Semangat Idul Fitri, Tingkatkan Budaya Literasi

 

Oleh ; Dr. Kasrani Latief, M.Pd

TANA PASER – Hari ini Ramadan 1443 H beranjak pergi meninggalkan kita dan kini memasuki Fajar 1 Syawal 1443 H / 2022 M .
Setelah menjalankan proses pembentukan diri melalui madrasah ramadhan selama satu bulan lamanya, umat Islam berbondong-bondong merayakan kemenangan di hari raya penuh kesucian, Idul Fitri 1443 H.

Bersama-sama dengan umat Islam semuanya dari segala arah dan penjuru dunia dari sabang sampai merauke tak henti-hentinya mengumandangkan alunan suara takbir, tasbih, tahmid dan tahlil. Bahkan sebagaian masyarakat kita, pada malam hari raya Idul Fitri dilakukan takbir keliling yang sudah menjadi budaya.

Hal ini sesungguhnya merupakan manifestasi kebahagiaan setelah berhasil memenangi ibadah puasa, atau sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kemenangan besar yang kita peroleh setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. ” Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Hiasilah hari rayamu dengan takbir.”

Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kalimat tasbih kita tujukan untuk mensucikan Allah dan segenap yang berhubungan dengan-Nya. Tidak lupa kalimat tahmid sebagai puji syukur juga kita tujukan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya. Sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa Dia lah Dzat yang maha Esa dan maha kuasa.

Namun jika diamati, satu momentum yang hampir terlewatkan oleh sebagian kaum muslim pada Ramadan kali ini. yaitu peristiwa nuzulul quran. Ramadan merupakan bulan diturunkannya (wahyu) Alquran pertama kali kepada Nabi Muhammas SAW. Hal tersebut terjadi bertepatan dengan 17 Ramadan ketika nabi sedang berkhalwat di Gua Hira.

Iqra’ (bacalah!), menjadi sepenggal ayat pertama dari lima ayat Surat Al-‘Alaq yang diturunkan sebagai wahyu pertama. Kiranya, umat Islam perlu merenungkan kembali perintah yang terkandung dalam ayat tersebut. Apakah budaya iqra’ sudah mengakar di masyarakat kita? Apakah sudah dilaksanakan dengan baik?

Berdasarkan hasil penelitian The World’s Most Literate Nation yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (2016), menempatkan Indonesia di urutan ke-60 dari 61 negara sebagai negara dengan tingkat literasi atau minat baca rendah. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Ditambah data dari International Standard Book Number (ISBN) pada tahun yang sama, Indonesia tercatat minim soal produksi buku dengan hanya memproduksi 64 ribu buku per tahun. Berbanding jauh dengan Tiongkok yang memproduksi 440 ribu buku per tahun.

Menurut UNESCO, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menerjemahkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan tertulis maupun tercetak yang berhubungan dengan berbagai konteks. Ringkasnya, literasi itu sendiri berkaitan erat dengan kemampuan membaca dan menulis.

Ramadan merupakan bulan penuh kebaikan, sudah seyogianya momentum ini dimanfaatkan untuk memperbaiki sekaligus meningkatkan budaya literasi kita. Agar membaca bisa menjadi budaya perlu beberapa tahapan. Dimulai dari belajar dan mengajarkan, lalu membiasakan sehingga membentuk karakter, lantas budaya itu terbentuk. Misalnya, Ramadan kali ini giat melakukan tadarus (saling belajar) Alquran, mengkaji kitab-kitab, maupun membaca buku-buku lainnya.

Kemudian, beberapa solusi lain yang lebih efektif dalam meningkatkan minat baca adalah membuat sebuah movement atau gerakan. Contoh konkretnya, Gerakan Literasi Nasional dengan didukungnya pengiriman buku gratis hingga ke pelosok nusantara setiap tanggal 17 –di hari angka kemerdekaan Indonesia. Alhasil, gerakan tersebut menyebar secara masif bukan karena program, dana ataupun perintah, melainkan adanya faktor “penularan”. Dan tentu masih banyak kegiatan-kegiatan lain yang dapat menyebar secara masif apabila kita laksanakan secara bersama.

Perihal minimnya produksi buku di Indonesia, hal tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pegiat literasi untuk lebih produktif dalam menuangkan gagasan, resah pemikiran, serta pengalamannya ke dalam buku. Singkatnya, semakin banyak buku diproduksi, semakin banyak juga pilihan buku yang menarik untuk dibaca, sehingga diharapkan minat baca masyarakat Indonesia meningkat pesat.

Pada dasarnya, Ramadan menggiring kita menjadi pribadi pemenang pada Idul Fitri mendatang. Kemenangan bagi mereka yang membudayakan baca di atas rata-rata, sebab membaca merupakan modal melesatnya kemajuan bangsa. Hal ini merupakan tantangan yang harus kita upayakan sepenuh hati, bersama turun tangan untuk budaya literasi.

Dalam kesempatan berlebaran di hari raya yang suci ini, mari kita satukan niat tulus ikhlas dalam sanubari kita, kita hilangkan rasa benci, rasa dengki, rasa iri hati, rasa dendam, rasa sombong dan rasa bangga dengan apa yang kita miliki hari ini. Mari kita ganti semua itu dengan rasa kasih sayang dan rasa persaudaraan. Dengan hati terbuka, wajah yang berseri-seri serta senyum yang manis kita ulurkan tangan kita untuk saling bermaaf-maafan. Kita buka lembaran baru yang masih putih, dan kita tutup halaman yang lama yang mungkin banyak terdapat kotoran&noda seraya mengucapkan Minal Aidin Walfaizin Mohon Ma’af Lahir dan Batin. Semoga Allah SWT, selalu memberikan pertolongannya kepada kita semua.

Oleh karena itu marilah kita jadikan Idul Fitri tahun 2022 ini berbeda dengan Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya, mari kita tingkatkan budaya Literasi Bangsa Indonesia, kita lanjutkan dan Tingkatkan kegiatan literasi pada Bulan Ramdhan yang telah berlalu lebih baik lagi, satukan langkah bersama untuk memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya literasi, tentunya kita mulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas dan akhirnya sampai kemasyarakat. Jangan biarkan rasa malas berliterasi merasuk kembali ke jiwa kita yang telah suci.

Saya mengajak kita semua Jadikan Semangat Idul Fitri untuk meningkatkan budaya Literasi lebih baik lagi dimasa yang akan datang, tentu ini sesuai dengan Motto Kabupaten Paser “Olomanin Aso Buen Siolo endo” (Hari Esok Lebih Baik dari Hari Ini)

Penulis adalah Ketua GPMB Kab. Paser

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: