PKK Balikpapan Dorong Digitalisasi, Bagikan Masker, dan Ubah Sampah Jadi Bernilai Ekonomi

Pemkot Balikpapan
Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan memperluas gerakannya dari lingkungan keluarga hingga ruang digital dan pengelolaan lingkungan. Kamis (15/10/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Balikpapan memperluas gerakannya dari lingkungan keluarga hingga ruang digital dan pengelolaan lingkungan.

Tiga program sekaligus dijalankan TP PKK Balikpapan, yakni meluncurkan Griya Digital PKK, membagikan masker kepada masyarakat di tengah kondisi udara yang memburuk, serta menjalin kerja sama dengan PT Pegadaian melalui Forum Sahabat Emas Peduli Sampah Indonesia (FORSEPSI).

Ketua TP PKK Kota Balikpapan, Hj Nurlena Rahmad Mas’ud mengatakan, rangkaian program tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat peran PKK agar semakin adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

Salah satunya melalui Griya Digital PKK yang dirancang untuk mengubah pengelolaan administrasi organisasi dari sistem konvensional menjadi digital.

“Melalui Griya Digital PKK, kita mulai melakukan digitalisasi administrasi, khususnya persuratan. Ke depan, sistem ini akan dikembangkan untuk pendataan, enam buku wajib PKK, dan administrasi lainnya,” kata Nurlena, Kamis (15/10/2026).

Menurut dia, digitalisasi tidak hanya bertujuan mengurangi penggunaan kertas. Sistem tersebut juga diharapkan membuat administrasi PKK lebih tertata dan memudahkan penyimpanan data ketika terjadi pergantian kepengurusan.

Karena itu, Nurlena mendorong kader PKK mulai dari tingkat kecamatan hingga kelurahan untuk ikut menerapkan sistem digital tersebut.

“Harapannya seluruh kader bisa mengikuti perkembangan teknologi sehingga administrasi organisasi menjadi lebih tertib, cepat, dan efisien,” ujarnya.

Bagikan masker di tengah kabut asap

Selain pembenahan internal organisasi, TP PKK Balikpapan turut merespons persoalan kualitas udara yang memburuk akibat asap kebakaran hutan dan lahan.

Masker dibagikan melalui enam kecamatan untuk membantu masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah.

Nurlena mengatakan perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, serta kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan asap.

“Kita peduli kepada masyarakat yang bekerja di luar rumah atau yang beraktivitas outdoor. Semoga ini bisa membantu mengurangi risiko terpapar ISPA,” kata Nurlena.

Ia juga meminta kader PKK ikut menjadi penyambung informasi pemerintah kepada masyarakat, terutama mengenai pentingnya menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Menurut dia, perlindungan kesehatan tidak cukup hanya dilakukan pemerintah. Kesadaran keluarga untuk menjaga anggota keluarganya juga menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi udara yang tidak sehat.

Sampah tak sekadar dibuang

Sementara itu, persoalan sampah menjadi fokus lain yang didorong TP PKK melalui kerja sama dengan PT Pegadaian dan FORSEPSI.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah sekaligus mengembangkan bank sampah di lingkungan masyarakat.

Nurlena menilai keluarga, khususnya perempuan, memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan pengelolaan sampah. Sebab, perubahan perilaku paling mudah dimulai dari rumah.

“Saya mengajak seluruh kader PKK menjadi pelopor pemilahan sampah dari rumah, mengurangi penggunaan plastik, dan menggerakkan bank sampah di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Ia mengatakan sampah yang telah dipilah memiliki potensi untuk memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola melalui skema yang tepat, termasuk melalui program konversi sampah menjadi tabungan emas sesuai ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, gerakan pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk pemberdayaan ekonomi keluarga.

Nurlena berharap kolaborasi dengan perangkat daerah, PT Pegadaian, dan FORSEPSI tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus dikembangkan hingga memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Menurut dia, keberhasilan pemberdayaan keluarga sangat bergantung pada konsistensi kader dalam menjalankan program di tingkat paling dekat dengan masyarakat.

“Ketika keluarga saling menjaga, perempuan saling menguatkan, dan masyarakat bergerak bersama, Balikpapan memiliki peluang lebih besar untuk menjadi kota yang sehat, bersih, dan sejahtera,” kata Nurlena.

Tinggalkan Komentar