Bermula dari Gerobak Burger Depan Rumah, CB Food Lirik Pasar Dunia

Endah Tri Hapsari
Pemilik Cerita Bahagia (CB) Food Endah Tri Hapsari bersama produk andalanya Amplang Fish Day dengan varian rasa original, sambal geprek, dan telor asin, serta sering berpartisipasi dalam pameran UMKM, dan sudah dikenal secara nasional. (Foto: Gerbangkaltim/Ist).

BALIKPAPAN, Gerbangkaltim.com – Di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat, tidak semua usaha kecil mampu bertahan dalam waktu lama. Perubahan tren konsumen yang berlangsung cepat, meningkatnya jumlah pelaku usaha, hingga tekanan ekonomi membuat banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus terus menyesuaikan diri agar tetap relevan di pasar. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan membaca peluang dan keberanian mengambil keputusan menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha.

Kondisi tersebut pula yang dialami CV Cerita Bahagia Food (CB Food), usaha kuliner asal Balikpapan, Kalimantan Timur, yang berkembang dari gerobak burger sederhana menjadi produsen oleh-oleh khas dengan produk unggulan amplang Fish Day. Perjalanan usaha yang dirintis oleh Endah Tri Hapsari itu menunjukkan bahwa usaha kecil dapat berkembang melalui ketekunan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan untuk terus belajar menghadapi perubahan.

Perjalanan CB Food dimulai pada 2015. Saat itu, Endah baru saja memutuskan berhenti bekerja dan memilih fokus mengurus anak di rumah. Ia mengaku tidak pernah memiliki cita-cita khusus untuk menjadi pengusaha. Keputusan memulai usaha justru muncul dari pengamatan sederhana terhadap lingkungan sekitar rumahnya di kawasan Korpri Balikpapan.

“Awalnya sebenarnya tidak ada cita-cita mau jadi wirausaha. Saya hanya ibu rumah tangga yang habis resign kerja dan fokus mengurus anak,” ujar Endah. Senin (4/5/2026).

Rumahnya Jl Abdi Praja 1B No 14 Korpri Balikpapan Selatan berada di jalur yang sering dilalui anak-anak sepulang les pada sore hari. Dari situ, Endah melihat peluang kecil untuk menjual makanan ringan yang mudah dijangkau warga sekitar. Dengan modal sederhana, ia mulai membuka gerobak burger di depan rumahnya.

Usaha tersebut awalnya dijalankan secara kecil-kecilan. Namun dari aktivitas itu, Endah mulai memahami bahwa usaha kuliner membutuhkan kreativitas dan kemampuan membaca selera konsumen. Ia mulai belajar menentukan harga, menjaga kualitas rasa, hingga mencari cara agar produknya memiliki ciri khas tersendiri dibanding usaha serupa.

Pada 2016 hingga 2017, usaha yang dirintisnya mulai dikenal masyarakat setelah menghadirkan menu “monster burger” yang sempat viral di media sosial, khususnya Facebook. Popularitas menu tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan CB Food.

“Waktu itu kami terus mencoba hal baru sampai akhirnya monster burger kami viral di Facebook,” katanya.

Cepat Beradaptasi dan Terus Berinovasi

Momentum tersebut membuat nama CB Food mulai dikenal lebih luas di Balikpapan. Dari situ, Endah mulai memahami pentingnya inovasi dalam bisnis makanan dan minuman. Menurutnya, konsumen di sektor kuliner cenderung cepat tertarik pada sesuatu yang baru sehingga pelaku usaha harus mampu menciptakan pembeda.

Popularitas monster burger juga memberi pengalaman baru bagi Endah dalam mengelola usaha yang mulai berkembang. Ia tidak lagi hanya memikirkan penjualan harian, tetapi mulai memperhatikan pengelolaan usaha secara lebih serius, termasuk pelayanan, promosi, dan pengembangan produk.

Seiring perkembangan usaha, Endah mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan UMKM. Pada 2018, ia mengikuti lomba cipta oleh-oleh dan berhasil meraih juara favorit. Pengalaman tersebut membuka pandangannya mengenai potensi produk lokal yang dapat dikembangkan lebih luas.

Sejak saat itu, ia mulai melengkapi legalitas usaha dan mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan. Ia juga aktif membangun jaringan dengan komunitas UMKM lain untuk memperluas wawasan mengenai pengembangan usaha.

Perjalanan CB Food kembali menghadapi tantangan besar ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Pembatasan aktivitas masyarakat menyebabkan bisnis kafe dan katering yang sebelumnya dijalankan mengalami penurunan cukup signifikan. Banyak kegiatan kantor, pertemuan, dan acara dibatalkan sehingga permintaan ikut menurun.

Bagi sebagian pelaku usaha, pandemi menjadi masa yang sangat berat. Tidak sedikit UMKM yang harus mengurangi produksi bahkan menghentikan usaha karena perubahan kondisi pasar yang begitu cepat. Namun bagi Endah, situasi tersebut justru menjadi momentum untuk mencari arah baru.

Ia menyadari kebutuhan masyarakat saat pandemi berubah. Aktivitas yang lebih banyak dilakukan di rumah membuat masyarakat membutuhkan makanan yang praktis, tahan lama, dan mudah disajikan. Dari pengamatan tersebut, Endah memutuskan mengembangkan frozen food dan berbagai makanan ringan.

“Kami harus cepat menyesuaikan diri. Saat orang lebih banyak di rumah, kebutuhan mereka juga berubah,” jelasnya.

Selain menjual frozen food, Endah juga menghadirkan berbagai produk makanan ringan seperti sempol dan tahu bakso. Produk-produk tersebut cukup diminati karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masa pandemi.

Dari proses penyesuaian itulah lahir pengembangan produk amplang Fish Day yang mengusung tagline “Pelopor Amplang Rasa Nusantara” dengan menggunakan ikan tengiri asli dan kemudian menjadi identitas utama CB Food hingga saat ini. Endah melihat amplang memiliki potensi besar karena merupakan makanan khas daerah yang cukup dikenal masyarakat Kalimantan Timur.

Namun ia tidak ingin hanya menjual amplang biasa seperti yang sudah banyak beredar di pasaran. Untuk membedakan produknya, Endah mulai mengembangkan berbagai varian rasa seperti original, sambal geprek, telur asin, dan pedas daun jeruk.

BI

Amplang Fish Day dengan warna mencolok misalnya untuk telur asin warna biru, pedas daun jeruk hijau, sambal geprek merah. (Ist).

Menurutnya, pembaruan produk menjadi salah satu cara penting agar usaha tetap menarik di tengah persaingan industri kuliner yang semakin padat.

“Kalau di makanan dan minuman, konsumen cepat bosan. Jadi kita harus terus mencari sesuatu yang berbeda,” ujarnya.

Tidak hanya dari sisi rasa, CB Food juga mulai memperhatikan tampilan kemasan produk. Kemasan dibuat lebih modern dan berwarna agar terlihat menarik sekaligus memberi identitas yang kuat pada produk.

Strategi tersebut membuat amplang Fish Day memiliki karakter berbeda dibanding produk serupa di pasaran. Produk ini kemudian diposisikan sebagai amplang premium yang menyasar kebutuhan souvenir korporat, hotel, dan pasar oleh-oleh khas daerah.

Pendekatan tersebut memberi dampak positif terhadap perkembangan usaha. Produk amplang Fish Day mulai dikenal lebih luas dan mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Saat ini, kapasitas produksi amplang CB Food mencapai sekitar 5.000 pot per bulan dengan rata-rata penjualan normal sekitar 3.000 pot. Produksi dapat meningkat ketika terdapat kegiatan besar seperti konferensi atau event nasional yang membutuhkan suvenir dan oleh-oleh khas daerah.

Manfaatkan berbagai Platform Media Sosial

Dalam mengembangkan usaha, Endah juga memanfaatkan pemasaran digital sebagai salah satu strategi utama. Produk CB Food dipasarkan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp Business.

BI

Pemilik Cerita Bahagia (CB) Food Endah Tri Hapsari bersama Isteri Wali yang juga Ketua Dekranasda Kota Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud memanfaatkan berbagai Platfom Media untuk promosi. (Ist)

Menurutnya, media sosial sangat membantu UMKM untuk menjangkau konsumen tanpa harus mengeluarkan biaya promosi besar. Selain memasarkan produk, media sosial juga digunakan untuk membangun kedekatan dengan pelanggan melalui berbagai konten promosi.

“Kami aktif bikin konten, promo, bundling produk, dan giveaway supaya konsumen tetap tertarik,” katanya.

Selain pemasaran digital, Endah juga mulai memperkuat identitas usaha melalui company profile dan katalog digital. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pasar korporasi yang menjadi salah satu target utama CB Food.

Di sisi lain, Endah menyadari bahwa legalitas usaha menjadi faktor penting apabila ingin memperluas pasar. Karena itu, ia mulai melengkapi berbagai persyaratan seperti sertifikasi halal, izin produksi, hingga hak kekayaan intelektual.

Saat ini, CB Food juga tengah mempersiapkan sertifikasi BPOM sebagai langkah untuk memperluas peluang pasar di masa depan.

“Kalau usaha mau berkembang, legalitas memang harus disiapkan,” ujarnya.

Meski terus berkembang, perjalanan usaha CB Food tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi.

Menurut Endah, menaikkan harga produk bukan hal mudah karena daya beli masyarakat juga mengalami perubahan. Karena itu, ia memilih melakukan berbagai penyesuaian agar usaha tetap berjalan tanpa mengurangi kualitas produk.

Salah satu strategi yang dilakukan adalah menyesuaikan ukuran produk dan mencari alternatif bahan baku yang lebih efisien.

“Kalau langsung menaikkan harga itu sulit. Jadi kami cari cara supaya kualitas tetap terjaga tapi usaha tetap bisa jalan,” jelasnya.

Selain itu, CB Food juga mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan beralih menggunakan kemasan yang lebih ramah lingkungan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari efisiensi sekaligus penyesuaian terhadap kebutuhan pasar.

Dapat Batuan Program dari BI

Perjalanan usaha CB Food berkembang semakin pesat setelah mendapatkan pendampingan dari Bank Indonesia melalui program pembinaan UMKM.

Menariknya, Endah tidak mendaftar secara langsung sebagai peserta binaan. Saat pandemi berlangsung, ia cukup aktif menjadi narasumber dalam berbagai diskusi UMKM secara daring. Aktivitas tersebut rupanya menarik perhatian pihak BI hingga akhirnya ia dihubungi untuk mengikuti proses onboarding.

“Biasanya UMKM yang datang ke BI, tapi waktu itu saya justru dihubungi untuk ikut onboarding,” ungkapnya.

Setelah melalui proses seleksi dan kurasi, CB Food resmi menjadi bagian dari UMKM binaan BI. Menurut Endah, proses tersebut cukup ketat karena BI ingin memastikan UMKM yang dibina memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh.

Sejak menjadi mitra binaan, CB Food memperoleh berbagai bentuk dukungan yang membantu pengembangan usaha. Salah satunya adalah pendampingan digitalisasi pembayaran melalui QRIS yang mempermudah transaksi dengan pelanggan.

Bagi Endah, penggunaan pembayaran digital sangat membantu terutama saat mengikuti pameran dan penjualan langsung. Konsumen menjadi lebih mudah melakukan transaksi tanpa harus menggunakan uang tunai.

Selain digitalisasi pembayaran, BI juga memfasilitasi CB Food mengikuti berbagai pameran UMKM di sejumlah daerah, termasuk Jakarta. Kesempatan tersebut menjadi sarana penting untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas.

“Lewat pameran, kami bisa memperluas relasi dan memperkenalkan produk ke lebih banyak orang,” katanya.

BI

Pemilik Cerita Bahagia (CB) Food Endah Tri Hapsari saat mengikuti berbagai ajang pameran (Ist).

Melalui kegiatan tersebut, amplang Fish Day mulai dikenal di luar Balikpapan. Bahkan, produk CB Food sempat digunakan sebagai suvenir oleh BI pusat dalam jumlah besar. Bagi Endah, pengalaman tersebut menjadi salah satu pencapaian penting karena menunjukkan bahwa produk lokal daerah juga mampu bersaing dan dipercaya dalam skala nasional.

Menurutnya, dukungan BI tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga membantu UMKM memahami pentingnya kualitas produk, kemasan, dan manajemen usaha.

“Program BI sangat membantu UMKM untuk berkembang,” ujarnya.

Prestasi bawa Produk Lokal Mendunia

Selain mendapat pendampingan dari BI, perjalanan CB Food juga diwarnai berbagai penghargaan di tingkat daerah maupun nasional. Endah beberapa kali meraih prestasi dalam kompetisi kewirausahaan dan pengembangan UMKM.

CB Food pernah meraih juara lomba inovasi daerah, memperoleh penghargaan dalam program Wirausaha Muda Pemula, serta menjadi finalis berbagai kompetisi UMKM nasional. Berbagai pengalaman tersebut memberi kesempatan bagi Endah untuk belajar dari pelaku usaha lain di berbagai daerah.

Ia mengaku banyak mendapatkan wawasan baru mengenai pengembangan produk dan strategi usaha. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika CB Food mendapat kesempatan mengikuti program di Australia pada 2024. Program tersebut membuka wawasan baru mengenai industri pangan dan standar pasar internasional.

BI

Pemilik Cerita Bahagia (CB) Food Endah Tri Hapsari saat menerima penghargaan dengan terpilih dalam program berbasis gandum yang kemudian mengantarkan mereka ke Australia pada tahun 2024. (Ist)

Bagi Endah, pengalaman tersebut menjadi dorongan untuk terus meningkatkan kualitas produk lokal agar mampu bersaing lebih luas.

Meski demikian, ia mengakui tantangan UMKM masih cukup besar, terutama terkait biaya produksi, distribusi, dan persaingan pasar yang semakin ketat. Karena itu, ia berharap dukungan terhadap UMKM, khususnya dalam pembukaan akses pasar dan pendampingan usaha, dapat terus diperkuat.

Menurutnya, UMKM tidak hanya membutuhkan bantuan modal, tetapi juga dukungan dalam memperluas jaringan usaha dan memperkenalkan produk ke pasar yang lebih besar.

“Kami berharap UMKM bisa terus didukung supaya punya kesempatan berkembang lebih besar,” tuturnya.

Perjalanan CB Food menunjukkan bahwa perkembangan usaha tidak selalu dimulai dari modal besar atau rencana yang matang. Dalam banyak hal, pertumbuhan usaha justru lahir dari keberanian mencoba dan kemampuan melihat kesempatan dari hal-hal sederhana di sekitar.

Dari gerobak burger di depan rumah hingga menjadi produsen amplang premium yang dikenal lebih luas, CB Food berkembang melalui proses panjang yang penuh penyesuaian. Ketika pandemi mengubah pola konsumsi masyarakat, usaha tersebut memilih mencari arah baru melalui produk yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar.

Di sisi lain, dukungan pembinaan dari Bank Indonesia turut membantu memperkuat kapasitas usaha, mulai dari digitalisasi pembayaran hingga pembukaan akses promosi dan pasar. Pendampingan tersebut memberi ruang bagi UMKM seperti CB Food untuk berkembang secara lebih terarah.

Kisah CB Food juga memperlihatkan bahwa UMKM lokal memiliki potensi besar untuk tumbuh apabila didukung konsistensi menjaga kualitas, kemauan belajar, dan akses pembinaan yang berkelanjutan. Di tengah perkembangan ekonomi dan persaingan industri kuliner yang terus berubah, usaha kecil tetap memiliki peluang untuk berkembang selama mampu memahami kebutuhan pasar dan berani mengambil langkah baru.

Bagi Endah, perjalanan membangun CB Food masih terus berjalan. Ia berharap usaha yang dirintis dari rumah tersebut dapat terus berkembang dan membawa produk lokal Balikpapan menjangkau pasar yang lebih luas di masa mendatang.

BI Perkuat dukungan Terhadap Pelaku UMKM

Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Balikpapan terus memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar global. Upaya ini dilakukan melalui program terintegrasi yang mencakup pelatihan, kurasi produk, hingga fasilitasi akses pasar.

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Aryadi mengatakan, penguatan UMKM menjadi salah satu strategi penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

“BI Balikpapan menjalankan program terintegrasi mulai dari inkubasi, kurasi, hingga business matching agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu bersaing di tingkat nasional bahkan global,” ujar Robi.

BI

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Aryadi. (Ist)

Ia menjelaskan, program pendampingan dilakukan melalui workshop tematik dan pelatihan teknis yang menyasar berbagai aspek usaha, seperti inovasi produk, peningkatan kualitas kemasan, hingga efisiensi pengelolaan biaya produksi.

Selain itu, BI juga menerapkan proses kurasi ketat terhadap produk UMKM. Melalui program inkubasi seperti INKUBBI, produk-produk unggulan diseleksi untuk memastikan kesiapan masuk ke pasar ekspor. Dan hal inilah yang juga diterapkan kepada CB Food milik Endah Tri Hapsari.

“Kurasi ini penting untuk memetakan mana produk yang siap ekspor dan mana yang masih perlu pembinaan lebih lanjut,” kata Robi.

Dalam memperluas akses pasar, BI Balikpapan turut memfasilitasi pelaku UMKM mengikuti kegiatan business pitching dan business matching dengan investor maupun mitra usaha potensial. Langkah ini dinilai efektif untuk membuka peluang kerja sama sekaligus meningkatkan skala usaha.

Tak hanya itu, BI juga menggelar program “Gerbang UMKM” yang menampilkan produk unggulan dari sektor fesyen, kriya, kuliner, dan pangan olahan. Program ini menjadi etalase bagi UMKM lokal untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Khusus sektor wastra dan makanan-minuman, BI memberikan perhatian lebih melalui program pengembangan menuju standar global. Pendampingan difokuskan pada peningkatan kualitas, standarisasi, serta adaptasi terhadap tren pasar internasional.

Di sisi lain, BI Balikpapan juga mendorong penguatan ekonomi syariah melalui pelaksanaan workshop kurasi awal bagi calon peserta Program Industri Kreatif Syariah (IKRA). Program ini bertujuan menciptakan pelaku usaha yang kompetitif sekaligus sesuai prinsip syariah.

Secara nasional, kontribusi UMKM terhadap perekonomian Indonesia cukup signifikan. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja. Namun, tingkat partisipasi UMKM dalam ekspor masih relatif rendah, yakni di kisaran 15 persen.

Karena itu, Robi menegaskan pentingnya peran BI dalam mendorong UMKM naik kelas, khususnya di wilayah Kalimantan Timur yang tengah berkembang pesat seiring pembangunan IKN.

“Dengan penguatan kapasitas dan akses pasar, kami optimistis UMKM lokal dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus pemain di pasar global,” ujarnya.

Disisi lain, Pemkot Balikpapan sendiri melaksanakan Festival Kemudahan dan Perlindungan UMKM ke-7 yang menjadi langkah konkret dalam memperkuat daya saing pelaku usaha lokal. Melalui integrasi layanan legalitas, sertifikasi, perlindungan usaha hingga akses pembiayaan, kegiatan ini dinilai mampu mempercepat transformasi UMKM agar lebih profesional dan berkelanjutan.

Pemkot Gelar Festival Kemudahan dan Perlindungan Usaha

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DKUMKMP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setya Kusuma menegaskan, festival tersebut tidak hanya menyasar UMKM yang sudah berkembang, tetapi juga memberi ruang bagi pedagang kaki lima untuk memperoleh legalitas usaha dan perlindungan hukum.

“Sejumlah pelaku usaha, termasuk CV Cerita Bahagia Food, telah memanfaatkan program ini dengan melengkapi dokumen usaha seperti NIB dan sertifikasi pendukung lainnya. Pemerintah berharap langkah tersebut dapat membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk lokal,” ujarnya.

BI

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian (DKUMKP) Kota Balikpapan, Heruressandy Setya Kusuma. (ist)

Melalui penyelenggaraan rutin festival ini, Pemkot Balikpapan menargetkan terciptanya ekosistem UMKM yang inklusif, sehat, dan kompetitif sehingga mampu menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.

Tinggalkan Komentar