Turut Sebut Brigjen Hendra Kurniawan dan Kabareskrim Agus Andrianto, Ismail Bolong Akhirnya Minta Maaf Soal Setoran Tambang Rp6 Miliar

image_pdfimage_print

GerbangKaltim.com – Aiptu Ismail Bolong akhirnya mengakui tidak pernah melakukan penyerahan uang tambang sebanyak Rp6 miliar kepada Kabareskrim Brigjen Agus Andrianto.

Ismail mengaku video pengakuan penyerahan uang kepada Kabareskrim tersebut merupakan pihak-pihak tertentu khususnya terkait dengan Karo Paminal Mabes Polri Brigjen Hendra Kurniawan.

Dalam video yang tersebar luas, Ismail mengaku video tersebut persisnya terjadi pada Februari 2022 yang lalu ketika dirinya dihubungi Brigjen Hendra Kurniawan.

“Waktu itu saya didatangi perwira Mabes Polri ke Balikpapan, kemudian disodori testimoni terkait Kabareskrim,” ujarnya.

Ismail juga mengaku mendapat tekanan untuk membacakan testimoni tersebut dan diancam akan dibawa ke Mabes Polri jika tidak melakukannya.

“Saya diancam, makanya saya melakukan itu dan membaca testimoni yang diperintahkan perwira Mabes Polri tersebut,” ujarnya.

Ismail akhirnya mengakui minta maaf kepada Kabareskrim karena viralnya berita tersebut.

“Saya tidak kenal sama sekali dengan Kabareskrim dan tidak benar saya telah menyerahkan uang Rp6 miliar tersebut, saya meminta maaf kepada bapak Kabareskrim,” tandasnya.

Bahkan, karena menyadari posisinya di institusi kepolisian tidak sedang baik-baik saja, Ismail akhirnya memutuskan pensiun dini dari Polri.

“Bulan Juni 2022 akhirnya saya memutuskan pensiun dini, karena sadar kondisi di Polri sedang tidak baik untuk saya,” ujarnya.

Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso, menilai ada persaingan tidak sehat terselubung di antara anggota kepolisian yang menuntut Kapolri turun tangan segera.

“IPW mendesak Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo membentuk tim khusus kasus setoran uang perlindungan pertambangan ilegal pada oknum petinggi Polri terkait dua video tayangan pernyataan seorang bernama Aiptu (Purn) Ismail Bolong,” kata Sugeng dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta dilansir dari Antara, Senin 7 November 2022.

Menurut Sugeng, video pernyataan Ismail Bolong yang menyebutkan di antaranya telah memberikan dana Rp6 miliar pada Kabareskrim Polri Komjen Pol Agus Andrianto dalam kasus setoran pertambangan ilegal di Kalimantan Timur telah mencuat ke publik.

Kemudian muncul video Ismail Bolong yang meminta maaf dan mengaku tidak pernah bertemu Kabareskrim Komjen Pol Agus Andrianto.

IPW menilai, video tersebut diduga keras akibat adanya tekanan pihak tertentu.

Sebab, dengan adanya pembelaan diri Ismail Balong setelah munculnya video viral bahwa anggota polisi di Polresta Samarinda tersebut diduga memberikan uang langsung ke Kabareskrim dengan total Rp6 miliar memunculkan sinyalemen saling sandera antara para jenderal nyata terjadi.

Ia mengatakan pengakuan Ismail Bolong itu, oleh Divisi Propam Polri saat dipimpin Ferdy Sambo memang disimpan sebagai alat sandera. Hal ini menjadi nyata saat Ferdy Sambo dan kawan-kawannya “masuk jurang” dengan adanya kasus penembakan di Duren Tiga.

Sehingga, kata Sugeng, pengakuan terakhir Ismail Bolong sebagai serangan lanjutan dengan menyatakan dirinya saat itu ditekan oleh Karopaminal yang dulunya dijabat Brigjen Pol Hendra Kurniawan untuk mengakui soal uang setoran buat Kabareskrim Polri.

“Pembuatan videonya diakui dilakukan pada bulan Februari 2022,” kata Sugeng.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *