Pemkot
Tim Operasi Penertiban Penyandang Kesejahteraan Masyarakat Sosial (PMKS) berhasil menjaring 16 orang Penyandang Kesejahteraan Masyarakat Sosial (PMKS) berhasil terjaring operasi. Minggu (6/11/2022).

16 Orang Berhasil Dijaring Tim Penertiban PMKS

Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Pemkot Balikpapan melalui Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP) Kota Balikpapan terus menggencarkan operasi penertiban Penyandang Kesejahteraan Masyarakat Sosial (PMKS). Hasilnya, sebanyak 16 orang Penyandang Kesejahteraan Masyarakat Sosial (PMKS) berhasil terjaring operasi.

Operasi Penertiban ini dilakukan satuan khusus yang baru dibentuk awal November 2022. Tim tersebut dengan 21 personil, bertugas menangani PMK dan dibawah kordinasi Satpol PP.

Kabid Linmas Satpol PP Kota Balikpapan Rizki Farnovan mengatakan, operasi penertiban ini menyasar anak jalanan (anjal), gelandangan, pengemis, penjual tisu hingga badut yang kerap melakukan aksi di persimpangan jalanan dan lampu-lampu merah yang bisa menyebabkan kecelakaan lalu lintas dan menganggu keindahan kota.

“Kami bertugas berdasarkan surat tugasnya hingga akhir tahun tahun. Rata-rata yang kami amankan merupakan warga luar kota Balikpapan,” ujarnya, Minggu (6/11/2022).

Dalam operasi penertiban ini, katanya, ada sebanyak 16 PMKS yang berhasil diamankan dan akan dikenakan sanksi tindak pidana ringan (tipiring) kemudian diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos) setempat untuk dilakukan pembinaan agar tak mengulangi.

“Mereka yang terjaring akan kita kenakan sanksi tindak pidana ringan (tipiring) kemudian diserahkan ke Dinas Sosial (Dinsos),” tegasnya.

Rizki Farnovan menambahkan, selain itu PMKS yang terjaring yang bukan merupakan warga Kota Balikpapan akan di pulangkan ke kampung halamannya. Namun sayangnya, sebagian dari mereka justru kembali lagi dan melakukan aksi serupa.

“Jadi rata-rata mereka yang kami amankan merupakan warga luar Kota Balikpapan,” ucapnya.

Dikatakannya, mereka yang terjaring ini bukan hanya orang dewasa, melainkan juga banyak diantaranya anak-anak yang sengaja dibawa seperti dijadikan badut ataupun peminta-minta, bahkan tidak jarang dalam aksinya dilakukan dengan cara memaksa.

“Jadi mereka melawan juga saat ditangkap. Ada yang membawa senjata tajam saat dirazia,” paparnya.

Saat melakukan razia juga tidak mudah. Karena kerap bocor. Sehingga mereka lebih dulu menghindar.

“Jadi ketika petugas keluar, nanti ada yang memberi informasi kepada mereka,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *