya operasional. Bagi warga binaan, program ini memberi pengalaman yang berbeda.

Novi, salah satu peserta kegiatan, mengaku mendapatkan perspektif baru tentang nilai limbah.

“Saya baru tahu kalau sisa makanan bisa jadi sesuatu yang bermanfaat. Di sini kami belajar keterampilan, belajar disiplin, dan jadi lebih peduli lingkungan. Rasanya lebih produktif,” ujarnya.

Melalui pengolahan limbah dapur menjadi pakan maggot, Lapas Kelas IIA Banjarmasin menunjukkan bahwa pembinaan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Dari sisa yang kerap terbuang, tumbuh keterampilan, kepedulian lingkungan, dan harapan akan masa depan yang lebih mandiri.

Tinggalkan Komentar