Festival Rindu Dumaring Hidupkan Budaya dan Jaga Alam

Festival Rindu Dumaring 2026
Festival Rindu Dumaring di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, menggabungkan pertunjukan budaya, tradisi masyarakat adat dan pesan pelestarian lingkungan.

TANJUNG REDEB, Gerbangkaltim.com – Festival Rindu Dumaring kembali digelar di Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Berlangsung sejak 8 Agustus hingga 5 September 2026, festival ini membawa dua pesan utama sekaligus, yakni merawat warisan budaya masyarakat adat dan menjaga kelestarian lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan warga.

Mengusung tema “Menyulam Rindu, Menyemai Warisan”, Festival Rindu Dumaring (FRD) tahun ini tidak hanya diarahkan sebagai agenda hiburan. Berbagai tradisi, kesenian, keterampilan dan permainan masyarakat dikemas menjadi rangkaian kegiatan yang mempertemukan budaya leluhur dengan kehidupan generasi saat ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan keterlibatan masyarakat adat menjadi kekuatan utama dalam penyelenggaraan festival tersebut.

Menurutnya, FRD diharapkan mampu menjadi ruang bagi masyarakat Dumaring untuk mengenali kembali berbagai peninggalan leluhur. Warisan tersebut mencakup seni, tradisi, pengetahuan lokal hingga nilai kehidupan yang masih memiliki relevansi di tengah perubahan zaman.

“Festival ini kami dorong menjadi ruang bagi masyarakat Dumaring untuk kembali mengenali dan merawat peninggalan leluhur, baik berupa seni, tradisi, pengetahuan maupun nilai-nilai kehidupan yang masih relevan hingga sekarang,” ujar Yudha.

Budaya Dumaring Tak Terpisahkan dari Alam

Selain mengangkat budaya, Festival Rindu Dumaring memberikan perhatian pada hubungan masyarakat dengan lingkungan sekitar. Kehidupan warga Dumaring selama ini tidak terlepas dari hutan, sungai, sumber air, tumbuhan dan satwa yang menjadi bagian dari ruang hidup mereka.

Pesan konservasi kemudian ditempatkan sebagai salah satu unsur penting dalam festival. Upaya menjaga alam dipandang tidak hanya sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari menjaga ruang hidup dan warisan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Budaya dan alam di Dumaring memiliki hubungan yang kuat. Melalui festival ini, keduanya ingin kami tampilkan secara bersamaan agar masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga tradisi sekaligus lingkungan,” katanya.

Konsep tersebut diterjemahkan melalui sejumlah kegiatan yang melibatkan masyarakat. Festival menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, lomba permainan tradisional, pembelajaran keterampilan tradisional, perlombaan karya seni serta kompetisi fotografi dan videografi.

Berbagai kegiatan itu dipusatkan di kawasan destinasi wisata Taman Sungai Dumaring. Lokasi tersebut sekaligus memperkuat karakter festival yang menggabungkan kekayaan budaya masyarakat dengan potensi wisata berbasis lingkungan.

Puncak Festival Digelar 5 September

Rangkaian Festival Rindu Dumaring akan mencapai puncaknya pada 5 September 2026. Salah satu agenda utama yang disiapkan adalah kirab budaya bersama sejumlah kegiatan lainnya.

Puncak festival diharapkan menjadi kesempatan bagi masyarakat Dumaring untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Tradisi tidak hanya ditampilkan sebagai pertunjukan, tetapi juga diperkenalkan sebagai bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat.

Di sisi lain, FRD diharapkan mampu menjadi ruang pertemuan lintas generasi, etnis dan agama. Interaksi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kebersamaan sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya Dumaring.

Yudha menekankan, keberadaan festival tidak semata-mata ditujukan untuk menciptakan kemeriahan. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan budaya, kelestarian alam dan hubungan sosial.

“Yang ingin dibangun bukan hanya kemeriahan festival, tetapi bagaimana masyarakat terus memiliki kepedulian terhadap warisan budaya, lingkungan dan hubungan sosial. Semuanya menjadi bagian dari identitas Dumaring,” ujarnya.

Perpaduan budaya dan konservasi yang diusung Festival Rindu Dumaring memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran menjaga lingkungan. Di Dumaring, warisan leluhur tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi terus dihidupkan melalui kegiatan masyarakat dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau

Tinggalkan Komentar