Lapas Banjarmasin Gandeng DKP3, Siapkan Warga Binaan Lebih Mandiri Lewat Pertanian dan Perikanan

Lapas Banjarmasin
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah melakukan bersama jajarannya dengan DKP3 Kota Banjarmasin perkuat pembinaan kemandirian diarahkan pada sektor pertanian dan perikanan, Selasa (27/1/2026).

Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Upaya membekali warga binaan dengan keterampilan hidup terus diperkuat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin. Kali ini, pembinaan kemandirian diarahkan pada sektor pertanian dan perikanan melalui sinergi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah bersama jajarannya dengan DKP3 Kota Banjarmasin, Selasa (27/1/2026).

Pertemuan itu menjadi ruang diskusi untuk mengembangkan program pembinaan yang berkelanjutan sekaligus adaptif dengan kondisi perkotaan.

Akhmad Herriansyah mengatakan, saat ini Lapas Banjarmasin membina lebih dari 1.700 warga binaan pemasyarakatan (WBP). Jumlah tersebut menuntut adanya program pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian, tetapi juga kemandirian ekonomi.

“Pembinaan kemandirian menjadi kebutuhan penting bagi warga binaan. Melalui pertanian dan perikanan, mereka tidak hanya belajar bekerja, tetapi juga dilatih membangun karakter, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab sebagai bekal setelah kembali ke masyarakat,” ujar Akhmad.

Ia menambahkan, program tersebut juga berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan di dalam lapas, sehingga menciptakan sistem pembinaan yang saling mendukung.

Dalam pertemuan tersebut, rombongan Lapas Banjarmasin yang didampingi Kepala Seksi Kegiatan Kerja Bagus Paras Etika dan Kasubsi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Obi Noverianda diterima oleh Kepala Bidang Perikanan DKP3 Kota Banjarmasin, Sulaiman Thalib.

Sulaiman menilai sektor perikanan memiliki potensi besar untuk dikembangkan di lingkungan lapas, tidak hanya dari sisi budidaya, tetapi juga pengolahan hasil yang bernilai tambah.

“Produk olahan seperti abon ikan dan amplang memiliki peluang ekonomi yang baik. Meski bantuan fisik terbatas, kami siap memberikan pendampingan teknis, penyuluhan, termasuk pemanfaatan pakan alternatif,” kata Sulaiman.

Ia juga menyoroti peluang pengembangan pertanian di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Menurutnya, inovasi menjadi kunci agar pembinaan tetap berjalan optimal.

“Pertanian bisa dilakukan dengan polybag, hidroponik, atau media tanam yang tahan terhadap kondisi pasang air. Ini bisa disesuaikan dengan lingkungan lapas,” ujarnya.

Sementara itu, Bagus Paras Etika menjelaskan bahwa Lapas Banjarmasin sejauh ini telah menjalankan beragam program kemandirian, mulai dari pertanian, perikanan, hingga usaha mikro seperti kerajinan sasirangan dan produk olahan warga binaan.

“Kami sudah berjalan, tetapi masih membutuhkan pendampingan teknis, terutama dalam budidaya, pengelolaan air pasang, pakan, hingga pemasaran hasil produksi,” kata Bagus.

Pertemuan tersebut ditutup dengan kesepakatan untuk melanjutkan koordinasi dan sinergi. Ke depan, kedua pihak berencana melakukan peninjauan lapangan hingga panen bersama sebagai bagian dari penguatan pembinaan kemandirian warga binaan yang berkelanjutan.

Tinggalkan Komentar