Sambang warga oleh personel di Polsek Babulu, PPU. (foto: Poldakaltim.com)

Mendewasakan Masyarakat Jelang Pemilu Melalui Sambang Warga

BEBERAPA pekan ini, makin gencar aparat kepolisian yang melakukan sambang warga. Sambang warga artinya, mendatangi warga di tempatnya sedang beraktivitas. Berdiaog santai, dengan obrolan-obrolan yang menyejukkan.

Seperti yang dilakukan jajaran aparat kepolisian di wilayah Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Dengan berpakaian dinas,  mereka menyapa warga yang sedang berativitas. Ada yang ke toko-toko,  bengkel motor hingga ada yang keluar masuk pasar, berdialog dengan para penjual maupun pembeli. Hal ini juga terlihat di berbagai daerah di wilayah Polda Kaltim.

Melihat kehadiran aparat di tengah-tengah masyarakat di satu sisi bisa memberikan rasa aman. Apallagi diselingi obrolan khas warga setempat, sehingga menimbulkan suasana cair. Agaknya kehadiran aparat ini juga tengah mengemban amanah mendinginkan situasi yang mungkin memanas saat pemilu.

“Peningkatakan kegiatan patroli Kewilayahan khususnya menjelang Pemilu ini diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman serta mencegah terjadinya gangguan kamtibmas”, tegas AKBP Sabil Umar melalui Kapolsek Babulu Iptu Alimuddin seperti yang dimuat Poldakaltim.com.

Sambang warga dengan bertatap langsung, merupakan cara yang sangat efektif kendati memerlukan personel yang banyak dan tidak mengenal waktu, siang maupun malam. Tetapi justru hal inilah yang memang menjadi andalan kekuatan Polri.  Personelnya dari perkotaan hingga ke desa-desa terpencil. Tugasnya siang, malam, tak kenal waktu yang dilakukan secara bergantian.

Ketika datang ke masyarakat, personel Polri tidak dicurigai dari kubu tertentu, dan masyarakat sudah mengetahuinya. Hal ini seperti yang tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor VII Tahun 2000 menyatakan bahwa :

Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, memberikan pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Disamping itu, dalam kehidupan politik, Polri dituntut untuk bersikap netral dan tidak boleh melibatkan diri dalam kegiatan politik praktis.

Sesuai dengan Ketetapan MPR RI tersebut, maupun berdasar pada Undang-undang RI Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilu, ditentukan bahwa Polri tidak menggunakan hak memilih dan dipilih. Oleh karena itu, keberadaan maupun peran dan fungsi Polri dalam Pemilu 2019 harus dapat diprioritaskan dan difokuskan untuk melakukan berbagai peran dan tugasnya sebagai Alat Negara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Binkamtibmas), Penegak Hukum (Aparat Gakkum) maupun Aparat Pengayom, Pelindung dan Pelayan Masyarakat.

Terkait dengan tantangan pemilu, maka sambang warga yang dilakukan personel kepolisian intinya mendinginkan suasana yang memanas. Salah satu tantangan yang dihadapi aparat dalam Pemilu 2019 adalah maraknya peredaran kabar hoaks, fitnah, ujaran kebencian, politik identitas serta SARA.

Apel gabungan kesiapan Pemilu di salah satu wilayah Polda Kaltim. (foto: poldakaltim.com)

Ketika membuka Apel Kesiapan Pemilu di Jakarta, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto  mengungkapkan konten negatif itu, sengaja dimainkan pihak tertentu untuk menyingkirkan lawan politiknya pada Pemilu 2019. Oleh karena itu, aparat keamanan dan elemen masyarakat wajib turut serta mendewasakan masyarakat dengan memerangi konten-konten negatif tersebut.

“Saudara-saudara harus mampu mendewasakan masyarakat dalam berdemokrasi sehingga tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu, berita bohong yang beredar dan menimbulkan keresahan,” kata Wiranto.

Mendewasakan masyarakat untuk memerangi isu-isu negatif,  menangkal berita bohong memang bukan hal yang bisa dilihat hasilnya dalam waktu seketika. Sambang warga secara terus-menerus dengan memberikan pemahaman yang benar, dharapkan dapat meminimalisir berita bohong di masyarakat.

Meminimalisir keresahan, dan kebingungan di tengah derasnya informasi. Semua informasi baik yang datang dari orang-orang tertentu, maupun melalui media tidaklah harus ditelan mentah-mentah. Harus ada pembanding. Harus ada, jeda untuk memikiran informasi yang diterima.

Bila informasi yang diterima dalam bentuk tulisan, bisa saja masyarakat atau yang membaca ada waktu untuk berpikir. Tetapi di sisi lain, apabila sudah berupa gambar apalagi video atau gambar bergerak, tentu kesempatan untuk mencerna informasi yang masuk makin kurang. Apa yang dilihat, didengar dan dibaca sekaligus dalam media berupa video itu, sudah memberikan semua yang diperlukan masyarakat sebagai penerima informasi.

Di sinilah letak bahayanya video atau gambar yang sudah direkayasa, atau dipenggal-penggal dan dirangkkai kembali menjadi informasi baru yang menyesatkan. Dan inilah yang banyak terjadi di media sosial. Parahnya lagi, ketika diacak tidak diketahui lagi dari mana sumber pertama media sosial yang menyebarkan. Sementara, informasi dalam bentuk video itu sudah tersebar luas melalui ruang-ruang atau grup-grup WA, FB dan youtube.

Ada rekan penulis yang tiba-tiba menyatakan puasa media sosial. Artinya menutup semua akun media sosialnya. Ada pula yang sekadar tidak mau membuka pertemanan baru. Sebab di saat menjelang pemilu ini, banyak sekali permintaan pertemanan baik yang darimana datangnya. Ketika di-add atau disetujui berteman, mulai mengalir informasi-informasi yang sangat menyudutkan salah satu pihak, dan memuji-muji kelompok lain.

Tidak banyak yang melek internet bisa melakukan puasa media sosial agar tidak terbanjiri dengan informasi sampah. Lantas bagaimana dengan masyarakat luas lainnya yang selama ini kurang bergaul dengan media sosial? Apanya yang harus puasa?

Sambang warga seperti yang dilakukan jajaran kepolisian agaknya yang masih bisa diandalkan sebagai upaya mendewasakan masyarakat terhadap informasi bohong atau hoaks, sekaligus mendinginkan suasana di tengah tensi politik yang bakal meninggi seiring mendekati hari “H” Pemilihan Umum.(tri widodo)*

*Penulis jurnalis tinggal di Balikpapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: