Juara NDC Balikpapan, Mahasiswa Unmul dan Pelajar SMA Samarinda Lolos ke Grand Final Nasional
BALIKPAPAN, Gerbangkaltim.com,– Latihan panjang di sela kuliah dan sekolah akhirnya berbuah manis. Mahasiswa Universitas Mulawarman dan pelajar SMA Negeri 3 Samarinda keluar sebagai juara iForte National Dance Competition (NDC) Regional Balikpapan yang berlangsung di Pentacity Mall Balikpapan, Minggu (1/2/2026). Kedua tim sekaligus memastikan langkah Kalimantan Timur melaju ke Grand Final nasional di Jakarta.
Kemenangan ini bukan hasil instan. Di balik penampilan di atas panggung, ada proses panjang yang dijalani para penari muda Kaltim—diskusi konsep sejak berbulan-bulan lalu, latihan fisik yang melelahkan, hingga disiplin membagi waktu antara kuliah, sekolah, dan latihan. Dari ruang latihan yang sepi, mereka membawa karya itu ke Balikpapan, lalu mengantarkannya ke panggung nasional.
Dari proses panjang itu, setiap tim membawa cerita yang berbeda. Sangkerta Universitas Mulawarman datang dengan kematangan konsep yang telah dirancang jauh hari, sementara Basabo Smaga SMA Negeri 3 Samarinda mengandalkan kekompakan dan semangat pelajar yang baru pertama kali mencicipi atmosfer kompetisi nasional. Dua latar yang berbeda, namun bertemu pada satu titik yang sama: tekad untuk tampil maksimal dan membawa identitas Kalimantan Timur ke panggung lebih besar.
Latihan Sunyi di Balik Sorak

Tim Sangkerta Universitas Mulawarman, juara iForte National Dance Competition (NDC) Regional Balikpapan tingkat Universitas bersama manajemen iForte, usai ditetapkan juara dan melaju ke babak final di Jakarta. (Foto: gerbangkaltim.com/tri)
Sorak penonton di Pentacity Mall Balikpapan hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi para penari muda Kalimantan Timur, perjalanan menuju panggung itu memakan waktu berbulan-bulan. Di ruang latihan yang sunyi, jauh dari lampu sorot, mereka membangun karya lewat diskusi panjang, pengulangan gerak tanpa henti, dan disiplin waktu yang menguras tenaga—hingga akhirnya siap diuji di hadapan juri nasional.
Dari ruang latihan sunyi itulah, Sangkerta Universitas Mulawarman memulai langkahnya. Berbeda dengan banyak tim yang baru merangkai konsep menjelang lomba, kelompok ini justru telah membangun gagasan sejak jauh hari. Diskusi, riset gerak, hingga perumusan pesan budaya dilakukan berbulan-bulan sebelum latihan intens dimulai—membuat mereka datang ke Balikpapan bukan sekadar untuk tampil, tetapi untuk menyampaikan karya yang sudah matang.
Bagi Sangkerta Universitas Mulawarman, kemenangan di Balikpapan adalah hasil dari proses yang sengaja diperlambat. Sejak tahun lalu, mereka memilih tidak terburu-buru mengejar lomba, melainkan mematangkan gagasan—mulai dari konsep koreografi, pemilihan kostum, hingga pesan budaya yang ingin disampaikan. Ketika masa latihan intens tiba, mereka tidak lagi mencari arah, melainkan menguatkan detail dan rasa.
“Kami sudah berdiskusi sejak tahun lalu. Saat latihan dimulai, konsepnya sudah matang,” ujar Rion, perwakilan Sangkerta Universitas Mulawarman.
Pendekatan inilah yang membuat penampilan Sangkerta terasa utuh di panggung Balikpapan. Bukan sekadar rangkaian gerak, tetapi cerita yang dibangun perlahan dan dipertanggungjawabkan—sebuah karya yang lahir dari kesabaran, bukan kebetulan.
Energi Pelajar Tim Basabo Smaga Samarinda
Jika Sangkerta Universitas Mulawarman datang dengan kematangan konsep yang dibangun bertahun-tahun, cerita berbeda hadir dari panggung yang sama. Basabo Smaga SMA Negeri 3 Samarinda membawa energi pelajar yang masih harus membagi diri antara bangku sekolah dan ruang latihan. Dengan waktu yang jauh lebih terbatas, mereka mengandalkan kekompakan, disiplin, dan keberanian untuk mencoba—menjadikan setiap latihan sebagai perjuangan kecil yang perlahan membentuk kepercayaan diri di atas panggung.
Bagi Basabo Smaga SMA Negeri 3 Samarinda, kemenangan di Balikpapan lahir dari perjuangan yang lekat dengan keseharian pelajar. Di sela jadwal sekolah, tugas, dan ujian, mereka mencuri waktu untuk berlatih—sering kali dengan tubuh yang sudah lelah. Tidak ada kemewahan waktu panjang, yang ada hanya komitmen untuk tetap hadir di ruang latihan dan saling menguatkan saat rasa jenuh datang.
“Tantangan terbesar kami adalah membagi waktu antara sekolah dan latihan. Tapi kami saling menguatkan,” ujar Nindya Nur Aifa, perwakilan Basabo Smaga.
Pengalaman tampil di kurasi offline Balikpapan juga menjadi momen penting bagi mereka. Untuk pertama kalinya, Basabo Smaga merasakan atmosfer kompetisi nasional yang ketat—dan dari panggung itu, mereka belajar percaya bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk tampil sejajar dengan yang terbaik.
Juri: Kualitas Peserta Sudah Lewat Standar Lokal
Bagi para juri nasional, apa yang mereka saksikan di Balikpapan jauh lebih besar dari sekadar lomba. Di hadapan mereka berdiri generasi muda yang menari bukan hanya dengan teknik, tetapi dengan hati, proses panjang, dan mimpi tentang masa depan seni Indonesia.
Choreographer dan Founder Atmataya Dance Art, Rano Tri Julianto, menyebut para peserta sejatinya sudah menjadi pemenang.
“Kalian itu pemenang. Dari mental kalian sudah juara. Teruslah menari dari hati, seikhlas-ikhlasnya. Jadikan seni sebagai ibadah, bukan sekadar kompetisi,” ujarnya.
Briza Meidina Syakirah, Putri Tari Advokasi Indonesia 2023, mengaku terharu menyaksikan para penari muda tampil di panggung.
“Tari bukan sekadar seni, tapi identitas—identitas budaya, daerah, bahkan identitas diri,” katanya.
Sementara itu, Pulung Jati, Founder Pulung Dance Studio, menyebut panggung Balikpapan sebagai awal perjalanan yang lebih panjang.
“Ini bukan panggung terakhir kalian. Ini panggung batu loncatan,” ujarnya.
Menuju Jakarta, Membawa Nama Kalimantan Timur
Ajang iForte National Dance Competition (NDC) “Inspirasi Diri” Regional Balikpapan digelar di Pentacity Mall Balikpapan, Minggu (1/2/2026). Kompetisi ini diikuti 44 peserta dari berbagai daerah di Kalimantan, mulai dari Balikpapan, Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Banjarmasin, Palangkaraya, Sambas hingga Pontianak.
Setelah melalui proses kurasi, 18 grup semifinalis terpilih—terdiri dari 11 grup SMA/SMK dan 7 grup perguruan tinggi—menampilkan dua koreografi: tarian wajib dengan lagu “Inspirasi Diri” dan tarian bebas dengan kreasi masing-masing.Sangkerta Universitas Mulawarman dan Basabo Smaga SMA Negeri 3 Samarinda akan mewakili Kalimantan Timur di Grand Final iForte National Dance Competition yang digelar di Jakarta, April 2026.
Di tingkat nasional, mereka akan bersaing dengan perwakilan dari 12 regional se-Indonesia, memperebutkan gelar juara nasional, beasiswa pendidikan, dan penghargaan bergengsi. NDC “Inspirasi Diri” 2025–2026 telah menjaring 710 pendaftar dari 227 kota/kabupaten di Indonesia. Ajang ini membuka ruang berkelanjutan bagi generasi muda untuk berkarya, berkolaborasi, dan menjaga kesinambungan seni budaya.
Daftar Juara Regional Balikpapan
Kategori SMA/SMK
- Juara I: Basabo Smaga – SMA Negeri 3 Samarinda
- Juara II: Borneo Crew Smakla – SMK Negeri 5 Samarinda
- Juara III: Donbosco Crew – SMA Frater Don Bosco Banjarmasin
Kategori Perguruan Tinggi
- Juara I: Sangkerta Mulawarman – Universitas Mulawarman
- Juara II: Bayu Sakti – Universitas Tanjungpura
- Juara III: Sawung Batarung – Universitas Palangka Raya

Tim Sangkerta Mulawarman tampil kompak dengan tarian bebas tentang masuknya agama Islam di bumi Kutai pertama kalinya.(foto: gerbangkaltim/tri)
Dari Balikpapan, perjalanan ini belum selesai. Sangkerta Universitas Mulawarman dan Basabo Smaga SMA Negeri 3 Samarinda kini bersiap melangkah ke Jakarta, membawa bukan hanya koreografi, tetapi cerita tentang disiplin, kebersamaan, dan kecintaan pada budaya. Di panggung nasional nanti, mereka membawa pesan sederhana namun kuat: anak-anak daerah Kalimantan Timur mampu berdiri sejajar, dengan proses panjang dan hati yang jujur sebagai kekuatannya.
Head of Marketing Communication iForte, Victor Sihombing, menilai kualitas peserta NDC tahun ini sangat merata. Hingga saat ini, sudah lima kota yang melahirkan para juara regional, termasuk Balikpapan, dan Semarang akan menjadi kota berikutnya dalam rangkaian kompetisi menuju final nasional April 2026.
“Kreativitas koreografi mereka sudah melebihi standar profesional. Ini menunjukkan persiapan yang serius,” ujar Victor.
Menurut Victor, setiap daerah membawa keunikan masing-masing. Dengan waktu persiapan menuju Grand Final yang masih terbuka, seluruh juara regional masih memiliki peluang yang sama untuk meningkatkan kualitas.
“Sampai sekarang belum bisa ditebak siapa yang paling unggul. Semua punya potensi,” tutup Victor, didampingi Arfan Sani selaku Head of Sales Area Kalimantan iForte dan Rachmat Ferdiansyah, GM of Sales iForte.***
BACA JUGA
