Kapal Wisata LOB Raup Miliaran, Kaltim Jaga Terumbu Karang
Gerbangkaltim.com, Tanjung Redep – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menegaskan bahwa pengembangan sektor wisata bahari di Kabupaten Berau harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut. Meski aktivitas kapal Live On Board (LOB) memiliki potensi ekonomi yang mencapai puluhan miliar rupiah, perlindungan kawasan konservasi, khususnya terumbu karang, tetap menjadi prioritas utama.
Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud mengatakan, kapal-kapal wisata LOB yang beroperasi di kawasan wisata bahari Berau mampu memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian daerah apabila dikelola secara baik dan berkelanjutan.
Menurutnya, Berau memiliki potensi wisata laut kelas dunia dengan kekayaan terumbu karang dan keanekaragaman hayati yang menjadi daya tarik utama wisatawan domestik maupun mancanegara. Karena itu, aktivitas kapal wisata harus diatur agar tidak memberikan dampak negatif terhadap kawasan konservasi.
“Memang harus kita atur kapal-kapal yang datang dari luar Kalimantan Timur agar tidak masuk ke wilayah-wilayah konservasi terumbu karang,” ujar Rudy Mas’ud saat kunjungan kerja di Kabupaten Berau.
Ia menjelaskan, pemerintah tengah menyiapkan berbagai langkah untuk memastikan aktivitas kapal wisata dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Salah satunya adalah pembangunan fasilitas tambat kapal (mooring buoy) di kawasan wisata bahari. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi praktik pelemparan jangkar secara langsung yang berpotensi merusak terumbu karang.
Selain melindungi ekosistem laut, keberadaan tambatan kapal juga dinilai mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengelolaan sektor wisata bahari yang lebih tertata.
“Ini juga menjadi sumber PAD, terutama bagi Berau. Kita ingin membangun tambat-tambat kapal yang datang ke wilayah wisata bahari,” katanya.
Rudy menegaskan, kerusakan terumbu karang tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat. Dibutuhkan waktu bertahun-tahun bahkan puluhan tahun hingga ekosistem bawah laut kembali seperti semula.
Karena itu, seluruh aktivitas wisata di kawasan konservasi harus menerapkan prinsip keberlanjutan agar potensi wisata alam Berau tetap terjaga untuk generasi mendatang.
Di sisi lain, Gubernur mengungkapkan besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan sektor kapal wisata LOB. Dalam satu kali pelayaran, perputaran ekonomi diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp15 miliar. Nilai tersebut menunjukkan besarnya potensi wisata bahari sebagai salah satu penggerak ekonomi Kalimantan Timur.
Meski demikian, pengawasan terhadap kapal wisata yang berasal dari luar daerah masih menjadi tantangan karena kewenangan pengendalian tidak sepenuhnya berada di pemerintah kabupaten.
Menurut Rudy, setiap kapal yang beroperasi semestinya memiliki Surat Izin Berlayar (SIB) sehingga tujuan perjalanan dan aktivitas pelayaran dapat dipantau dengan lebih baik.
Untuk memperkuat sistem pengawasan, Pemprov Kaltim juga berencana mengoptimalkan penggunaan Automatic Identification System (AIS). Teknologi tersebut memungkinkan pemerintah memantau posisi, identitas, kecepatan, hingga pergerakan kapal secara real time.
“AIS ini bisa melihat kapal apa, posisinya di mana, kecepatannya berapa, semuanya bisa terkontrol,” jelas Rudy.
Ia menambahkan, perangkat pemantauan tersebut merupakan hasil dukungan sejumlah instansi, termasuk Bea Cukai dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sehingga nantinya dapat dimanfaatkan bersama untuk memperkuat pengawasan di kawasan perairan Berau.
Pemprov Kaltim berharap kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, KKP, serta berbagai instansi yang memiliki kewenangan di bidang kelautan dapat memperkuat pengelolaan kawasan wisata bahari Berau.
Dengan pengawasan yang semakin baik, pemerintah optimistis potensi ekonomi dari sektor kapal wisata LOB dapat terus berkembang tanpa mengorbankan kelestarian terumbu karang yang menjadi aset wisata utama Kalimantan Timur.
BACA JUGA
