TPID Balikpapan, PPU dan Paser Perkuat Strategi Pengendalian Inflasi Jelang Idul Adha 2026

TPID Balikpapan
TPID Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser menggelar High Level Meeting untuk memperkuat pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas pangan menjelang Idul Adha 2026.

Gerbangkaltim.com, Balikpapan – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) gabungan Kota Balikpapan, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan Kabupaten Paser memperkuat sinergi pengendalian inflasi menghadapi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 2026 serta mengantisipasi sejumlah risiko ekonomi yang diperkirakan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam High Level Meeting (HLM) TPID yang digelar di Balikpapan pada Senin (18/5/2026). Pertemuan dihadiri oleh Mudyat Noor, Bagus Susetyo, serta Adi Maulana.

Seluruh kepala daerah dan perwakilan pemerintah yang hadir menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah melalui strategi pengendalian inflasi berbasis skema 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Dalam forum tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, memaparkan perkembangan inflasi terkini di Balikpapan, PPU, dan Paser berdasarkan hasil pemantauan early warning system (EWS) hingga pekan kedua Mei 2026.

Dari hasil monitoring, sejumlah komoditas strategis yang mengalami kenaikan harga dan perlu diwaspadai antara lain komoditas hortikultura, beras, minyak goreng, gula pasir, hingga bahan bakar rumah tangga.

Selain tekanan harga pangan, HLM juga menyoroti berbagai tantangan pengendalian inflasi ke depan, termasuk dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau panjang dan mengganggu produksi pangan di sejumlah daerah sentra produksi.

Berdasarkan prakiraan cuaca, curah hujan di Balikpapan, PPU, dan Paser selama Juni hingga Agustus 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pasokan pangan serta meningkatkan biaya distribusi dan logistik.

Tak hanya itu, TPID juga mencermati risiko kenaikan biaya energi, biaya kemasan, ongkos angkut, hingga potensi lonjakan permintaan bahan pangan akibat operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) apabila telah berjalan penuh.

Meski demikian, forum menilai ketersediaan pangan strategis di Kalimantan Timur masih dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang Idul Adha 2026.

Stok beras, gula, minyak goreng, jagung, dan daging sapi disebut masih cukup, namun tetap perlu dijaga melalui penguatan distribusi dan koordinasi antarlembaga.

Dalam rapat tersebut, masing-masing TPID juga melaporkan langkah konkret pengendalian inflasi yang telah dilakukan selama Februari hingga April 2026.

TPID Kabupaten Paser tercatat telah menggelar 19 kali Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar LPG 3 kilogram, dan bazar telur murah. Sementara TPID Kota Balikpapan melaksanakan 44 kali GPM serta operasi pasar sembako dan LPG subsidi.

Adapun TPID Kabupaten PPU telah menggelar sembilan kali GPM dan 11 kali operasi pasar guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat.

Sebagai tindak lanjut hasil HLM, TPID Balikpapan, PPU, dan Paser sepakat memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui intensifikasi operasi pasar, sidak harga berkala, optimalisasi Belanja Tak Terduga (BTT), serta penguatan kerja sama antar daerah dengan wilayah sentra produksi pangan.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong percepatan tanam komoditas pangan dan hortikultura, penguatan distribusi, serta peningkatan peran BUMD dan BUMDes dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan di masyarakat.

Sumber: TPID Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser

Tinggalkan Komentar