Warga Binaan Lapas Banjarmasin Olah Batok Kelapa Jadi Produk Bernilai Jual
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Salah satu kegiatan yang kini menunjukkan hasil adalah pelatihan kerajinan tangan berbahan dasar batok kelapa yang diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomis.
Melalui program tersebut, warga binaan memanfaatkan batok kelapa yang selama ini kerap dianggap limbah menjadi tas, dompet, kotak tisu, hingga beragam aksesori. Produk-produk itu tidak hanya memiliki nilai fungsi, tetapi juga nilai estetika dan daya jual.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, mengatakan pembinaan kemandirian menjadi bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Menurut dia, pelatihan keterampilan ditujukan untuk membekali warga binaan dengan kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
“Kami ingin memastikan warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh keterampilan yang dapat menjadi bekal kehidupan. Program ini dirancang agar mereka memiliki kemampuan usaha yang nyata dan produktif ketika bebas nanti,” ujar Akhmad, Kamis (12/2/2026).
Ia menambahkan, dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, menjadi dorongan untuk terus mengembangkan program pembinaan yang berdampak langsung bagi warga binaan.
Senada dengan itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Bagus Paras Etika, menjelaskan bahwa pelatihan kerajinan tangan tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada pembentukan karakter.
“Pembinaan kemandirian ini melatih keterampilan teknis sekaligus membangun etos kerja, kreativitas, dan rasa percaya diri warga binaan. Harapannya, mereka memiliki daya saing dan mampu mandiri secara ekonomi setelah kembali ke masyarakat,” kata Bagus.
Dukungan terhadap hasil karya warga binaan juga datang dari Wakil Wali Kota Banjarmasin, Hj. Ananda, yang memberikan apresiasi terhadap produk kerajinan tersebut. Ia menilai kreativitas warga binaan dalam mengolah bahan sederhana menjadi produk bernilai jual patut didukung.
Salah satu warga binaan, SD, mengaku bersyukur dapat mengikuti pelatihan tersebut. Ia mengatakan awalnya tidak menyangka batok kelapa bisa diubah menjadi produk yang diminati.
“Saya senang bisa belajar membuat kerajinan dari batok kelapa. Ternyata bahan yang sederhana bisa menjadi tas atau dompet yang bagus. Dukungan dari luar membuat kami semakin semangat untuk terus berkarya,” ujarnya.
Melalui program ini, Lapas Kelas IIA Banjarmasin berharap pembinaan tidak hanya menjadi rutinitas, melainkan sarana nyata untuk membuka peluang usaha dan menciptakan harapan baru bagi warga binaan.
BACA JUGA
