Udara Balikpapan Memburuk, Sekolah Batasi Aktivitas Luar Kelas dan Sesuaikan Jam Belajar
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap mulai berdampak pada kegiatan pembelajaran di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyiapkan sejumlah penyesuaian untuk mengurangi paparan polusi terhadap peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan.
Kepala Disdikbud Kota Balikpapan Irfan Taufik memimpin rapat koordinasi yang membahas kondisi kualitas udara sekaligus penyesuaian kegiatan pembelajaran di satuan pendidikan.
Rapat tersebut dihadiri Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes), serta sejumlah instansi terkait.
Irfan mengatakan, hasil rapat menyepakati sejumlah langkah antisipasi yang dapat diterapkan sekolah dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara.
“Langkah yang dilakukan antara lain menerapkan penggunaan masker, melarang kegiatan di luar kelas, menghentikan sementara kegiatan ekstrakurikuler, serta melakukan pengurangan durasi pembelajaran,” kata Irfan, Senin (12/10/2026).
Selain itu, sekolah dapat melakukan penyesuaian atau pengunduran jam masuk apabila kondisi udara pada pagi hari dinilai kurang baik.
Menurut Irfan, kebijakan tersebut tidak berarti kegiatan pembelajaran dihentikan sepenuhnya.
Satuan pendidikan tetap melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan penyesuaian sesuai kondisi udara dan ketentuan yang berlaku.
“Pembelajaran tetap berlangsung, tetapi dilakukan secara terbatas dengan menyesuaikan kondisi kualitas udara. Keselamatan dan kesehatan peserta didik, guru, serta tenaga kependidikan menjadi perhatian utama,” ujarnya.
Kebijakan ini mengacu pada surat edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta hasil pemantauan kualitas udara melalui sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Berdasarkan pemantauan ISPU pada Senin (12/10/2026), kondisi udara Balikpapan menunjukkan peningkatan pencemaran. Data yang dihimpun dari stasiun pemantauan menunjukkan ISPU PM2,5 di Sepinggan berada pada level 118, sedangkan Balikpapan Baru mencapai 116.
Angka tersebut masuk kategori yang perlu mendapat perhatian karena berada pada tingkat tidak sehat.
Kondisi tersebut juga tercermin dari pemantauan AQMS milik DLH Balikpapan. Pada Senin pagi, Stasiun AQMS Sepinggan mencatat konsentrasi PM2,5 mencapai 108 mikrogram per meter kubik, dengan ISPU berada di angka 101.
Sebelumnya, Disdikbud Balikpapan telah menyiapkan skenario bertahap apabila kualitas udara memburuk. Pada awal Oktober, ketika kondisi udara masih berada pada kategori sedang berdasarkan pemantauan pemerintah daerah, pembelajaran tatap muka masih berlangsung dan PJJ belum diberlakukan.
Namun, perkembangan kondisi udara membuat langkah penyesuaian kembali diperkuat. Salah satu opsi yang disiapkan adalah menggeser jam belajar apabila pencemaran lebih tinggi terjadi pada pagi hari.
Irfan menegaskan keputusan terkait kegiatan pembelajaran akan terus disesuaikan berdasarkan perkembangan kualitas udara dan hasil koordinasi lintas sektor.
“Penerapan pembelajaran secara terbatas ini menyesuaikan kondisi kualitas udara dan ketentuan yang berlaku,” katanya.
Langkah tersebut juga dilakukan di tengah meningkatnya kejadian kebakaran lahan di Balikpapan.
BPBD Kota Balikpapan mencatat sebanyak 127 kejadian kebakaran lahan sepanjang 2026 hingga 12 Oktober, dengan total luas lahan yang terbakar sekitar 81 hektare. Peningkatan kejadian paling signifikan terjadi pada Agustus dan September.
Dengan kondisi tersebut, Disdikbud meminta satuan pendidikan tidak hanya berfokus pada keberlangsungan proses belajar, tetapi juga memperhatikan kondisi kesehatan warga sekolah.
“Kebijakan ini merupakan langkah preventif untuk memastikan proses pembelajaran tetap berlangsung dengan memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan seluruh warga sekolah,” ujar Irfan.
Pemerintah kota juga mengimbau masyarakat mengikuti perkembangan kualitas udara melalui kanal pemantauan resmi sehingga aktivitas, terutama yang melibatkan anak-anak, dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan. (HP/Adv Kominfo Balikpapan).
BACA JUGA
