Ramadhan Menyapa dari Balik Dinding Lapas, Al-Qur’an Menjadi Jalan Pulang Hati
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Menjelang hadirnya Bulan Suci Ramadhan, suasana Masjid Baabut Taqwa di Lapas Kelas IIA Banjarmasin terasa berbeda, lantunan ayat suci dan nasihat keimanan mengalir tenang, menyentuh relung hati para warga binaan yang memadati masjid dengan wajah penuh harap.
Melalui kegiatan tausiyah keagamaan, Lapas Banjarmasin menghadirkan ruang refleksi bagi para warga binaan muslim untuk mempersiapkan diri menyambut Ramadhan.
Tema yang diangkat, keutamaan membaca Al-Qur’an di bulan penuh berkah, menjadi pengingat bahwa setiap manusia selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri—di mana pun berada.
Tausiyah disampaikan oleh Ustadz Mursalim, yang mengajak jamaah memandang Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual, melainkan cahaya yang mampu menuntun langkah hidup.
Ia menuturkan, Ramadhan adalah momen paling tepat untuk kembali mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, karena dari sanalah ketenangan dan harapan tumbuh.
“Al-Qur’an hadir untuk membimbing, bukan menghakimi. Siapa pun yang mau mendekat, selalu ada jalan untuk berubah,” tuturnya lembut, disambut keheningan penuh perenungan dari para jamaah, Senin (9/2/2026).
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah menegaskan, pembinaan rohani menjadi fondasi penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah tahunan, tetapi sebagai momentum membangun kesadaran dan karakter baru bagi warga binaan.
“Kami percaya bahwa perubahan sejati berawal dari hati. Melalui pembinaan keagamaan, kami ingin membantu warga binaan menemukan kembali makna hidup, agar kelak mereka kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab,” ujar Akhmad Herriansyah.
Ia menambahkan, lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran kehidupan, termasuk pembelajaran spiritual yang berkelanjutan.
Bagi para warga binaan, tausiyah ini menghadirkan rasa tenang dan harapan.
Salah seorang warga binaan mengaku kegiatan tersebut memberinya semangat baru untuk menyambut Ramadhan dengan lebih bermakna.
“Di sini kami banyak merenung. Mendengar tausiyah tadi membuat saya ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an. Rasanya seperti diingatkan bahwa hidup masih bisa diperbaiki,” ungkapnya lirih.
Dari balik tembok pembatas, Ramadhan pun disambut dengan doa dan harapan. Melalui sentuhan pembinaan rohani, Lapas Kelas IIA Banjarmasin terus berupaya menghadirkan cahaya perubahan—agar setiap insan yang pernah tersesat tetap memiliki jalan pulang menuju kehidupan yang lebih bermakna.
BACA JUGA
