Bagus Susetyo Tekankan Kerukunan, 131 Paguyuban Jadi Kekuatan Balikpapan
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Keberadaan 131 paguyuban dari berbagai daerah menjadi salah satu kekuatan Kota Balikpapan dalam menjaga kerukunan masyarakat di tengah keberagaman.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Dr Ir H Bagus Susetyo, MM., menekankan pentingnya memperkuat persaudaraan sekaligus melestarikan budaya daerah di lingkungan perantauan.
Menurut Bagus, keberagaman suku dan budaya yang hidup di Balikpapan perlu dijaga melalui komunikasi, silaturahmi, dan semangat kebersamaan antarmasyarakat.
“Balikpapan adalah miniatur Republik yang ada di kota ini. Sampai sekarang tidak ada konflik horizontal dan kita masih menjaga kondusivitas kota ini tetap terjaga,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).
Bagus mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Paguuhan Yogyakarta karena menjadi wadah untuk mempererat hubungan kekeluargaan warga asal Yogyakarta yang kini tinggal di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
Dalam pertemuan dengan paguyuban Yogjakarta lalu, sejumlah warga dari daerah seperti Gunungkidul dan Kulon Progo turut hadir. Mereka kini menetap di Banjarmasin dan sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.
“Ini menunjukkan bahwa silaturahmi antarwarga Jogja di perantauan sangat positif. Tadi juga disampaikan berbagai kegiatan yang sudah dilakukan, termasuk silaturahmi rutin setiap bulan,” katanya.
Bagus menilai, kegiatan silaturahmi tidak sekadar menjadi ajang pertemuan, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan menjaga ikatan dengan daerah asal.
Ia menyebutkan, keberadaan 131 paguyuban di Balikpapan merupakan potensi besar untuk mempererat persatuan. Hubungan yang baik antarkelompok masyarakat diharapkan terus dipelihara agar keberagaman menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain menjaga kerukunan, Bagus mengingatkan pentingnya melestarikan budaya daerah kepada generasi muda.
Warga perantauan dapat mengenalkan tradisi melalui pendidikan seni, pertunjukan budaya, serta kegiatan yang melibatkan anak-anak.
Kesenian seperti tari tradisional, gamelan, dan tembang panembrama dapat menjadi sarana untuk mengenalkan identitas budaya kepada generasi penerus.
Menurutnya, anak-anak yang tumbuh jauh dari kampung halaman orang tua tetap perlu mengenal akar budaya keluarganya agar warisan leluhur tidak terputus oleh perubahan zaman.
Bagus juga mengungkapkan kedekatannya dengan Banjarmasin karena pernah tinggal di kota tersebut selama empat tahun.
“Setelah Yogyakarta, Banjarmasin dan Kalimantan Timur juga menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Rasanya seperti pulang ke rumah, ke kampung halaman kedua,” ungkapnya.
Ia berharap semangat persaudaraan dan kecintaan terhadap budaya daerah terus diwariskan sehingga masyarakat dari berbagai latar belakang dapat hidup berdampingan secara harmonis.
Keberadaan paguyuban di Balikpapan diharapkan tidak hanya mempererat hubungan warga berdasarkan daerah asal, tetapi juga berkontribusi menjaga persatuan dan kondusivitas kota. (HP/Adv Kominfo Balikpapan).
BACA JUGA
