Paser
Pemerhati Politik dan Hukum (PATIH) di Tana Paser, Muchtar Amar, SH,

Ikhwal Jokowi Sebut ‘Jatah’ Prabowo, Menerka Siapa Yang Memercik Air di Dulang, Tepercik Muka Siapa?

 

Tana Paser, Dinamisnya dinamika politik di Indonesia semakin menarik untuk di ulas jelang Pemilu 2024.

Menariknya, Pemilu 2024 serentak menjadi rule model apakah sistem elektoral tersebut mampu menjawab kebutuhan sistem demokrasi yang di-idamkan.

Bergulirnya tahapan Pemilu 2024, seolah-olah bikin ‘bergidik’ para peserta harus mempersiapkan segala sesuatunya sesempurna mungkin.

Menurut Sun Tzu seorang penulis Art of War, untuk menjadi pemenang mensyaratkan ‘persiapan yang baik adalah kunci keberhasilan’.

Namun demikian, apakah kemudian kemenangan si pemenang itu nantinya legitimate dan refresentatif sebagai kemenangan bangsa dan negara Indonesia menghadapi dinamika global?, perlu dicermati tentunya.

Oleh sebab itu, apa maksud perkataan Jokowi menjelaskan “tadi pak hary (Ketua Umum Partai Perindo, HT red) menyampaikan, saya ini dua kali Wali Kota di Solo menang. Kemudian, ditarik ke Jakarta, gubernur sekali menang. Kemudian, dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo,” ujar Jokowi dalam sambutannya.

Pernyataan itu pun akhirnya disambut dengan tawa lepas, Prabowo kala itu langsung memberikan hormat ke Jokowi yang sebelumnya duduk di barisan depan.

Jokowi melanjutkan perkataan yang dinilai spontanitas oleh para hadirin dengan riuh tawa dan tepuk tangan “kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo,” sambung Jokowi.

Ramainya penilaian yang beragam, baik itu dari partai politik, pengamat politik maupun akademisi, menarik untuk di ulas bagi ‘PATIH’ Pemerhati Politik dan Hukum di Tana Paser, Muchtar Amar.

Menurutnya, respon santai Jokowi tersebut untuk merespon dinamika politik yang lagi panas.

“respon santai Jokowi itu menyikapi panasnya dinamika politik Pemilu 2024, terutama terkait munculnya figur-figur capres-cawapres yang bakal bertanding,” ujarnya kepada wartawan Rabu 10/11/2022.

Amar beranggapan “ada simbol pesan ‘khusus’ yang disampaikan Jokowi dari perkataan ‘kelihatannya setelah ini jatahnya Pak Prabowo’, terlebih dihadiri langsung oleh mayoritas ketua-ketua partai politik, dan respon pak Prabowo pun bisa diterka”.

Dia menilai, simbol pesan ‘khusus’ itu hanya diketahui oleh Jokowi dan sementara sengaja dibiarkan multitafsir.

“bisa jadi maksud presiden itu secara implisit menyinggung, bisa juga tidak, tapi menurut saya bisa memberi pesan makna buat partai yang merasa mengalami pribahasa ‘memercik air di dulang, terpercik muka sendiri,” terangnya.

Lebih lanjut dia menilai “bisa jadi sikap dan perkataan santai Jokowi itu mencerminkan harapannya agar jelang Pemilu 2024 dijalankan dengan kebersamaan yang harmoni di kabinetnya, kan berbahaya juga jika karena kekeliruan ataupun sedang kontestasi saling serang dan bongkar seperti di Polri,”.

Mengapa demikian?, kegaduhan akan membuat visi pemerintah terganggu, presiden pastinya mengharapkan visi kepemimpinannya dapat terealisasi di akhir masa jabatan.

“setidaknya pak Jokowi berharap, visi yang disepakati secara partisipatif sebagian besarnya dapat terwujud di 2024, untuk selebihnya dapat di-estafetkan oleh presiden berikutnya, inilah yang menjadi persoalan dan terus diperdebatkan,” tegas dia.

Dia beranggapan “banyak pihak menilai visi Jokowi merupakan visi pribadinya sendiri, bukan visi skala prioritas yang dibutuhkan oleh bangsa dan negara kita, saya sedikit heran, visi kepala pemerintahan itu melekat tidak terhadap visi pemerintahan yang dipimpinnya, jika tidak melekat, pasti tidak melalui partisipasi publik dan keterwakilannya,”.

“maka bangsa dan negara kita bakal sulit maju, karena setiap berganti kepala pemerintahan visi selanjutnya bisa berbeda-beda dan bisa jadi tidak efektif-efisien skala prioritas dengan visi yang sedang dijalankan, ini bisa berbahaya bagi keuangan negara, publik harus bersuara,” tambah dia.

Jika maksud Jokowi secara eksplisit bermaksud campur tangan langsung mendukung Prabowo, maka dengan mudah dinilai tidak demokratis dan diskriminasi dengan calon lain.

“jika secara eksplisit campur tangan langsung, mudah sekali diterka, pasti beliau yang memercik air di dulang dan bakal terkena muka beliau sendiri, apakah se simpel itu politik pak Jokowi, tentu tidak kan, ini menurut saya jelang Pemilu 2024 jadi semakin menarik,” sambung dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *