Jelang Imlek, Warga Tionghoa Balikpapan Mandikan Patung Dewa Dewi
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, suasana khidmat terasa di Klenteng Satya Dharma (Guang De Miao), Balikpapan. Sejumlah pengurus klenteng tampak menurunkan patung-patung dewa dan dewi dari altar untuk dibersihkan dan dimandikan.
Tradisi tahunan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian persiapan menyambut tahun baru penanggalan Tionghoa.
Ketua Klenteng Satya Dharma Balikpapan, William Chandra, mengatakan bahwa ritual tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus persiapan spiritual sebelum memasuki tahun yang baru.
“Ini ritual memandikan patung dewa-dewi dan membersihkan altar untuk menyambut perayaan Imlek, tahun baru Imlek,” ujar William.
Dalam tradisi Tionghoa, istilah untuk kegiatan memandikan atau membersihkan patung dewa-dewi (rupang) sebelum Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Kimsin.
Ritual penyucian ini umumnya dilakukan sekitar tujuh hari sebelum Imlek, saat para dewa diyakini naik ke kayangan untuk memberikan laporan.
Momentum tersebut dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pembersihan, baik secara fisik maupun spiritual, sebagai simbol penyucian diri, penghormatan kepada leluhur, dan penyambutan tahun baru dalam keadaan suci.
Menurut William, proses pembersihan dilakukan dengan hati-hati. Patung-patung yang berada di altar diturunkan satu per satu, lalu dibersihkan menggunakan air sebelum dikeringkan dan dipasang kembali. Selain itu, altar dan perlengkapan sembahyang lainnya juga dibersihkan secara menyeluruh.
“Jadi kita menurunkan patung dari altar. Kita melakukan pembersihan dengan air, setelah itu kita naikkan lagi. Karena dalam kepercayaan kami, menjelang tahun baru Imlek biasanya para dewa dan dewi naik ke langit untuk membuat laporan. Di situlah saatnya kita melakukan pembersihan,” kata William.
Ia menambahkan, kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap tahun menjelang Imlek dan melibatkan seluruh pengurus klenteng. Tahun ini, lebih dari 30 patung dibersihkan, termasuk 14 patung yang berada di ruang utama serta sejumlah patung lain di bagian atas klenteng.
“Total lebih dari 30 patung yang kita bersihkan. Setelah dibersihkan, sebagian juga dipakaikan baju baru. Karena tahun baru identik dengan bersih-bersih dan pembaruan, baju lama kita ganti dengan yang baru,” ujarnya.
Tradisi membersihkan klenteng bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan juga simbol pembersihan diri dan harapan akan awal yang lebih baik.
William menjelaskan, setiap pergantian tahun dalam kalender Tionghoa memiliki makna tersendiri, termasuk pada Tahun Shio Kuda yang berelemen api.
“Kalau Shio Kuda elemennya api. Kuda itu gerakannya cepat, api juga mudah menyala. Artinya tahun ini banyak peluang, tapi kita harus cepat menangkapnya dan tetap sabar agar tidak mudah terpancing,” kata dia.
Tradisi serupa juga dilakukan pada perayaan Imlek tahun sebelumnya. Saat itu, pengurus Klenteng Satya Dharma juga menggelar ritual Kimsin dengan membersihkan rupang dan altar sebagai simbol menyambut Tahun Baru dengan hati dan tempat ibadah yang bersih.
Kegiatan tersebut selalu menjadi momentum kebersamaan antar-pengurus sekaligus pengingat nilai-nilai spiritual yang dijunjung umat.
Bagi pengurus klenteng, ritual tahunan ini menjadi penanda bahwa lembaran baru akan segera dibuka.
Dengan altar yang kembali bersih dan patung-patung yang telah dimandikan serta dikenakan busana baru, mereka berharap dapat melayani umat dengan lebih baik di tahun yang akan datang.
BACA JUGA
