Menanam Harapan dari Balik Tembok Lapas, Panen Terong dan Selada Jadi Awal Tahun Penuh Makna
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Pagi itu, deretan tanaman terong dan selada tampak segar di sudut lahan produktif Lapas Kelas IIA Banjarmasin. Di balik tembok tinggi dan jeruji besi, kehidupan tetap bertumbuh.
Awal tahun ini, Lapas Banjarmasin memanen hasil kebun yang dikelola langsung oleh warga binaan—sebuah panen yang bukan hanya tentang sayur, tetapi juga tentang harapan dan perubahan.
Sebanyak 250 buah terong dengan berat total sekitar 42 kilogram serta 150 pot selada berhasil dipanen. Hasil tersebut merupakan buah dari program pembinaan kemandirian berbasis pertanian yang secara konsisten dijalankan oleh
Lapas Kelas IIA Banjarmasin.
Panen dilakukan bersama Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, didampingi Pelaksana Harian Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Plh. Kasi Giatja) Hutan Triwibowo serta jajaran staf.
Kehadiran pimpinan dalam kegiatan tersebut menjadi simbol dukungan nyata terhadap proses pembinaan yang dijalani warga binaan.
Bagi Kalapas Akhmad Herriansyah, kebun sederhana ini menyimpan makna yang jauh lebih dalam dibandingkan hasil panennya.
“Panen ini bukan sekadar memetik hasil pertanian. Di sini kami menanam nilai disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras. Yang kami bangun adalah pola pikir kemandirian dan semangat untuk berubah,” ujar Akhmad Herriansyah, Jum’at (2/1/2026).
Ia berharap, kegiatan di awal tahun ini dapat menjadi momentum positif bagi pelaksanaan seluruh program pembinaan ke depan.
“Awal tahun adalah waktu yang tepat untuk menanam harapan baru. Semoga apa yang kita mulai hari ini menjadi pijakan kuat bagi warga binaan dalam menata masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Sementara itu, Plh. Kasi Giatja Hutan Triwibowo menjelaskan bahwa hasil panen saat ini masih dalam tahap pengembangan. Produksi yang ada belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan dapur Lapas.
“Untuk sementara, hasil panen ini dipasarkan ke luar. Ke depan, kami akan meningkatkan kualitas perawatan tanaman, termasuk pemberian nutrisi tambahan, agar hasilnya lebih optimal dan bisa memenuhi kebutuhan dapur Lapas sendiri,” jelas Hutan.
Program pertanian ini menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang berkelanjutan. Warga binaan tidak hanya belajar menanam dan merawat tanaman, tetapi juga memahami proses, kesabaran, dan tanggung jawab dari setiap tahap yang dijalani.
Dari kebun kecil di dalam lapas, tumbuh cerita tentang perubahan. Di antara tanah, air, dan benih yang dirawat setiap hari, terselip harapan bahwa setiap proses pembinaan sekecil apa pun adalah langkah menuju kehidupan yang lebih baik setelah masa pidana berakhir.
BACA JUGA
