Lantunan Ayat Suci dari Balik Jeruji, Lapas Banjarmasin Gelar Pesantren Ramadan

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com– Suasana berbeda terasa di Masjid Baabut Taqwa, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banjarmasin, Sabtu (21/2/2026). Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang kokoh, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema lembut, menghadirkan ketenangan di bulan suci Ramadan.

Sebanyak 120 Warga Binaan tampak khusyuk mengikuti pembukaan Pesantren Ramadan. Mereka merupakan peserta didik program kesetaraan Paket A, B, dan C yang selama ini aktif menjalani pembinaan pendidikan.

Ramadan kali ini menjadi ruang belajar yang berbeda
bukan hanya tentang ilmu agama, tetapi juga tentang harapan dan perubahan diri.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah dalam sambutannya menyampaikan pesan yang sederhana namun sarat makna. Ia mengajak seluruh Warga Binaan menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri.

“Ramadan adalah kesempatan yang Allah berikan untuk kita semua tanpa terkecuali. Saya berharap seluruh peserta memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini dengan sungguh-sungguh. Jadikan pesantren Ramadan ini sebagai titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih siap kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam proses pemasyarakatan. Ia percaya, perubahan sejati tidak hanya lahir dari aturan, tetapi dari kesadaran hati.

“Di sini kita tidak hanya membina secara fisik dan keterampilan, tetapi juga membangun hati dan karakter. Jika hati sudah tersentuh, insyaallah langkah ke depan akan lebih terarah,” tambahnya.

Kepala Seksi Bimbingan Narapidana/Anak Didik, Gilang Wisnuwardhana, menjelaskan bahwa Pesantren Ramadan dirancang sebagai wadah pembelajaran spiritual sekaligus pembentukan kedisiplinan. Selain kajian agama, para peserta juga diajak berdiskusi, berbagi pengalaman hidup, dan saling menguatkan.

“Harapannya, perubahan yang tumbuh selama Ramadan tidak berhenti di sini. Nilai-nilai yang dipelajari bisa terus dibawa hingga mereka kembali ke tengah masyarakat,” katanya.

Bagi KH (inisial), salah satu peserta, Ramadan tahun ini terasa berbeda. Di sela kegiatan, ia mengaku menemukan ketenangan yang selama ini sulit ia rasakan.

“Saya merasa lebih tenang dan lebih fokus memperbaiki diri. Di sini kami diingatkan untuk tidak menyerah. Ramadan ini seperti kesempatan kedua bagi saya,” tuturnya pelan.

Di antara sajadah yang terhampar dan suara doa yang dipanjatkan, terselip harapan-harapan baru. Bagi mereka yang tengah menjalani masa pidana, Pesantren Ramadan bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan ruang refleksi—tentang kesalahan yang telah lalu dan tentang masa depan yang masih bisa diperjuangkan.

Melalui program ini, Lapas Banjarmasin menegaskan bahwa pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani hukuman, tetapi juga tentang menata kembali arah kehidupan. Di bulan yang penuh ampunan, bahkan di balik jeruji, cahaya perubahan tetap menemukan jalannya.

Tinggalkan Komentar