Disertasi S3 Bongkar Warisan Kolonial di Sekolah: Dari ‘Mental Budak’ Menuju Pendidikan yang Memerdekakan Guru dan Siswa
JAKARTA, Gerbangkaltim.com,– Di tengah arus standarisasi pendidikan dan tekanan administratif, sebuah disertasi doktoral di Universitas Negeri Semarang membongkar jejak kolonial yang masih hidup di sekolah. Penelitian ini menunjukkan: perubahan pendidikan tidak dimulai dari buku teks, tetapi dari keberanian memberdayakan guru dan memanusiakan siswa.
Dekolonisasi Kurikulum: Bukan Ganti Buku, Tapi Ganti Cara Mengelola Guru
Disertasi berjudul “Pengelolaan dan Pemberdayaan Guru dalam Mengimplementasikan Kurikulum Berciri Transformatif” ini dilakukan di SMA Bina Putera, Kopo, Serang, Banten — sekolah yang melayani siswa dari keluarga marjinal dengan berbagai keterbatasan sumber daya.
Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai hambatan, sekolah ini justru menjadikannya kekuatan.
Kurikulum tidak dijalankan sebagai dokumen administratif, tetapi sebagai praktik hidup.
Peneliti, Zulfikri Anas, menemukan bahwa masalah utama pendidikan bukan pada isi kurikulum, melainkan pada cara kurikulum dikelola.
“Ketika guru hanya dituntut patuh secara administratif, pendidikan kehilangan rohnya sebagai proses memanusiakan manusia,” ujarnya.
Dari Kontrol Administratif ke Pemberdayaan Guru
Penelitian ini melahirkan satu proposisi ilmiah tegas:
Dekolonisasi kurikulum tidak terjadi melalui perubahan isi semata, tetapi melalui transformasi pengelolaan dan pemberdayaan guru — dari objek kontrol administratif menjadi subjek reflektif dan etis.
Di sekolah yang diteliti, perubahan nyata terjadi:
-
Guru tidak lagi sekadar pelaksana format.
-
Pengelolaan sekolah bergeser dari kontrol ke relasi berbasis kepercayaan.
-
Otonomi pedagogis diberikan.
-
Kepemimpinan melindungi ruang kemanusiaan dari tekanan standar yang kaku.
Jejak Pemikiran Dunia yang Hidup di Sekolah Marjinal
Temuan ini berdialog dengan pemikiran besar dunia:
-
Rabindranath Tagore yang menolak pendidikan kolonial yang memutus anak dari alam dan budaya.
-
Maria Montessori yang menempatkan anak sebagai subjek aktif.
-
John Dewey yang menekankan demokrasi dalam belajar.
-
Paulo Freire dengan gagasan pendidikan pembebasan.
-
Ki Hajar Dewantara yang sejak 1922 menegaskan pendidikan sebagai upaya memerdekakan lahir dan batin.
Namun penelitian ini menegaskan: gagasan besar itu bukan romantisme sejarah. Ia bisa hidup di sekolah dengan segala keterbatasan — jika guru diberi kepercayaan.
Relevansi bagi Daerah dan Pembangunan Pendidikan
Bagi wilayah seperti Kalimantan Timur yang tengah menghadapi percepatan pembangunan dan transformasi sosial, temuan ini menjadi refleksi penting.
Di tengah:
-
Standarisasi nasional,
-
Tekanan capaian angka,
-
Dan digitalisasi pembelajaran,
Sekolah-sekolah daerah juga menghadapi dilema serupa: antara mengejar target administratif atau membangun manusia yang utuh.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan bermutu tidak selalu bergantung pada kemewahan fasilitas. Modal terbesar sekolah justru terletak pada:
-
Kepercayaan,
-
Relasi,
-
Budaya kolaboratif,
-
Dan kepemimpinan yang humanis.
Pendidikan yang Memerdekakan di Era Digital
Di era globalisasi dan algoritma, disertasi ini mengingatkan kembali pesan klasik:
Pendidikan bukan tentang kepatuhan, melainkan pembebasan.
Bukan tentang “mencetak”, tetapi tentang memanusiakan.
Dari ruang kelas sekolah marjinal di Serang, lahir pesan yang relevan bagi banyak wilayah Indonesia, termasuk daerah-daerah yang tengah bertumbuh seperti Kalimantan Timur:
Kurikulum akan bermakna ketika guru dan siswa diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai angka atau mesin administratif.***
BACA JUGA
