Jum’at Berkah di Jalanan Banjarmasin: Ketika Seporsi Nasi Menjadi Jembatan Kemanusiaan
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com –
Pagi belum sepenuhnya beranjak siang ketika lalu lintas di sejumlah ruas jalan Kota Banjarmasin bergerak seperti biasa. Deru kendaraan, teriakan pedagang, dan kayuhan becak membentuk irama harian kota. Namun, Jumat (2/1/2026) itu, ada pemandangan yang sedikit berbeda di tepi jalan.
Sebuah mobil melambat, lalu berhenti. Dari dalamnya turun Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, bersama beberapa jajarannya. Mereka tidak datang untuk inspeksi atau agenda formal. Di tangan mereka, sebungkus nasi dan air mineral sederhana, tetapi sarat makna.
Dalam semangat Jum’at Berkah, rombongan ini menyusuri jalanan kota, menyapa mereka yang menggantungkan hidup di ruang-ruang publik: pedagang asongan, tukang becak, hingga warga yang beraktivitas di pinggir jalan. Satu per satu, paket makan siang diserahkan. Tidak ada jarak, tidak ada seremoni berlebihan hanya senyum, sapaan singkat, dan ucapan terima kasih yang tulus.
Bagi Rudi, seorang tukang becak yang mangkal di sudut jalan, pemberian itu terasa lebih dari sekadar makan siang.
“Saya sangat senang dan bersyukur bisa mendapatkan makan siang gratis,” ujarnya sambil tersenyum.
“Uang yang biasanya saya pakai untuk makan siang bisa saya simpan, nanti untuk keperluan di rumah, terutama untuk istri,” ungkapnya bersyukur.
Seporsi nasi itu mungkin sederhana, tetapi bagi Rudi dan banyak penerima lainnya, ia menghadirkan rasa diperhatikan sebuah jeda hangat di tengah perjuangan harian mencari nafkah.
Akhmad Herriansyah mengatakan, kegiatan tersebut memang dirancang untuk menjangkau masyarakat secara langsung. Bukan di aula, bukan pula di balik pagar institusi, melainkan di jalanan tempat denyut kehidupan kota berlangsung.
“Kami ingin hadir langsung di tengah masyarakat, berbagi, dan menyapa,” kata Akhmad.
“Semoga apa yang kami lakukan ini membawa manfaat dan keberkahan,” tambahnya.
Di balik kegiatan itu, tersirat upaya Lapas Kelas IIA Banjarmasin untuk menampilkan wajah pemasyarakatan yang lebih humanis. Tidak semata menjalankan tugas administratif, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dan empati terhadap lingkungan sekitar.
Ketika mobil kembali melaju dan aktivitas jalanan kembali seperti semula, jejak kegiatan itu mungkin tak meninggalkan tanda fisik. Namun, bagi mereka yang menerima, Jumat pagi itu menyisakan rasa hangat bahwa di tengah hiruk-pikuk kota, masih ada ruang bagi kepedulian dan kebersamaan.
Dan di jalanan Banjarmasin, Jum’at Berkah hari itu pun menemukan maknanya.
BACA JUGA
