Balikpapan Dorong Penanaman Mangrove untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Pemkot Balikpapan
Wali Kota Balikpapan, Dr H Rahmad Mas'ud, SE., ME.,

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan terus mendorong penguatan ketahanan pangan daerah melalui pemanfaatan lahan kosong dan gerakan penghijauan yang melibatkan masyarakat luas. Salah satu fokus yang kini ditekankan adalah penanaman mangrove sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem sekaligus mendukung keberlanjutan pangan.

Wali Kota Balikpapan, Dr H Rahmad Mas’ud, SE., ME., mengatakan, selama ini kebutuhan pangan kota masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Kondisi tersebut dinilai membuat harga pangan rentan berfluktuasi, terutama ketika distribusi terganggu.

“Ketahanan pangan tidak bisa hanya bergantung dari luar. Kita harus mulai dari lingkungan sendiri, dari rumah tangga, sekolah, hingga masyarakat luas,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Menurut dia, pemanfaatan lahan kosong, termasuk kawasan pesisir, menjadi langkah konkret yang bisa segera dilakukan. Penanaman mangrove dinilai tidak hanya penting untuk menjaga garis pantai dan mencegah abrasi, tetapi juga berkontribusi pada ekosistem perikanan yang menjadi sumber pangan masyarakat.

Rahmad menekankan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran sejak dini. Ia mendorong gerakan “satu anak satu pohon” yang tidak hanya terbatas pada tanaman darat, tetapi juga bisa diperluas pada penanaman mangrove di kawasan pesisir.

“Kalau seorang anak mampu merawat satu pohon yang ia tanam sendiri, termasuk mangrove, di situlah tumbuh rasa tanggung jawab. Dari situ anak belajar menjaga lingkungan dan masa depan,” katanya.

Selain itu, Pemerintah Kota juga mengajak kader PKK, organisasi masyarakat, hingga perangkat wilayah untuk aktif menggerakkan warga memanfaatkan lahan tidur menjadi kebun produktif. Tanaman seperti cabai, sayuran, dan buah-buahan diharapkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan rumah tangga.

Di sisi lain, pengembangan mangrove juga diyakini dapat mendukung ketersediaan pangan berbasis laut, seperti ikan dan kepiting, yang bergantung pada ekosistem pesisir yang sehat.

Rahmad menepis anggapan bahwa sejumlah komoditas sulit dikembangkan di Balikpapan. Ia mencontohkan keberhasilan budidaya berbagai tanaman dan hewan yang sebelumnya dianggap tidak cocok di wilayah tersebut.

“Artinya bukan soal bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau berusaha. Kalau kita serius, banyak yang bisa kita kembangkan, termasuk mangrove dan sumber pangan lainnya,” ujarnya.

Ia berharap, jika gerakan ini dilakukan secara masif dan berkelanjutan, Balikpapan tidak hanya menjadi kota hijau, tetapi juga lebih mandiri dalam menghadapi tantangan pangan di masa depan.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen pangan dari lingkungan sendiri. (HP/Adv Kominfo Balikpapan).

Tinggalkan Komentar