Di Balik Gerbang Lapas Banjarmasin, 25 Harapan Baru Menghirup Kebebasan
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Pagi itu, langkah kaki terdengar lebih pelan dari biasanya di Lapas Kelas IIA Banjarmasin. Bukan karena ragu, melainkan karena emosi yang bercampur aduk. Haru, syukur, dan harapan berkelindan saat 25 warga binaan melangkah menuju gerbang yang selama ini menjadi batas antara masa lalu dan masa depan mereka.
Setelah bertahun-tahun menjalani pembinaan di balik tembok tinggi, hari itu mereka resmi menghirup udara kebebasan melalui Program Integrasi Pembebasan Bersyarat (PB). Bagi sebagian orang, kebebasan mungkin hal biasa. Namun bagi mereka, kebebasan adalah kesempatan kedua—sebuah awal baru yang lama dinanti.
Proses menuju hari ini tidak singkat dan tidak mudah. Setiap warga binaan harus melalui penilaian ketat, baik secara administratif maupun substantif.
Kepatuhan terhadap aturan, perubahan sikap, serta kesungguhan mengikuti program pembinaan kepribadian dan kemandirian menjadi tolok ukur utama. Hanya mereka yang benar-benar menunjukkan perubahan yang layak mendapat kepercayaan negara.
Di antara 25 orang tersebut, seorang warga binaan berinisial YN tampak menahan air mata. Suaranya bergetar ketika menyampaikan isi hatinya.
“Saya bersyukur sekali. Kesempatan ini tidak akan saya sia-siakan. Saya ingin pulang, menjadi orang yang lebih baik, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya lirih, Kamis (8/1/2026).
Program Pembebasan Bersyarat bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan wujud nyata filosofi pemasyarakatan: membina, bukan semata-mata menghukum.
Melalui program ini, warga binaan dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat secara bertahap, tetap dalam pengawasan, namun dengan ruang untuk memperbaiki diri dan membangun kembali kepercayaan sosial.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah menegaskan, pembebasan ini adalah hasil dari proses panjang perubahan perilaku.
“Pembebasan Bersyarat bukan hadiah, melainkan kepercayaan negara. Ini adalah pengakuan bahwa mereka telah berproses dan menunjukkan perubahan. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya kami mengatasi overcapacity, agar pembinaan berjalan lebih optimal, tertib, dan manusiawi,” jelasnya.
Sebelum benar-benar meninggalkan lapas, satu per satu warga binaan menjalani pemeriksaan identitas oleh Petugas Pintu Utama (P2U). Prosedur itu memastikan semua berjalan sesuai aturan sebuah penutup administratif untuk perjalanan panjang di balik jeruji.
Ketika gerbang akhirnya terbuka, tak ada sorak sorai. Yang ada hanyalah senyum kecil, tarikan napas panjang, dan tatapan ke arah luar, ke dunia yang akan mereka hadapi kembali dengan versi diri yang baru.
Hari itu, 25 orang memang bebas. Namun lebih dari itu, 25 harapan kembali dilahirkan.
BACA JUGA
