Menata Hati di Bulan Sya’ban, Kajian Spiritual Kemenag Banjarmasin Hangatkan Masjid Baabut Taqwa
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com — Suasana Masjid Baabut Taqwa, terasa lebih tenang dari biasanya. Lantunan ayat suci dan nasihat keagamaan mengalir pelan, menyatu dengan semangat para jamaah yang duduk bersila, menyimak kajian tentang makna istighfar di bulan Sya’ban.
Kajian keagamaan yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) Kota Banjarmasin ini menjadi ruang refleksi spiritual, khususnya bagi warga binaan Lapas Kelas IIA Banjarmasin. Bulan Sya’ban dipilih sebagai momentum untuk membersihkan batin, menata niat, dan mempersiapkan diri menyambut Ramadan.
Dalam tausyiahnya, Ustadz Rahmana mengajak jamaah memaknai istighfar lebih luas, tidak hanya sebagai permohonan ampun personal, tetapi juga doa kolektif bagi seluruh kaum muslimin.
“Ketika istighfar diniatkan bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh kaum muslimin, maka pahala yang Allah berikan akan sebanyak orang yang kita doakan,” ujar Ustadz Rahmana, Selasa (20/1/2026).
Ia menekankan, amalan sederhana seperti istighfar memiliki kekuatan besar dalam menumbuhkan keikhlasan, empati, dan ketenangan hati. Menurutnya, Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk melatih kepekaan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan.
Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, menilai kegiatan keagamaan semacam ini memiliki peran penting dalam proses pembinaan warga binaan. Ia menyebut, pembinaan spiritual merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter yang lebih baik.
“Kami percaya bahwa perubahan perilaku tidak hanya dibangun melalui aturan dan pembinaan fisik, tetapi juga lewat penguatan spiritual. Kajian seperti ini memberikan ketenangan batin dan menjadi bekal penting bagi warga binaan, baik selama menjalani masa pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat,” kata Akhmad.
Menurut Akhmad, kegiatan keagamaan rutin juga menjadi sarana menumbuhkan harapan dan rasa percaya diri bagi warga binaan, bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Antusiasme terlihat jelas dari para peserta kajian. AR, salah satu warga binaan, mengaku merasakan dampak positif dari kegiatan tersebut.
“Kajiannya menenangkan. Saya jadi lebih banyak merenung dan termotivasi untuk memperbaiki diri. Apalagi menjelang Ramadan, rasanya ingin lebih dekat dengan Allah,” ujarnya pelan.
Di Masjid Baabut Taqwa pagi itu, istighfar tidak sekadar dilafalkan. Ia menjadi ikhtiar sunyi upaya menata hati, memulihkan harapan, dan meneguhkan langkah menuju perubahan.
Sebuah pengingat bahwa pembinaan bukan hanya soal menjalani hukuman, tetapi juga tentang menemukan kembali makna hidup.
BACA JUGA
