Hari batik Nasional, Ayo Kita Lestarikan Batik sebagai Budaya Nasional

batik Indonesia mulai dikenal orang luar negeri sejak Soeharto memberikan batik sebagai cinderamata untuk tamu-tamu negara pertengahan tahun 80-an”

Oleh :
Kasrani Latief
Ketua I Komite Ekraf Kabupaten Paser

SEJARAH batik di Indonesia harus dirunut sampai ke masa kerajaan. Batik jaman dulu menjadi pakaian atau busana khas kerajaan, batik dikenakan hanya oleh keluarga kerajaan atau para pegawai kerajaan. Nah kegiatan membatik di luar kerajaan diajarkan oleh para pegawai Keraton yang pulang ke rumahnya yang berada di lingkungan luar keraton.

Dalam sejarah Batik Indonesia, dituliskan sejarah pembatikan di Indonesia, sudah dimulai sejak masa kerajaan Majapahit. Bukti bahwa kerajaan Majapahit menerapkan teknik pembatikan untuk menciptakan busana terlihat pada sisa-sisa peninggalan batik yang ada di wilayah Mojokerto dan Bonorowo (sekarang Tulungagung) yang merupakan kawasan bekas Kerajaan Majapahit.

Di masa modern, batik Indonesia mulai dikenal orang luar negeri sejak Soeharto memberikan batik sebagai cinderamata untuk tamu-tamu negara pertengahan tahun 80-an.
Presiden Soeharto sendiri kerap mengenakan batik untuk menghadiri konferensi PBB. Hal itu secara otomatis membuat batik, pakaian yang dikenakannya sebagai pusat perhatian.

Tanggal 2 Oktober diperingati dengan Hari Batik Nasional? Batik Indonesia diresmikan sebagai  Warisan Kemanusian untuk Budaya Lisan dan Non Bedawi. Apasih Hari Batik Nasional itu? Hari Batik Nasional atau yang biasa kita sebut sebagai Hari Batik adalah peringatan atau perayaan nasional Indonesia terhadap ditetapkannya warisan budaya bangsa Indonesia yaitu batik itu sendiri.

Kita sudah terbiasa mendengar kata batik,tapi apasih arti batik sendiri itu? Berikut sedikit penjelasannya. Batik adalah seni gambar diatas kain untuk pakaian yang dibuat dengan teknik resist menggunakan material lilin. Kata batik itu berasal dari bahasa jawa yang berarti menulis.

Batik. Orang sekarang mengenal “batik” sebagai sebuah motif atau corak tradisional yang pada tahun 2009 telah resmi dinyatakan oleh UNISCO sebagai warisan budaya Indonesia. Padahal “Batik” atau kata ‘batik’ itu adalah sebuah kata yang berasal dari dua kata lain yaitu “amba” yang artinya kain, dan “tik” kependekan dari kata ‘titik’. Jadi kata “Batik” itu adalah cara menggambar titik-titik di atas kain lebar, yang kemudian menghasilkan sebuah pola atau motif. Di masa lalu, membatik (bukan membuat batik), dilakukan dengan menggunakan canting dan cairan lilin malam.

Pada perkembangannya, kata ‘batik’ kemudian diidentikkan menjadi sebuah istilah untuk motif, tanpa mengindahkan bagaimana motif itu dibuat. Kerancuan ini yang kemudian membuat kain bermotif yang pembuatannya menggunakan mesin pencetak atau mesin printing, juga disebut “batik”. Padahal, mesin printing yang digunakan untuk membuat motif “batik” tidak dilakukan dengan cara membuat titik-titik di atas kain oleh mesin seperti robot, atau memiliki pola titik-titik yang kemudian akan menjadi garis atau pola saat kain diproses ke tahap pemanasan atau pencucian.

Membuat motif batik pada mesin printing sama prinsipnya seperti kalian membuat gambar di kaos oblong dengan cara menyablon. Secara logika, kalau kita mengacu pada arti dan makna dari kata “batik”, motif-motif serupa yang pembuatannya tidak dengan menggambar titik-titik di atas kain dengan menggunakan canting dan cairan lilin malam, harusnya tidak disebut “batik”, tapi ya disebut kain motif biasa. Tapi karena kata “batik” sekarang ini diartikan sebagai satu motif kain, maka kain motif yang dihasilkan oleh mesin printing berhak menyandang gelar “batik”.

Jaman sekarang, kain batik yang betul-betul batik, diartikan sebagai memberi motif pada kain yang dibuat dengan alat canting dan cairan lilin malam, atau istilah yang kita pakai “Batik Tulis”. Harganya selangit. Untuk selembar kain batik tulis yang dibuat dengan kain katun saja, bisa berharga jutaan atau minimal ratus ribuan. Apalagi jika dibuat di atas kain sutra, harganya bisa mencapai puluhan juta.

Dan untuk mengakali agar semua rakyat Indonesia, bangsa pemilik batik, baik itu kelas atas, menengah atau bawah, bisa mengenakan motif batik, maka batik printing menjadi solusinya. Karena harganya jauh lebih murah. Di toko kain, ada kain motif batik seharga Rp 20 ribu per meter. Dengan modal Rp 50 ribu, kita sudah bisa berbatik ria.

Batik nasional juga memiliki beragam jenis dari segi daerah produksinya. Salah satunya dan yang paling unik ialah jenis batik tiga negeri. Dinamai batik tiga negeri karena dibuat di tiga daerah yaitu Lasem, Solo, dan Pekalongan. Dilihat dari cara pembuatan, komposisi, dan kekhasan tiga daerah menjadi satu maka tak mengherankan kalau harga batik tiga negeri paling mahal di antara yang lain.

Jenis batik terkenal lainnya di Indonesia antara lain Batik Mega Mendung Corebon, Batik Tujuh Rupa Pekalongan, Batik Parangkusumo, Batik Sekar Jagad Solo Yogyakarta, Batik Tambal Yogyakarta, Batik Lasem Rembang, Batik Singa Barong Cirebon, Batik Jlamprang, Batik Terang Bulan, Batik Cap Kombinasi Tulis, Batik Tiga Negeri Pekalongan, Batik Sogan Pekalongan, Batik Kaltim, Batik Paser dan lain sebagainya.

Jadi, ayo kita jaga kelestarian batik sebagai warisan budaya bangsa. Jangan minder dengan merk luar negeri, karena batik sekarang sudah go international. Pada tahun 2010, di Pekalongan diadakan Pekan Batik Internasional yang diikuti 11 negara. Model batik sekarang juga mengikuti trand fashion. Jadi, ayo pake batik,lestarikan batik asli Indonesia.

Dengan semangat Hari Batik Nasional, kami mengajak semua masyarakat untuk bersama-sama melestarikan batik sebagai Budaya Bangsa Indonesia, mari kita bersama sama menggunakan pakaian batik sebagai pakaian wajib yang kita miliki, dan mengembangkan keterampilan membatik dimasyarakat. (******)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *