Peringatan Isra Miraj di Balikpapan, Ustadz Sarbini Ajak Umat Islam Berdialog dengan Sains
Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah /Tahun 2026 Masehi yang digelar di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, menjadi ruang refleksi keagamaan yang berbeda dari biasanya. Tidak hanya menekankan aspek spiritual, kegiatan ini juga mengajak jamaah melihat peristiwa Isra Miraj dari perspektif sains dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Posko Bantuan Hukum (Posbakum) Lawindo Balikpapan dengan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Balikpapan. Acara dihadiri jajaran pengurus NU, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, serta ratusan anggota Fatayat NU.
Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan KH Muslih Umar, S.Pd.I, Ketua Fatayat NU Kota Balikpapan Heni Elsafitri, Ketua Pelaksana Oki M. Alfiansyah, SH, MH, MED, CPCLE, CRIP, serta sejumlah tokoh masyarakat seperti Hj Kasriah dan Hj Arita Rizal Effendi.
Ustadz H. Sarbini, SH, MH, PLA, CCL, CLA, menyampaikan kajian Isra Miraj dengan pendekatan yang memadukan iman, Al-Qur’an, dan sains modern. Ia menekankan bahwa Isra Miraj bukan hanya ujian keimanan, tetapi juga mengandung isyarat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Isra Miraj memang peristiwa iman, tetapi di dalamnya juga terdapat isyarah atau pertanda. Salah satunya adalah bahwa pada suatu zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi akan berkembang sangat pesat, dan sains justru akan menguatkan kebenaran peristiwa itu,” ujarnya, ditemui usai memberikan ceramah di hadapan ratusan jemaah Fatayat NU Balikpapan, di Aula Rumjab Wakil Wali Kota Balikpapan, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dapat dipahami secara ilmiah melalui teori relativitas waktu dan kecepatan cahaya.
Sarbini merujuk pada pemikiran para ilmuwan modern, termasuk teori Albert Einstein, serta pandangan Prof. Dr. Agus Purwanto yang menafsirkan Isra Miraj dalam bingkai sains.
“Dalam kajian sains, Rasulullah SAW dipersiapkan melalui proses rekonstruksi tubuh dari materi menjadi energi. Ini yang memungkinkan perjalanan luar biasa tersebut terjadi dalam waktu yang sangat singkat, bahkan tempat tidur beliau belum dingin,” kata Sarbini.
Menurut dia, konsep relativitas waktu, teori Big Bang, hingga gagasan tentang “pelipatan alam semesta” telah lebih dulu diisyaratkan dalam Al-Qur’an sejak 14 abad lalu, jauh sebelum sains modern menemukannya.
“Al-Qur’an menyebut bahwa langit dan bumi dahulu menyatu, lalu dipisahkan. Ini sejalan dengan teori Big Bang. Semua ini seharusnya menambah iman kita, bukan malah menjauhkan kita dari agama,” ujarnya.
Sarbini menambahkan, pendekatan sains dalam ceramah keagamaan penting untuk membangun cara berpikir umat Islam yang dinamis dan terbuka, tanpa meninggalkan nilai-nilai keimanan. Ia berharap umat Islam mampu memosisikan diri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta, dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial.
“Ketika iman bertambah, akhlak juga akan menguat. Dari sinilah lahir kepedulian sosial, keberpihakan pada yang lemah, dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua TP PKK Kota Balikpapan yang juga istri Wakil Wali Kota Balikpapan, Siti Khadijah, menegaskan bahwa peristiwa Isra Miraj menjadi fondasi utama pembentukan akhlak, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial umat Islam melalui perintah shalat.
Nilai-nilai tersebut, menurut
dia, sangat relevan dengan upaya memperkuat ketahanan keluarga, melindungi perempuan dan anak, serta membangun masyarakat yang berkeadilan dan beradab.
Ia juga menyoroti peran Lawindo sebagai organisasi profesi hukum yang tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga mitra masyarakat dalam edukasi dan literasi hukum, khususnya bagi perempuan dan anak.
“Sinergi lintas elemen, termasuk organisasi keagamaan dan profesi, sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, aman, dan sejahtera,” ujarnya.
Peringatan Isra Miraj tahun ini juga bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-129 Kota Balikpapan. Momentum tersebut menguatkan komitmen Balikpapan sebagai Mahdinatul Iman, kota yang tumbuh modern namun tetap menjunjung nilai keimanan, toleransi, dan keadilan sosial.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak memperkuat nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari, menjaga persatuan dan kerukunan umat beragama, serta mendukung pembangunan kota dengan semangat gotong royong.
“Semoga Balikpapan senantiasa diberi perlindungan, kemajuan, dan kesejahteraan, serta mampu mewujudkan cita-cita sebagai kota global dalam bingkai Mahdinatul Iman,” tutup Siti Khadijah.
BACA JUGA
