Hangat di Balik Jeruji, Lapas Banjarmasin Bagikan 75 Termos demi Kenyamanan Warga Binaan di Bulan Ramadan

Lapas Banjarmasin
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah menyerahkan termos air panas bagi WBP Lapas Kelas IIA Banjarmasin yang melaksanakan ibadah Ramadan 1447 H, Kamis (19/2/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana haru dan penuh kepedulian terasa di Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Kamis (19/2/2026).

Di balik tembok tinggi dan pintu-pintu besi, sebuah langkah sederhana namun bermakna dihadirkan: pembagian 75 unit termos air panas untuk warga binaan.

Kegiatan yang digelar di aula lapas itu bukan sekadar seremonial. Satu per satu termos diserahkan untuk ditempatkan di setiap kamar hunian, memastikan seluruh warga binaan memiliki akses air panas saat berbuka puasa maupun sahur.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah menyampaikan, perhatian terhadap kebutuhan kecil justru bisa memberi dampak besar bagi kenyamanan beribadah para warga binaan.

“Ramadan adalah momen refleksi dan perbaikan diri. Kami ingin memastikan saudara-saudara kita di sini dapat menjalankan ibadah puasa dengan nyaman. Ketersediaan air panas mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka ini sangat berarti, terutama saat berbuka dan sahur,” ujar Akhmad Herriansyah.

Menurutnya, pelayanan pemasyarakatan bukan hanya soal pengamanan, tetapi juga tentang kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa lapas berkomitmen menghadirkan lingkungan yang tertib sekaligus mendukung pembinaan spiritual.

Senada dengan itu, Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Kasi Binadik), Gilang Wisnuwardhana menjelaskan, pembagian termos juga bertujuan menjaga keteraturan distribusi air panas selama Ramadan.

“Dengan adanya satu termos di setiap kamar hunian, kebutuhan air panas dapat terpenuhi secara lebih merata. Ini membantu menciptakan suasana yang lebih tertib, mengurangi antrean, serta membuat momen berbuka dan sahur menjadi lebih kondusif,” jelasnya.

Bagi warga binaan, perhatian tersebut terasa nyata. Hendrik, salah satu kepala kamar, mengungkapkan rasa syukurnya atas fasilitas yang diberikan.

“Kami sangat terbantu. Biasanya harus menunggu giliran cukup lama untuk mendapatkan air panas. Sekarang saat berbuka dan sahur jadi lebih tertib dan tidak terburu-buru,” tuturnya dengan nada penuh apresiasi.

Di bulan yang identik dengan kehangatan dan kepedulian ini, 75 termos mungkin terlihat sebagai hal kecil. Namun di dalam lapas, benda sederhana itu menjadi simbol perhatian dan harapan.

Ia menghadirkan kehangatan bukan hanya pada air yang disimpan di dalamnya, tetapi juga pada suasana kebersamaan dan semangat menjalani Ramadan dengan lebih khusyuk.

Langkah ini menjadi pengingat bahwa di balik jeruji, nilai-nilai kemanusiaan tetap dijaga. Ramadan di Lapas Kelas IIA Banjarmasin tahun ini pun dimulai dengan pesan yang kuat: setiap insan berhak merasakan kenyamanan dalam beribadah, dan setiap kebaikan, sekecil apa pun, tetap memiliki makna yang besar.

Tinggalkan Komentar