Lapas Kelas IIA Banjarmasin Gelar Skrining Kesehatan Massal bagi 250 Warga Binaan dan Petugas

Lapas Banjarmasin
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah saat menjalani pemeriksaan pada skrining kesehatan massal bagi 250 warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan petugas, Rabu (11/2/2026) kemarin.

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin menggelar skrining kesehatan massal bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) dan petugas, Rabu (11/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Klinik Lapas tersebut diikuti oleh 220 warga binaan dan 30 petugas sebagai bagian dari upaya deteksi dini penyakit tidak menular.

Pemeriksaan meliputi pengecekan tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol total, trigliserida, HDL, LDL, serta asam urat. Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Puskesmas Pelambuan, dan Puskesmas Banjarmasin Indah.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menegaskan bahwa skrining kesehatan merupakan bentuk pemenuhan hak dasar warga binaan sekaligus bagian dari upaya menjaga kesiapan dan kinerja petugas.

“Kesehatan adalah pondasi utama dalam proses pembinaan. Kami ingin memastikan seluruh warga binaan dan petugas mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini. Dengan begitu, pencegahan dan pengendalian penyakit bisa dilakukan lebih cepat, lebih tepat, dan berkelanjutan,” ujar Akhmad saat ditemui di sela kegiatan.

Menurut dia, lingkungan pemasyarakatan memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga kesehatan, sehingga langkah preventif perlu dilakukan secara berkala dan terukur. Ia menambahkan, deteksi dini menjadi strategi penting untuk menekan angka kesakitan akibat penyakit tidak menular yang kerap dipicu pola hidup kurang sehat.

Dokter yang terlibat dalam kegiatan tersebut, dr. Yayuk, menjelaskan bahwa penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan metabolik sering berkembang tanpa gejala awal yang jelas. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin menjadi langkah krusial.

“Dengan deteksi dini, baik petugas maupun warga binaan dapat mengetahui faktor risiko yang dimiliki dan segera melakukan perubahan gaya hidup. Pengendalian sejak awal akan sangat membantu menurunkan risiko komplikasi di kemudian hari,” kata dr. Yayuk.

Ia menambahkan, hasil pemeriksaan akan ditindaklanjuti dengan edukasi kesehatan dan pemantauan berkala bagi peserta yang terindikasi memiliki risiko tinggi.

Salah seorang warga binaan berinisial HR mengaku terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. Ia mengatakan pemeriksaan kesehatan memberinya kesempatan untuk lebih memahami kondisi tubuhnya.

“Saya jadi tahu bagaimana kondisi kesehatan saya sekarang. Ini membuat saya lebih waspada dan termotivasi untuk menjaga pola makan serta berolahraga,” ujarnya.

Akhmad menegaskan, kegiatan skrining kesehatan tidak berhenti pada pemeriksaan semata, melainkan menjadi bagian dari program pembinaan menyeluruh di dalam lapas.

“Pembinaan yang efektif membutuhkan kondisi fisik dan mental yang sehat. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan investasi jangka panjang bagi proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Banjarmasin berharap dapat memperkuat budaya hidup sehat di lingkungan pemasyarakatan sekaligus mendukung program kesehatan nasional dalam pengendalian penyakit tidak menular.

Tinggalkan Komentar