Kabut Asap Berau Kian Pekat Kasus ISPA Melonjak Tajam

kabut asap berau
Wakil Bupati Berau Gamalis saat meninjau langsung kondisi kualitas udara dan tingkat kepekatan kabut asap di kawasan Tepian Ahmad Yani, Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

TANJUNG REDEB, Gerbangkaltim.com – Ancaman bahaya paparan kabut asap pekat kembali mengepung wilayah Kota Tanjung Redeb dan sekitarnya di Kabupaten Berau. Kondisi kualitas udara yang terus memburuk dalam sepekan terakhir memicu lonjakan dramatis pada kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat lokal.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau bergerak cepat dengan melakukan pemantauan ketat di lapangan. Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengarahkan penanganan langsung bersama jajaran Dinas Kesehatan (Dinkes) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau saat meninjau kondisi kualitas udara di area Tepian Ahmad Yani, Tanjung Redeb. Pemkab menggandeng Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) untuk memasang alat ukur Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berstandar resmi di Halaman Kantor Bupati.

Langkah ini diambil mengingat angka lonjakan konsentrasi partikel berbahaya di udara telah menembus batas ambang aman. Pengukuran mendeteksi angka Particulate Matter (PM) 2.5 melonjak drastis hingga mencapai 385 dari standar normal 25, sedangkan kadar PM10 melambung tinggi hingga menyentuh angka 1.400. Kondisi udara ekstrem ini berisiko tinggi memicu gangguan pernapasan kronis hingga serangan jantung apabila partikel halus terhirup ke dalam paru-paru.

Menyikapi krisis kesehatan tersebut, Wakil Bupati Berau Gamalis mengimbau seluruh warga agar disiplin memperketat protokol kesehatan mandiri serta membatasi kegiatan di luar rumah.

“Kami hanya dapat mengimbau kepada masyarakat, agar supaya, ayo kita kembali lagi memakai masker, dan kurangi kegiatan di luar rumah jika itu tidak terlalu sangat penting,” imbau Gamalis.

Selain menyoroti paparan bahaya udara luar, Pemkab Berau juga menyiapkan langkah perpanjangan skema Belajar dari Rumah (BDR) bagi para siswa sekolah. Namun, Gamalis menegaskan agar kebijakan pembelajaran jarak jauh ini tidak disalahgunakan anak-anak untuk beraktivitas secara bebas di luar tanpa perlindungan.

“Jangan sampai juga ketika kita BDR belajar dari rumah, anak-anak malah bebas keluar keliyuran di luar rumah, itu selayaknya jangan,” tegasnya.

Dampak buruk paparan kabut asap pekat ini terkonfirmasi dari lonjakan tajam pasien penyakit pernapasan. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Berau, Rahmawati, membeberkan bahwa lonjakan kasus ISPA sepanjang bulan ini menjadi rekor tertinggi. Total kasus terlapor melambung hingga menyentuh angka 5.100 kasus, naik signifikan dari rata-rata bulanan yang biasanya berkisar antara 2.000 hingga 3.000 penderita.

Dinkes Berau turut mengingatkan bahwa sekitar 20 persen warga masih memilih melakukan pengobatan mandiri di rumah. Oleh karena itu, masyarakat diminta patuh menggunakan masker berstandar perlindungan agar terhindar dari dampak buruk polusi asap yang meluas.

Sumber: Pemerintah Kabupaten Berau

Tinggalkan Komentar