Senyawa dalam racun lebah atau disebut melittin yang bisa menghancurkan sel kanker payudara tentu menjadi kabar baik. (Foto: PMJ News/Pixabay)

Studi: Racun Lebah Bisa Hancurkan Sel Kanker Payudara Dalam Waktu Satu Jam

SEJUMLAH laporan terkait senyawa dalam racun lebah atau disebut melittin yang bisa menghancurkan sel kanker payudara tentu menjadi kabar baik. Menurut studi baru, senyawa itu bisa menghancurkan sel kanker hanya dalam waktu satu jam.

Para ilmuwan di Harry Perkins Institute of Medical Research di Australia Barat, menguji racun dari lebih dari 300 lebah madu dan lebah terhadap dua jenis kanker payudara yang agresif dan sulit diobati.

Peneliti menemukan senyawa dalam racun yang disebut melittin dapat menghancurkan sel kanker payudara dalam waktu satu jam, tanpa menyebabkan kerusakan pada sel lain.

Mereka juga menemukan bahwa ketika digunakan bersama dengan obat kemoterapi, melittin membantu membentuk pori-pori di membran sel kanker yang berpotensi memungkinkan terapi untuk menembus sel dengan lebih baik.

Sementara tes untuk penelitian ini hanya dilakukan di laboratorium, para peneliti percaya senyawa tersebut dapat direproduksi secara sintetis sebagai pengobatan untuk kanker payudara.

Peneliti Kanker Payudara di Moffitt Cancer Center, Dr Marilena Tauro, mengatakan, kendati penemuan ini mengesankan, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan sebelum bisa menjadi terapi yang layak.

Kabar baiknya adalah penelitian ini menunjukkan bahwa melittin dapat mengganggu jalur sinyal pada sel kanker payudara yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan dan penyebaran penyakit.

Namun, ada banyak penelitian di mana senyawa telah terbukti berhasil membunuh sel kanker di laboratorium atau model hewan, tetapi butuh bertahun-tahun untuk penemuan itu sampai ke pasien.

Tauro menambahkan bahwa sekitar setengah dari semua obat saat ini berasal dari produk alami, yang menunjukkan potensi penggunaan racun lebah untuk penemuan obat.

“Alam adalah pemasok elemen aktif yang hebat dan sintesis kimia telah memungkinkan untuk menyediakan banyak obat yang berasal dari alam dalam dosis yang diperlukan untuk penggunaan terapeutik,” ungkap Marilena Tauro.

“Meskipun pasokan dari sumber aslinya seringkali sangat terbatas,” sambungnya seperti dilansir dari laman The Brighterside, Rabu (6/6/2022).

Sumber : PMJ NEWS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: