Pemkot Balikpapan Pacu Embung Aji Raden dan SPAM Sepaku Semoi untuk Atasi Krisis Air Bersih
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Krisis air bersih yang masih kerap dirasakan warga Balikpapan, terutama saat musim kemarau, mendorong Pemerintah Kota Balikpapan mempercepat penyediaan sumber air baku melalui perencanaan jangka panjang.
Dua proyek utama yang kini diprioritaskan adalah pembangunan Embung Aji Raden dan pengembangan SPAM Sepaku Semoi.
Kepala Bappeda-Litbang Kota Balikpapan, Murni, mengatakan keterbatasan air baku menjadi akar persoalan distribusi air bersih di kota ini. Kondisi tersebut berdampak pada tekanan air yang lemah hingga pemberlakuan distribusi bergilir di sejumlah wilayah.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, Pemkot menyusun Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM) sebagai dasar perencanaan penyediaan air baku yang mendukung operasional PTMB,” ujar Murni, Rabu (21/1/2026).
Dalam dokumen RISPAM, tercatat terdapat 11 lokasi potensial sumber air baku, mulai dari bendungan, intake sungai, hingga opsi pengolahan air laut. Namun, Murni menegaskan tidak semua alternatif tersebut dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
“Setiap opsi memiliki tantangan. Ada yang terkendala biaya investasi, kesiapan lahan, hingga aspek teknis,” kata dia.
Salah satu opsi yang sempat dikaji adalah desalinasi air laut. Namun, rencana tersebut tidak dilanjutkan karena membutuhkan investasi yang sangat besar.
“Upaya mengatasi krisis ini sempat diarahkan ke desalinasi air laut, tetapi biaya investasinya sangat tinggi sehingga belum memungkinkan untuk dijalankan,” ujar Murni.
Fokus Embung Aji Raden
Pemkot Balikpapan saat ini memusatkan perhatian pada percepatan pembangunan Embung Aji Raden yang dinilai paling realistis untuk menambah pasokan air baku dalam jangka menengah.
“Kami fokus penuh pada Embung Aji Raden agar bisa mendapatkan pembiayaan dari pemerintah pusat,” kata Murni.
Embung tersebut ditargetkan mampu menyuplai sekitar 200 liter per detik air baku saat beroperasi penuh. Proyek ini diproyeksikan rampung pada 2027–2028. Namun, sebelum pembangunan fisik dimulai, Pemkot masih harus menyelesaikan pembebasan lahan seluas lebih dari 72 hektare.
Saat ini, Pemkot mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk pembebasan lahan sambil menunggu pelimpahan kewenangan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, mengingat penetapan lokasi sebelumnya telah kedaluwarsa.
“Semoga pembebasan lahan ini bisa segera selesai. Kami di Bappeda bekerja maksimal agar prosesnya tidak berlarut,” ujar Murni.
SPAM Sepaku Semoi
Selain Embung Aji Raden, Pemkot Balikpapan juga menyiapkan SPAM Sepaku Semoi untuk menutup defisit air baku yang saat ini diperkirakan mencapai 1.000 liter per detik.
“SPAM Sepaku Semoi diharapkan dapat menutup kekurangan pasokan air baku eksisting sekitar seribu liter per detik,” kata Murni.
Pemanfaatan Bendungan Sepaku Semoi direncanakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) bersifat unsolicited.
Proyek ini diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar dua tahun dengan masa operasional hingga 30 tahun dan nilai investasi sekitar Rp 1,2 triliun.
Lingkup pekerjaan meliputi pembangunan intake, jaringan transmisi, reservoir, pipa distribusi, hingga sambungan rumah. Meski melibatkan badan usaha, Pemkot tetap memperhitungkan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
“Harapannya, harga jual air tetap di kisaran Rp 10.000 per meter kubik. Ini masih dalam tahap pembahasan,” jelas Murni.
Program Pendukung
Di luar proyek bendungan, Pemkot Balikpapan juga menjalankan sejumlah program pendukung, antara lain pengembangan air minum melalui sumur dalam hibah Kementerian ESDM pada periode 2018–2020. Pada 2026, APBD juga disiapkan untuk perluasan jaringan perpipaan dan kajian kapasitas sumur dalam oleh Dinas Pekerjaan Umum.
Selain itu, pemanfaatan air hujan mulai didorong melalui pembangunan instalasi pemanenan air hujan di 19 unit.
Murni menegaskan bahwa potensi air baku di Balikpapan masih tersedia, namun proses penyediaannya membutuhkan perencanaan jangka panjang dan keterlibatan banyak pihak.
“PDAM hanya sebagai operator. Penyediaan air baku harus dilakukan bersama dan masuk dalam rencana bisnis. Ini membutuhkan dukungan multi-stakeholder,” ujar dia.
BACA JUGA
