Tantangan Milenial Hadapi Sikap Apatis dalam Berdemokrasi

 

Oleh : Elly Dyah*

 

Apatisme berasal dari kata apatis dan isme, yang masing-masing memiliki arti. Kata apatis sendiri serapan dari bahasa Inggris Apathy. Apatis sendiri memiliki arti acuh tak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Yang mana bisa dijabarkan sebagai sikap tidak peduli seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan dirinya dalam hal tertentu. Namun apatis sendiri memiliki banyak pengertian, diantaranya menurut Solmitz, apatisme ialah ketidakpedulian individu dimana mereka tidak memiliki minat atau tidak adanya perhatian terhadap aspek-aspek tertentu seperti kehidupan sosial maupun aspek fisik dan emosional. Sedangkan menurut Dan, apatis merupakan kata lain dari pasif, tunduk bahkan mati rasa terutama pada hal-hal yang menyangkut isu sosial, ekonomi, lingkungan, dan politik. Sifat apatis sendiri bisa dilihat dari kurangnya kesadaran, kepedulian dan bahkan tidak tanggung jawab sosial yang berpengaruh pada pemungutan suara.

Apatisme politik merupakan hasil dari tindakan beberapa politisi yang lebih fokus pada karir politiknya dan kurang memperhatikan apa yang terjadi pada negara. Karena itu pada umumnya apatisme politik kerap melanda remaja karena ketidak tertarikan mereka pada politik.

Selain dari politisi, pemerintahan juga memiliki peranan mempengaruhi tingkat kepedulian tehadap politik. Peranan pemerintah sebagai tokoh yang dihormati oleh masyarakat sekaligus dipercaya dapat membantu masyarakat memperkenalkan unsur-unsur masyarakat dan menumbuhkan perhatian pada kehidupan politik. Selain itu, keikutsertaan masyarakat dalam program pembangunan juga mempengaruhi, karena secara tidak langsung dapat memperkenalkan berbagai macam ide yang kondusif bagi kepedulian dalam politik.

Keikut sertaan ini dapat menumbuhkan pemikiran mengenai sukarela dan penuh kesadaran dalam bersikap peduli terhadap politik. Keadaan ini menjadi pelajaran bagi rakyat sehingga menumbuhkan rasa jera, putus asa, kebosanan, keengganan untuk menyalurkan aspirasinya, bahkan akhirnya hilang semangat berdemokrasi. negara telah kehilangan kredibilitasnya di mata masyarakat karena perilaku sebagian besar abdinya.

Masyarakat akhirnya meragukan terciptanya perubahan lewat proses pemilu karena tidak ada perubahan berarti ke arah yang lebih baik dan tidak jauh beda dengan masa-masa sebelumnya.

Apatisme politik memiliki ciri khas yang dalam bentuk perilakunya berupa tindakan golput saat berlangsungnya pemilihan umum. Golput termasuk bentuk perilaku politik, golput sebagai salah satu indikasi bahwa seseorang bersikap apatis terhadap politik. Perilaku politik tidak lepas dari aktivitas manusia dalam kesehariannya. Tanpa disadari, aktivitas manusia berkaitan dengan politik.

Penyebab apatisme politik sendiri sebenarnya tidak jauh dari politik itu sendiri, diantaranya seperti pengalaman akan politik dimasa sebelumnya yang mencerimkan kekecewaan terhadap politik, atau bisa juga dari sikap para politisi yang mencederai kepercayaan dari masyarakat sehingga masyarakat memiliki kekecewaan terhadap politik, dampaknya ada pada periode setelahnya. Termasuk muak akan adanya kampanye dengan janji manis namun pada kenyataannya apa yang dijanjikan ketika kampanye tidak terealisasikan atau terwujud sedikit atau bahkan sama sekali tidak terwujud, hal ini bisa menimbulkan rasa kecewa, kesal, marah maupun bosan jika terjadi secara berulang.

Dari rasa seperti itu pada akhirnya memunculkan rasa tidak peduli pada politik, menimbulkan pola pikir peduli atau tidak akan sama saja hasilnya mengecewakan. Hal-hal seperti ini bisa memupuk keengganan masyarakat untuk berdemokrasi, entah menuju hal yang baik atau tidak. Apatisme politik memiliki ciri khas yang dalam bentuk perilakunya berupa tindakan golput saat berlangsungnya pemilihan umum. Golput termasuk bentuk perilaku politik, golput sebagai salah satu indikasi bahwa seseorang bersikap apatis terhadap politik. Perilaku politik tidak lepas dari aktivitas manusia dalam kesehariannya. Tanpa disadari, aktivitas manusia berkaitan dengan politik.

Manusia memiliki sikap tersendiri dalam menghadapi berbagai permasalahan yang timbul di sekitar mereka. Sikap politik seseorang terhadap suatu objek politik yang terwujud dalam tindakan atau aktivitas politik merupakan perilaku politik seseorang.
Generasi muda memahami politik masih sebagai sesuatu yang baku, seperti “pemerintahan” atau “cara untuk menjadi penguasa” namun generasi ini bukan tidak mengerti politik akan tetapi mereka lebih memilih bersikap apatis terhadap politik. Hal ini disebabkan oleh kekecewaan mereka yang hingga membentuk pemikiran bahwa politik lebih berisi konten yang negatif juga karena peran media yang banyak mengeksplor sisi negatif dari politik, sedangkan pemberitaan yang positif tidak diberitakan secara meluas. Kesan yang didapat pada akhirnya hanya penilaian buruk terhadap politik.

Kurang pahamnya akan politik ini berimbas pada penyelenggaraan Pemilu, generasi ini menjadi kurang memahami dan bahkan tidak terlalu memperhatikan Pemilu menjadi hal yang penting. Penyebab generasi milenial apatis terhadap politik ialah kurangnya sosialisasi politik pada kalangan generasi muda, sifat pragmatis informan, dan citra negatif di media massa.

Generasi milenial memerlukan perhatian khusus akan politik, yang mana seperti pengadaan penyuluhan tentang politik langsung atau melibatkan generasi muda dalam kegiatan politk secara langsung bisa menjadi pilihan, agar tidak tercipta pemikiran politik hanya berisi keburukan saja. Selain itu, pembatasan media dalam memblow up berita yang memberitakan politik dari sisi negatif, alangkah baiknya juga media lebih mengeksplor politik dari sisi positifnya yang sebenarnya tidak sedikit untuk bisa dibahas. Tidak membahas dari segi negatif saja tapi dari segi yang baik. Karena media juga memiliki peran dalam membentuk pola pikir mengenai politik menurut generasi milenial.

* Penulis adalah komisioner KPU Kabupaten Paser

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *