Dirut Baru PLN Suroso Isnandar Didorong Ubah Bisnis

IESR
CEO IESR Fabby Tumiwa memberikan paparan terkait urgensi transformasi model bisnis PT PLN (Persero) di bawah kepemimpinan Direktur Utama baru Suroso Isnandar dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (15/10/2026).

JAKARTA, Gerbangkaltim.com — Institusi kajian energi Institute for Essential Services Reform (IESR) menegaskan bahwa estafet kepemimpinan Direktur Utama PT PLN (Persero) dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar harus dimanfaatkan sebagai momentum emas reformasi mendasar. Kepemimpinan baru PLN dituntut tidak sekadar melanjutkan agenda lama, melainkan melakukan transformasi model bisnis demi menjamin pasokan listrik yang andal, efisien, serta ramah lingkungan.

Tantangan berat tengah menanti Suroso Isnandar. Sepanjang tahun 2026, maraknya gangguan pasokan dan pemadaman listrik di berbagai daerah menjadi indikator rapuhnya keandalan jaringan. Di sisi lain, postur keuangan BUMN setrum ini masih bergantung pada suntikan APBN. Pada 2025, meski meraup pendapatan Rp582,7 triliun, laba bersih PLN hanya menyentuh angka sekitar Rp7 triliun. Angka ini amat kontras dibanding kucuran subsidi dan kompensasi pemerintah yang membengkak hingga Rp200 triliun—atau menyedot lebih dari sepertiga total pendapatan perusahaan.

CEO IESR, Fabby Tumiwa, menilai struktur biaya pembangkitan yang tinggi serta keterikatan kontrak jual-beli listrik jangka panjang memerlukan perombakan mendasar. PLN dinilai perlu bertransisi dari sekadar penjual daya menjadi penyedia layanan sistem kelistrikan modern. Dalam skema ini, PLN berfokus mengelola jaringan transmisi dan distribusi nasional, sementara ruang investasi pembangkit dibuka lebih luas bagi swasta, BUMD, maupun masyarakat melalui mekanisme yang transparan.

Langkah ini kian krusial menyongsong target program PLTS 100 GW dan percepatan energi terbarukan. IESR merumuskan tiga agenda prioritas bagi manajemen baru PLN: audit menyeluruh keandalan jaringan, reformasi tata kelola keuangan berbasis kinerja, serta penempatan transisi energi sebagai motor utama transformasi bisnis.

“PLN yang kuat bukanlah PLN yang harus menguasai seluruh pembangkit. PLN yang kuat adalah yang mampu menjamin listrik tetap menyala, harganya terjangkau, keuangannya sehat, dan sistemnya siap beralih ke energi bersih,” tegas Fabby Tumiwa.

Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)

Tinggalkan Komentar