Pemkot
Ketua Forum Ekonomi Kreatif Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud dan rombongan saat diatas kapal phinisi di Laboan Bajo, NTT, Minggu (22/10/2022).

Forum Ekraf Balikpapan Akan Tiru Laboan Bajo Dalam Pengelolaan Wisata Bahari

image_pdfimage_print

Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Pemkot Balikpapan melalui Forum Ekonomi Kreatif (ekraf) Kota Balikpapan melakukan studi tiru pengelolaan wisata bahari di Laboan Bajo, NTT dalam pengembangan Wisata Bahari di Teluk Balikpapan. Pasalnya, saat ini Kota Balikpapan tengah gencar-gencarnya mengembangkan wisata susur teluk Balikpapan.

Ketua Forum Ekonomi Kreatif Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud mengatakan, dengan ditetapkanya IKN Nusantara di Kaltim, maka Kota Balikpapan terus bernah dengan mengembangkan Wisata Bahari di Teluk Balikpapan. Mengingat Teluk Balikpapan juga bagian dari kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Labuan Bajo adalah belajar untuk study tiru. Bagaimana kita menerapkan wisata kita,dalam hal ini kapal Phinisi,” ujarnya, Minggu (22/10/2022).

Dalam kunjungannya ke Labuan Bajo, kata Nurlena, Forum Ekonomi Kreatif Balikpapan juga membawa serta pelaku UMKM. Termasuk juga produk-produk hasil kerajinan dari pelaku UMKM Balikpapan.

“Kebetulan kita membawa UMKM nya dari Balikpapan ada tas, kalung kita bawa dan gelang-gelang manik-manik. Saya bawa pengrajin dari Kebun Sayur. Jadi 2 orang yang saya bawa,” jelasnya.

Produk-produk kerajinan yang dibawa coba ikut ditawarkan kepada para wisatawan. Ternyata cukup digemari diantaranya terutama batu batuan dan manik-manik, bahkan hampir semianya habis terjual.
“Mereka sangat senang dengan batu-batu, manik-manik. Disana yang kita lihat emang tenun, mereka promosikan tenun modelnya sarung yang lebar,” paparnya.

Hanya saja untuk menikmati wisata bahari biaya yang dikeluarkan cukup besar yakni lebih dari Rp 1 juta lebih per orang per hari.

“Tapi kami karena one day saja jadi satu juta sekian. Kita berangkatnya jam 6 pagi pulangnya jam 8 malam. Karena memang sesuai kita menikmati alamnya durasi kecepatan kapal lambat memang,” paparnya.

Nurlena menambahkan, yang paling menarik untuk dicontoh yakni soal SOP. Dimana SOP di kapal Phinisi sangat ketat karena tidak boleh melebihi kapasitas kapal karena terkait keselamatan. Sehingga harapan, hal itu juga diterapkan di Layar Phinisi Balikpapan.

“Ternyata disana itu SOP nya sangat ketat. Misalnya kapal itu kapasitasnya cuma 20 orang, saya minta tambah 1 saja itu tidak boleh. Itu yang harus kita terapkan di Kota Balikpapan tidak boleh melebih kapasitas dari kapal itu sendiri, ungkapnya.

“Menjaga keamanan, kita menyelamatkan tamu yang datang. Jangan sampai terjadi yang tidak kita inginkan. Mungkin juga kesiapan safetynya. Kalau kamar itu dia cuma untuk 9 orang , lebih dari pada itu gak boleh,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *