Disdag Prediksi Harga Tahu dan Tempe Naik Hingga Mei 2022

image_pdfimage_print

Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Dinas Perdagangan Kota Balikpapan memprediksi kenaikan harga tahu dan tempe di Kota Balikpapan akan berlangsung hingga bulan Mei 2022 mendatang. Sehingga kepada produsen untuk mewaspadai penerapan kenaikan harga kedelai di dalam negeri mulai bulan ini.

“Kemungkinan harga tahu dan tempe terasa naik sampai dengan bulan Mei nanti. Jadi belanjakan sesuai dengan kebutuhan saja,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan Arzaedi Rachman, Kamis (3/3/2022).

Dikatakan Arzaedi mengatakan, kedelai merupakan bahan utama dalam pembuatan tahu dan tempe. Sehingga, jika harga kedelai mengalami kenaikan, maka harga tahu dan tempe pun bakal naik. Dan kenaikan harga ini diprediksi bakal terjadi hingga Mei 2022. Kenaikan harga kedelai disebabkan oleh beberapa faktor, pertama terjadinya gangguan suplai kedelai dunia.

Gangguan suplai ini dikarenakan target produksi kedelai meleset dari perkiraan awal, dimana sejumlah wilayah penghasil juga mengalami penurunan produksi kedelai.

“Diprediksi pada Januari 2022 yang diharapkan bisa mencapai 140 juta ton, justru menurun menjadi 125 juta ton per Februari 2022. Nah, Penurunan produksi ini berdampak pada kenaikan harga kedelai dunia,” ungkapnya.

Kenaikan ini membuat perajin tahu dan tempe, terpaksa melakukan beragam upaya untuk menyeimbangkan biaya produksi dan pendapatan.
Salah satunya dengan memperkecil ukuran tahu dan tempe yang dihasilkan.

“Untuk produksi, kita agak mengurangi ukuran. Tadinya agak besar, sekarang agak mengurangi ketebalan jadi lebih tipis,” ujar, Perajin di Sentra Industri Kecil Somber atau SIKS Balikpapan.
Maryoto.

Harga kedelai bahan baku tahu dan tempe, sambungnya, saat ini sudah menyentuh angka Rp 14 ribu per kilogramnya, dari semula harga normal Rp 7-9 ribu per kilogram.
Menurut Maryoto, dengan naiknya harga kedelai, keuntungan perajin tahu dan tempe di Kota Balikpapan menjadi berkurang. Bahkan bisa dibilang tidak ada keuntungan sama sekali. Apalagi dalam pembuatan tempe juga dibutuhkan bahan-bahan lain, seperti plastik pembungkus, dan tenaga kerja yang harus dibayar.

“Jika kondisi seperti itu terus berlangsung tidak menutup kemungkinan para pengrajin bisa bangkrut. Ya tentu khawatir,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *