Jelang Ramadan Harga Pangan Alami Kenaikan, Balikpapan Perkuat Pasokan Pangan dari Jawa dan Sulawesi
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Pemerintah Kota Balikpapan meningkatkan koordinasi pasokan bahan pangan dari sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Sulawesi menjelang bulan suci Ramadan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan sekaligus menekan potensi lonjakan harga di pasar.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan, Haemusri Umar mengatakan, kapasitas produksi pangan lokal masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Saat ini, kontribusi pasokan dari dalam kota dinilai sangat terbatas.
“Produksi lokal kita belum sampai 10 persen dari total kebutuhan. Artinya, lebih dari 90 persen pasokan masih bergantung dari luar daerah, termasuk komoditas hortikultura dan protein hewani,” kata Haemusri, Kamis (12/2/2026).
Menurut dia, ketergantungan tersebut membuat stabilitas harga di Balikpapan sangat dipengaruhi kelancaran distribusi antarpulau. Setiap gangguan pasokan dari daerah penghasil berpotensi memicu kenaikan harga, terutama pada periode permintaan tinggi seperti menjelang Ramadan.
Untuk menjaga ketersediaan barang, Disdag memfasilitasi kerja sama antara pelaku usaha di Balikpapan dengan pemasok dari Jawa dan Sulawesi. Skema yang digunakan adalah kerja sama antarpelaku usaha (business to business/B2B), sementara realisasi teknis dilakukan oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda).
“Pemerintah kota berperan membuka akses dan menjembatani komunikasi. Implementasi kontrak pasokan dijalankan oleh Perumda bersama mitra usaha di daerah asal,” ujar Haemusri.
Ia menambahkan, pihaknya juga memperkuat pemantauan harga dan stok di tingkat distributor maupun pasar tradisional. Monitoring dilakukan secara berkala untuk memastikan ketersediaan barang tetap aman dan mencegah spekulasi harga.
Berdasarkan pemantauan pekan kedua Februari 2026, Balikpapan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,30 persen. Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama kenaikan harga, antara lain angkutan udara, daging ayam ras, emas perhiasan, kopi bubuk, dan tomat.
Haemusri menjelaskan, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi berkurangnya kiriman ayam beku dari Jawa serta terbatasnya suplai ayam segar dari peternak lokal. Di sisi lain, permintaan masyarakat tetap tinggi menjelang Ramadan.
“Permintaan mulai meningkat, sementara suplai belum sepenuhnya stabil. Ini yang harus kita jaga agar tidak terjadi lonjakan harga yang tajam,” katanya.
Selain ayam ras, sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai rawit, tomat, dan kacang panjang juga mengalami kenaikan harga. Faktor cuaca, terutama musim hujan, disebut memengaruhi produksi di sentra pertanian sekaligus memperbesar biaya distribusi.
Meski demikian, terdapat beberapa komoditas yang mencatat penurunan harga pada periode yang sama, antara lain bensin, beras, bawang merah, popok bayi, dan sawi hijau.
Haemusri menilai, upaya pengamanan pasokan dari luar daerah perlu diimbangi dengan strategi jangka panjang berupa penguatan produksi lokal. Tanpa peningkatan kapasitas produksi dalam kota, ketahanan pangan Balikpapan akan terus rentan setiap menghadapi momentum hari besar keagamaan.
“Ke depan, pengembangan pertanian dan peternakan lokal harus menjadi perhatian bersama. Ketergantungan yang terlalu tinggi tentu bukan kondisi ideal bagi stabilitas harga dan pasokan,” ujarnya.
BACA JUGA
