Inflasi Balikpapan dan PPU Naik pada Februari 2026, Dipicu Lonjakan Permintaan dan Cuaca Ekstrem

BI
Angkutan Udara menjadi salah satu penyebab terjadinya Inflasi di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada Februari 2026 seiring naiknya permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, Selasa (3/3/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Inflasi di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) meningkat pada Februari 2026 seiring naiknya permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri, serta terganggunya pasokan akibat tingginya curah hujan.

Berdasarkan data Indeks Harga Konsumen (IHK), Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,75 persen secara bulanan (month to month/mtm), sementara Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat inflasi 0,89 persen (mtm). Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Balikpapan tercatat 4,14 persen dan PPU sebesar 4,13 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan kenaikan inflasi tersebut dipengaruhi meningkatnya mobilitas dan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan serta dampak cuaca terhadap produksi pangan.

“Peningkatan permintaan masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri, serta tingginya frekuensi hujan yang memengaruhi produksi hortikultura dan perikanan, menjadi faktor utama kenaikan inflasi pada Februari,” ujar Robi dalam keterangan resminya, Selasa (3/3/2026).

Meski meningkat, inflasi tahunan kedua daerah tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 4,64 persen (yoy) dan nasional sebesar 4,76 persen (yoy). Namun demikian, realisasi tersebut berada di atas sasaran inflasi nasional 2026 yang ditetapkan sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Robi menjelaskan, tingginya inflasi tahunan juga dipengaruhi faktor basis (base effect), menyusul kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga 50 persen pada Januari–Februari 2025 yang dampaknya tidak lagi berlanjut tahun ini.

Komoditas Penyumbang Inflasi

Di Balikpapan, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,27 persen (mtm). Lima komoditas utama penyumbang inflasi tertinggi yakni angkutan udara, emas perhiasan, cabai rawit, bahan bakar rumah tangga (LPG), dan kangkung.

Kenaikan tarif angkutan udara dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Sementara itu, harga emas perhiasan terdorong naik sejalan tren kenaikan harga emas global.

Adapun cabai rawit dan kangkung mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari daerah sentra produksi di Jawa dan Sulawesi yang terdampak curah hujan tinggi. Keterbatasan pasokan LPG di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga turut mendorong kenaikan harga bahan bakar rumah tangga.

Di sisi lain, deflasi di
Balikpapan terutama disumbang kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil minus 0,04 persen (mtm). Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bensin, bawang merah, daging ayam ras, sawi hijau, dan baju muslim anak.

Penurunan harga bensin mengikuti kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi, sementara bawang merah dan daging ayam ras mengalami penurunan harga akibat meningkatnya pasokan dari daerah produsen.

Sementara di PPU, kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan andil 0,68 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi adalah ikan layang, cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, dan buncis.

Harga ikan layang naik akibat terbatasnya hasil tangkapan nelayan yang dipengaruhi cuaca kurang kondusif. Sedangkan cabai rawit dan buncis terdampak penurunan produksi akibat hujan yang tinggi.

Untuk deflasi di PPU, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama dengan andil minus 0,05 persen (mtm). Komoditas yang mencatat penurunan harga meliputi bawang merah, ikan tongkol, bensin, cumi-cumi, dan bayam, didorong oleh peningkatan pasokan dan masuknya masa panen.

Waspadai Risiko Cuaca dan Lonjakan Permintaan

Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko inflasi, terutama potensi puncak musim hujan pada triwulan I 2026, gelombang laut tinggi, serta risiko banjir di wilayah sentra produksi.

“Kondisi ini berpotensi mengganggu kelancaran distribusi dan produksi komoditas hortikultura maupun perikanan. Di sisi lain, periode Ramadan dan Idul Fitri juga berpotensi meningkatkan permintaan, sehingga perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan tekanan harga berlebih,” kata Robi.

Ia menambahkan, hasil Survei Konsumen Februari 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di Balikpapan berada pada level 131,8, meningkat dari 122,7 pada Januari 2026. Angka tersebut mencerminkan optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan enam bulan mendatang.

Sebagai langkah pengendalian, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan memperluas operasi pasar dan gelar pangan murah, memperkuat kerja sama antar daerah untuk pasokan komoditas strategis, serta meningkatkan pemantauan harga dan stok di distributor.

“Kami akan terus bersinergi melalui program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera untuk menjaga inflasi daerah tetap berada dalam rentang sasaran nasional,” ujar Robi.

Tinggalkan Komentar