Menjaga Keselamatan dan Keamanan Jurnalis Dari Ancaman Fisik Hingga Digital

Samarinda, Gerbangkaltim.com – Keselamatan dan keamanan jurnalis di lapangan, belum sepenuhnya terjamin. Mitigasi ketika jurnalis bertugas pun diperlukan. Maka dari itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Samarinda mengadakan pelatihan keselamatan dan keamanan bagi 20 jurnalis dari berbagai kota di Kaltim. Mulai dari Bontang, Samarinda, Kutai Kartanegara, hingga Balikpapan.

Selama tiga hari, 20 jurnalis belajar bagaimana mereka bisa bekerja dengan aman dan selamat. Materi soal itu disampaikan Budi Nurgianto dari AJI Ternate dan Komi Kendy dari AJI Bengkulu. Materi disampaikan tidak hanya keamanan dan keselamatan secara fisik. Tetapi juga secara digital. Termasuk, risiko kekerasan atau pelecehan seksual.

Risiko keselamatan dan keamanan jurnalis umumnya terancam ketika mereka meliput bencana atau konflik. Ada berbagai persiapan khusus, apalagi di Kaltim risiko bencana masih ada. Mulai dari banjir, longsor, hingga kebakaran.

“Penting sekali, terus berkoordinasi dengan rekan kerja atau kantor ketika kita ke lapangan saat bencana atau konflik,” kata Budi.

Di sisi lain, konflik sosial juga berisiko masih terjadi. Memastikan, diri aman ketika ada konflik juga keharusan. Termasuk, jurnalis perempuan yang rentan pelecehan.

“Risiko itu ada, baik dari narasumber, atau rekan kita sendiri,” sebut Komi.

Dia pun berbagi kiat, misalnya jangan sungkan menegur jika merasa tidak aman, atau berkomunikasi dengan perusahaan ketika merasa tidak nyaman atau mendapat pelecehan dari narasumber. Namun, memang dia juga mengakui bahwa tidak mudah untuk mengungkapkan hal tersebut. Tetapi, hal ini sebuah hal yang patut dicoba.

Di sisi lain, keamanan digital juga diajarkan. Sebab, pada era serbadigital saat ini, upaya peretasan dan pencurian data, mudah terjadi. Peserta pun diajak mengecek berapa kali data mereka bocor dan seberapa aman kata sandi mereka. Tak sedikit peserta yang keheranan ternyata data mereka sudah bocor beberapa kali, setelah mendownload beberapa aplikasi.

“Kaget saya bang, saya kira aman saja,” kata Nina, salah satu peserta dari Samarinda.

Ketua AJI Samarinda Nofiyatul C pun menyebut, pelatihan keamanan bagi jurnalis di Samarinda dan sekitarnya ini penting. Sebab, beberapa kasus kekerasan dan intimidasi terhadap jurnalis masih terjadi di Samarinda.

“Seperti kasus intimidasi terhadap 5 jurnalis di Samarinda tahun lalu. Padahal, rekan-rekan sudah bekerja sesuai aturan,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: