Sampah Bukan Kado di Hari Peduli Sampah Nasional

Oleh : Achmad Safari *)

HARI ini, 21 Februari, pemerintah, dunia usaha dan elemen masyarakat memperingati hari peduli sampah nasional (HPSN). Peringatan tersebut dimaksudkan supaya kita semua semakin peduli terhadap pengelolaan dan pengurangan sampah.

Secara nasional, hingga saat ini, volume sampah yang dihasilkan belum semuanya dapat ditangani. Sampah tersebut tidak hanya menumpuk dan menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan darat, melainkan ekosistem di laut juga ikut terdampak.

Berdasarkan data Tim Koordinasi Sekretariat Nasional Penanganan Sampah Laut total sampah yang masuk ke laut pada tahun 2020 berkisar 521.540 ton. Hal tersebut mengindikasikan bahwa sampah yang dihasilkan jauh lebih banyak daripada yang terlarut ke laut.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di tahun 2020, Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah. Sedangkan data BPS menyebutkan sampah plastik di tahun 2021 mencapai 66 juta ton.

Bagaimana kondisi sampah di Kabupaten Paser..?

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup, di tahun 2021 sampah yang dihasilkan warga Kabupaten Paser berkisar di angka 115,29 ton/hari atau setara 42.080,85 ton/tahun. Sedangkan persentase sampah yang tertangani hanya sekitar 59,07% atau sekitar 68,104 ton/hari setara 24.858,10 ton/tahun.

Berdasarkan data tersebut dan melihat tren pertambahan penduduk setiap tahunnya, maka permasalahan pengelolaan sampah ini dapat menjadi permasalahan yang besar jika tidak dapat tertangani sedini mungkin.

Berdasarkan Undang-undang nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah menyebutkan bahwa sampah telah menjadi permasalahan nasional sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat. Ini berarti, bahwa dalam pengelolaan sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah, Pemerintah Daerah, serta peran serta masyarakat dan dunia usaha sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan secara proposional, efektif, dan efisien.

Menurut data KLHK, dua penyumbang terbesar produksi sampah adalah sekitar 37,3% bersumber dari aktivitas rumah tangga, diikuti oleh sampah yang berasal dari pasar tradisional sebesar 16,4%.

Strategi pengelolaan sampah yang efektif dan efisien adalah pengurangan sampah mulai dari sumbernya. Rumah tangga sebagai komunitas terkecil di masyarakat harus dilibatkan dalam pengelolaan sampah.

Pada umumnya, proses pengelolaan sampah berbasis komunal dalam hal ini pelibatan rumah tangga dapat diterapkan dengan berbagai upaya, antara lain :
Melakukan pemilahan terlebih dahulu sebelum sampah dibuang ke TPS. Pemilihan berarti memisahkan tumpukan sampah organik yang dapat didaur ulang dengan sampah non organik. Jika rumah tangga tak mampu  mengolah sampah organik, maka dapat dibuang ke TPS setelah dilakukan pemilihan terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk mengurangi volume sampah karena terjadi pengurangan sampah oleh rumah tangga.

Pada tahapan ini, prinsip zero waste diberlakukan terhadap sampah organik. Sampah organik dijadikan kompos oleh rumah tangga atau kelompok masyarakat dalam satu lingkungan tersebut.

Tahapan kedua adalah pengolahan sampah oleh kelompok masyarakat. Biasanya dalam satu kawasan perumahan dibangun TPS 3R yang berfungsi ganda bukan saja sebagai wadah penampungan sampah sementara sebelum dibuang ke TPA, namun juga berfungsi sebagai tempat mereduksi sampah dan mengolah sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis.

Sampah organik dari rumah tangga dibuat menjadi kompos dan dijual kembali sebagai media penyubur tanaman. Sedangkan sampah non organik seperti kertas, kardus, botol, plastik atau bahan lainnya di kemas untuk dijual kembali kepada pihak pengumpul. Bank Sampah dapat didirikan pada tahapan proses ini.

Keberangkatan bank sampah bertujuan untuk mengubah sampah khususnya sampah non organik menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Keberadaan bank sampah memberikan sumber penghasilan pada masyarakat karena sampah tetap mempunyai nilai ekonomi, memberikan sisi edukasi untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan cara memilah sampah dan mengurangi volume sampah plastik dan sampah non organik lainnya.

Selain itu, sampah non organik yang dihasilkan dapat diolah kembali menjadi barang yang bernilai ekonomis, seperti berbagai macam kerajinan tangan: tas dari plastik pembungkus makanan, taplak meja, dan barang lainnya.

Tahapan akhir adalah pengangkutan sampah yang tak dapat didaur ulang ke TPA. Karena telah melewati dua tahapan sebelumnya, maka diharapkan jumlah volume sampah yang diangkut ke TPA jauh lebih berkurang. Pada tahapan inilah pengurangan sampah melalui proses penimbunan atau teknik lainnya dapat dilakukan.

Berdasarkan tahapan diatas, maka kunci penanganan sampah berbasis komunal (masyarakat) ini dititikberatkan pada dua tahapan awal, yaitu peran serta rumah tangga dan masyarakat. Untuk mencapai konsep ideal tersebut, diperlukan kasadaran dan keterlibatan penuh dari masyarakat.

Proses edukasi pada tahapan ini menjadi hal yang sangat penting. Karena, harus diakui bahwa sebagian masyarakat masih belum menyadari tanggung jawab mereka. Masih kita lihat secara jelas, banyak sampah yang berserakan diluar TPS, padahal isi didalam TPS tersebut masih kosong. Atau masih ditemukan warga yang membuang sampah diluar jam yang diperkenankan.

Contoh  seperti itu memang terlihat sepele, namun jika dilakukan oleh banyak orang, maka akan menjadi permasalahan yang cukup serius, baik ditinjau dari segi estetika maupun kesehatan lingkungan.

Untuk itu diakhir tulisan ini, marilah kita bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan melakukan pengelolaan sampah rumah tangga secara benar. Karena sampah yang kita hasilkan adalah tanggung jawab kita. Mari kita buat rantai sinergi yang baik, karena masalah sampah adalah permasalahan kita bersama. Salam lestari. (***)

*) Penulis adalah pemerhati lingkungan hidup di Kabupaten Paser

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: