Pemkot
Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan, Heria Prisni

Kenaikan Harga Cabai Akibat Petani Banyak Gagal Panen

Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan sebutkan kenaikan harga cabai dalam beberapa pekan lalu akibat banyaknya petani cabai yang gagal panen akibat cuaca buruk, sehingga membuat persediaan di pasaran menjadi berkurang.

Kepala Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan (DP3) Kota Balikpapan, Heria Prisni mengatakan, kenaikan harga cabai dalam beberapa pekan lalu akibat cuaca yang buruk yang mengakibatkan banyaknya petani cabai gagal panen, sehingga berkurangnya pasokan cabai dimana produksi mengalami penurunan hingga 50 persen.

“Pengaruh cuaca ya, karena dari april musim hujan jadi pertumbuhan cabai terhambat, yang biasanya 1 hektar untuk hasilkan 1 ton sekarang tidak sampai,” ujarnya, (21 /7/2022).

Heria menambahkan, untuk saat ini harga cabai di pasar tradisional yang ada di Kota Balikpapan masih berada dikisaran Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu per kilonya.

“Ini karena menurunnya produksi cabai, sedangkan biaya produksinya yang tinggi, sehingga supaya keuntungannya tetap tercapai otomatis harganya disesuaikan dengan harga biaya produksi mereka,” paparnya.

Harapannya dalam dua bulan ke depan, katanya, pasokan dan produksi cabai bisa kembali dengan normal, sehingga harga juga bisa turun dan kembali semula.

“Mudahan saja dua bulan ke depan cabai yang sudah ditanam ini berbuah bagus, sehingga pasokan dan produksi cabai kembali normal,” ungkapnya.

Selain cabai, Heria juga menanggapi pertumbuhan tomat yang terganggu karena adanya cuaca buruk.Termasuk juga produksi bawang yang alami penurunan, lagi-lagi akibat cuaca buruk.

“Di sentra bawang merah daerah Enrekang Sulawesi Selatan kemarin banjir, tapi bawang memang bukan lokal ya,” katanya.

Dikatakannya, harga di pasar saat ini masih dibilang wajar jika petani mengambil keuntungan sampai 10 persen.

“Masih kita monitor, masih sepanjang wajar kalau dari petani Rp 90 ribu dipasar Rp 100 ribu, karena kan mereka menyesuaikan harga biaya produksi,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *