cindera mata
Kasubbid Penmas Humas Polda Kaltim AKBP Yustiadi mewakili Kabid Humas Polda Kaltim, menyerahkan cinderamata kepada Direktur Poltekba Ramli, S.E., M.M,. (foto: humas Polda Kaltim)

Polda Kaltim-Poltekba Gelar Sosialisasi Bijak Bermedia Sosial: Jaga Etika, Hindari Menyinggung SARA

Balikpapan, Gerbangkaltim.com,– Bidhumas Kepolisian Daerah (Polda) Kaltim bersama Politeknik Negeri Balikpapan (Poltekba) menggelar sosialisasi bertajuk: Bijak Bermedia Sosial, dengan sub tema: Peran Komunitas dalam Menanggulangi Hoax” yang diadakan di Gedung Direktorat Lantai 3 Jl. Soekarno-Hatta KM 8 Balikpapan, Selasa, 22 Februari 2022.

Kegiatan ini dihadiri puluhan mahasiswa yang mengikuti secara langsung dan sekitar 150 mahasiswa lainnya mengikuti secara online. Hadir pula Kasubbid Penmas Humas Polda Kaltim AKBP Yustiadi mewakili Kabid Humas Polda Kaltim, dan  Direktur Poltekba Ramli, S.E., M.M, serta beberapa dosen.

Kasubbid Penmas Humas Polda Kaltim AKBP Yustiadi pada awal kegiatan mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu program Kapolri yakni penguatan sistem komunikasi publik. Mengingat saat ini ada dua fenomena dunia yang berpengaruh yakni demokrasi ditandai dengan penguatan media dan globalisasi.

Yustiadi
Kasubbid Penmas Humas Polda Kaltim AKBP Yustiadi .

”Kepercayaan publik sangat penting di suatu institusi. Untuk itu, Polri wajib meningkatkan layanan publik itu dan meningkatkan profesionalisme,“ ujarnya.

Media sosial, kata dia menjadi wahana untuk mewarnai ruang publik. Kendati demikian, media sosial harus digunakan dengan bijak. Polri mengajak mahasiswa Poltekba agar bijak dalam bermedia sosial serta produktif dalam penggunaannya.

”Kami berharap dengan sosialisasi ini dapat memberikan gambaran dan edukasi kepada rekan mahasiswa agar bijak menggunakan media sosial. Tidak melanggar rambu-rambu dan peraturan berlaku,” kata Yustiadi sembari menambahkan melalui media sosial juga dapat meningkatkan hubungan baik antara Polri dan Poltekba.

Sementara itu, Direktur Poltekba Ramli, S.E., M.M. pada kesempatan itu mengatakan media sosial memang sangat bermanfaat bagi kia semua. Materi pendidikan pun bisa diambil dari media sosial. Kadang dicampur oleh semua pengajar.Untuk memperkaya ilmu mahasiswa juga ditopang oleh media.

“Namun kadang kita lupa diri, sering terjebak situasi yang tidak terarah. Bahkan digiring ke hal-hal yang tidak beretika,” katanya.

Direktur Poltek Balikpapan kepada mahaiswa untuk berhati-hati mengambil media. Ambillah media yang mendukung dan memperkaya pengetahuan kita semua. Di samping itu, dalam bermedia sosial jangan asal posting konten. Pilih dan pilah yang mendukung pengetahuan kita.

“Tidak perlu mencantumkan detal diri pribadi. Jangan sampai dimanfaatkan orang lain yang terlalu berlebihan. Protek diri sendiri, agar tidak digunakan sesuatu yang negatif oleh orang lain,” katanya.

mahasiswa
Peserta sosialisasi.

Jaga etika, hindari kata-kata menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Bercanda boleh, tetapi jangan terlalu. Nanti bisa digunakan oleh orang lain untjuk memukul diri kita. Untuk itu selalu waspada. Calon intelektual harus bisa menyaring hal-hal positif.

“Anda calon-calon pemimpin masa depan. Saya kira Anda bisa menyaring apa yang baik dan tidak. Akun-akun apa yang bermanfaat. Yang positif-positif saja. Yang mendukung pembelajaran di kampus,” pesannya.

Dia juga mengingatkan, agar mahasiswa jangan tergiring ke hal-hal yang tidak diinginkan. Sayang sekali jika nanti membuat sesuatu, tetapi tidak beretika. Sehingga, ini dijadikan delik orang, dan bisa merugikan diri sendiri maupun institusi.

“Kalian harus beretika dalam bermedia sosial. Ini kepentingan anda, kepentingan institusi,” tutupnya.

Pengendalian Pikiran untuk Menangkal Hoax

aris
Aris Darmawan, pemateri.

Sementara itu, Aris Darmawan selaku pemateri dalam sosialisasi itu mengatakan sudah banyak tips atau cara-cara untuk menangkal berita hoax. Namun yang utama agar kita tidak terseret dalam penyebaran berita hoax yakni pengendalian pikiran.

“Jadi suasana emosi kita ketika sedang bermedia sosial, akan terbawa juga. Filternya ada pada diri sendiri,” kata Aris kepada para peserta sosialisasi.

Menurut Aris, bijak secara universal itu bermacam-macam. Dalam diri ada suara hati. Dalam pikiran ada akal sehat. Dalam agama ada ahlak. Dalam perilaku sosial ada etika.

“Dan dalam hukum ada undang-undang,” kata Aris dalam paparannya yang diselingi pemutaran video-video tentang bijak bermedia sosial.

Dalam dialog dan tanya jawab dengan peserta sosialisasi, dua duta Humas Polda Kaltim, Farra dan Dea sempat membagikan pengalamannya dalam bermedia sosial.

duta humas
Duta Humas Polda Kaltim sedang memberikan pertanyaan.

Menurut Fara, emosi kita bisa menumpangi kita dalam bermedia sosial. Untuk itu kita harus beretika, lebih bijaksana. Orang lain menilai dan mengetahui kita dari yang kita posting di akun media sosial.

“Menggunakan media sosial itu bagus sekali. Terutama untuk yang berkarya. Kita bisa memposting kegiatan-kegiatan positif. Seperti saat saya jadi juri, mengisi materi acara,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Dea yang mengatakan agar terhindar dari hoax yang beredar. Namanya di media sosial, tentu beragam informasinya. Tetapi kita tidak asal langsung terima. Seperti dengan 5W1H (What-apa, Who-siapa, When-kapan, Why-mengapa, Where-dimana, dan How-bagaimana)

“Betul gak beritanya. Apa sih berita. Siapa sih yang nge-share. Bisa bertangung jawab yang ngeser. Bisa dipertanggungjawabkan apa tidak beritanya. Baru kalau baik bisa kita share,” katanya.

Dia menceritakan pengalamannya ketika  mendapat berita melalui grup WA keluarga. Berita itu dishare oleh sang ibu.

“Dulu mamaku dapat dari grup WA keluarga. Langsung di share ke aku. Jadi harus  di crosscheck lagi isinya. Kalau kita tidak yakin, kita tanya yang ahlinya. Misalnya soal covid-19 tanya ke dokter,” jelasnya.

tanya
Penanya mendapat vouncer dari Telkomsel.

Sementara itu, Adel, mahasiswi semester 2 menceritakan pengalaman memakai media sosial WA untuk berkomunikasi, sedangkan Instagram untuk informasi. Dia sejak SMA sudah usaha online, dan menggunakan media sosial untuk mencari informasi dan membeli barang.

“Saya mencari-cari barang di medsos. Ada banyak yang menawarkan barang kualitas tinggi, tetapi harga murah. Setelah komunikasi dan setuju, saya mentransfer 200 ribu untuk 5 barang,” ceritanya.

Sesuai pesan penjual barang akan dikirim 2-3 hari kemudian. Setelah ditunggu dan tiba waktunya, ternyata barang tidak kunjung datang. Akun instagram penjual pun sudah tidak bisa dihubungi.

“Saya baru sadar kalau saya ditipu. Ternyata akun Instagram itu, akun hoax,” katanya dan sejak itu selalu hati-hati dalam mencari penjual barang di medsos.

Lain lagi dengan pengalaman Okta salah satu mahasiswa Poltek Balikpapan menceritakan ketika masih mahasiswa baru. Saat awal masuk kuliah, dompetnya tertinggal, entah dimana. Dia pun berinisiatif mengumumkan di historis instagramnya.

“Saya buat historis di instagram. Terus gak lama ada sms. Ada dua orang yang mengaku menemukan. Minta bayaran,” ceritanya.

Dia pun senang karena dompet sudah ada yang menemukan, tetapi juga bingung mencari uang untuk imbalan seperti yang diminta penemu.

“Ya udah, saya mau minjam ke teman. Dari teman ini dinasihati, kalau mau bantu, gak mungkin minta uang. Ternyata gak lama ada teman di FB yang menemukan dan tidak minta uang,” katanya.

Dari kasus-kasus itu, Aris mengatakan bahwa media sosial bisa bermata dua. Dia men-share sesuatu, dan ada yang mengklaim menemukan dan meminta imbalan.

“Minta imbalan itu apakah wajar atau tidak. Itu wajar. Yang tidak wajar, orang minta uang duluan. Itu yang diserang psikis kita. Penipuan,” katanya.

“ Kaitannya dengan hoax. Apakah itu benar atau tidak. Lakukan tahap crosscheck, untuk menghindari hoax,” tutupnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.