Belajar di Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Didorong Siapkan Masa Depan

Pertamina
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus memperkuat pembinaan warga binaan melalui pendidikan. Bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Azzahra, Lapas Banjarmasin menggelar pembelajaran Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C, Sabtu (22/8/2026).

Balikpapan, Gerbangkaltim.com — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin terus memperkuat pembinaan warga binaan melalui pendidikan. Bersama Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Azzahra, Lapas Banjarmasin menggelar pembelajaran Program Pendidikan Kesetaraan Paket A, B, dan C, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Kunjungan Lapas Banjarmasin itu diikuti warga binaan sesuai jenjang pendidikan masing-masing. Program tersebut menjadi salah satu upaya memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk tetap memperoleh pendidikan selama menjalani masa pidana.

Pada jenjang Paket A, peserta mendapatkan materi Bahasa Indonesia dari tutor Lisa Andiryani. Pembelajaran difokuskan pada penggunaan ejaan dan tanda baca yang benar untuk meningkatkan kemampuan dasar berbahasa dan komunikasi tertulis.
Sementara itu, peserta Paket B mengikuti pembelajaran kewirausahaan bersama tutor Rahmi Utari.

Materi yang diberikan membahas usaha kecil sebagai salah satu bentuk kegiatan ekonomi produktif yang dapat dijalankan secara mandiri.

Adapun peserta Paket C mengikuti pembelajaran Matematika bersama tutor Nor Ifansyah. Materi yang dipelajari yakni perkalian dua bentuk aljabar yang disertai penjelasan konsep dan latihan soal.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah mengatakan, pendidikan merupakan bagian penting dalam proses pembinaan karena dapat menjadi bekal warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Pendidikan merupakan salah satu bekal penting bagi warga binaan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan diri. Kami ingin kesempatan belajar tetap terbuka selama mereka menjalani masa pidana, sehingga ketika kembali ke masyarakat mereka memiliki bekal yang lebih baik,” ujar Akhmad Herriansyah.

Menurut dia, pembinaan di dalam Lapas tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kegiatan selama warga binaan menjalani hukuman, tetapi juga diarahkan untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan setelah bebas.

Kasubsi Bimkemaswat Lapas Banjarmasin, Muhammad Ansyari menambahkan, pendidikan kesetaraan menjadi bagian dari pembinaan yang diharapkan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Pembinaan tidak hanya tentang menjalani masa pidana, tetapi juga bagaimana mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali dan beradaptasi di tengah masyarakat. Pendidikan menjadi salah satu fondasi penting dalam proses tersebut,” katanya.

Perwakilan PKBM Azzahra sekaligus tutor Paket B, Rahmi Utari, mengatakan materi pembelajaran disusun agar tidak hanya memberikan pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kebutuhan warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.

“Kami berusaha memberikan materi yang tidak hanya bersifat teori, tetapi juga dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rahmi.

Ia mencontohkan materi kewirausahaan yang dapat memberikan gambaran kepada peserta mengenai peluang usaha kecil yang bisa dikembangkan secara mandiri ketika kembali ke masyarakat.
Salah seorang warga binaan, DY, mengaku antusias mengikuti program tersebut.

Menurut dia, kegiatan belajar memberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan baru sekaligus menjalani aktivitas positif selama berada di Lapas.

“Senang bisa mengikuti pembelajaran seperti ini. Kami bisa mendapatkan ilmu baru dan tetap memiliki kegiatan yang positif selama berada di Lapas. Semoga ilmu yang didapat bisa berguna setelah kami kembali ke masyarakat,” kata DY.

Akhmad Herriansyah menegaskan, keberlanjutan program pendidikan bagi warga binaan menjadi bagian dari komitmen Lapas Banjarmasin dalam menghadirkan pembinaan yang memiliki manfaat nyata.

“Harapannya, setiap proses pembinaan yang mereka jalani dapat menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat. Ketika pintu Lapas terbuka, mereka tidak hanya membawa pengalaman menjalani masa pidana, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan untuk memulai kembali kehidupannya,” tuturnya.

Tinggalkan Komentar