Bela Negara di Era Digital, Kemhan Ingatkan Ancaman Perang Kognitif Mengintai Masyarakat
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengingatkan masyarakat agar mewaspadai ancaman perang kognitif yang berkembang seiring pesatnya teknologi informasi dan penggunaan media sosial.
Ancaman tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Latihan Kader Bela Negara bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi dan komunitas tingkat pratama Tahun Anggaran 2026 yang digelar di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Selasa (3/10/2026).
Sambutan Kepala Badan Cadangan Nasional (Bacadnas) Kementerian Pertahanan RI Letjen TNI Gabriel Lema pada pembukaan kegiatan itu dibacakan Kepala Pusat Bela Negara Bacadnas Kemhan Brigjen TNI Luhut Marpaung.
Gabriel Lema menegaskan, bela negara tidak semata-mata berkaitan dengan aspek militer maupun pertahanan bersenjata. Bela negara merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa yang harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Bela negara bukanlah semata-mata tanggung jawab Kementerian Pertahanan, melainkan tanggung jawab seluruh kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta seluruh komponen bangsa,” demikian sambutan Gabriel Lema yang dibacakan Luhut Marpaung.
Menurutnya, kesadaran bela negara harus menjadi kesadaran kolektif masyarakat. Hal itu sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2022 tentang Kebijakan Pembinaan Kesadaran Bela Negara yang mengatur pembinaan bela negara melalui perencanaan, program kegiatan, pelaksanaan, pengawasan hingga evaluasi.
Gabriel menyebut terdapat lima nilai dasar yang harus ditanamkan dalam diri setiap warga negara, yakni cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, keyakinan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta kemampuan awal bela negara.
Kelima nilai tersebut, kata dia, tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus dihayati dan diterapkan sesuai profesi, tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Ancaman perang kognitif
Dalam sambutannya, Gabriel menyoroti perubahan bentuk ancaman terhadap negara yang kini semakin kompleks dan multidimensional.
Ancaman tidak hanya berupa ancaman militer dan nonmiliter, tetapi juga berkembang menjadi ancaman hibrida, termasuk perang kognitif yang menyasar pola pikir, persepsi, keyakinan dan perilaku masyarakat.
“Perang kognitif merupakan perang untuk memperebutkan pikiran manusia. Salah satu ruang utama yang digunakan adalah ruang digital, khususnya melalui media sosial dan berbagai platform komunikasi informasi,” ujarnya.
Menurut Gabriel, penyebaran disinformasi, propaganda, manipulasi informasi dan provokasi dapat digunakan untuk membentuk opini yang menyesatkan, memicu perpecahan hingga melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara.
Kondisi tersebut semakin berbahaya karena perang kognitif tidak membutuhkan pengerahan kekuatan militer secara langsung. Masyarakat bahkan dapat tanpa sadar menjadi bagian dari penyebaran informasi yang justru merugikan kepentingan bangsa.
Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun ketahanan ideologi, ketahanan mental serta kecerdasan digital masyarakat.
“Jangan sampai ruang digital yang seharusnya menjadi sarana pemersatu, justru dimanfaatkan sebagai ruang untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya.
Tokoh masyarakat diminta jadi penyejuk
Gabriel menilai tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat memiliki posisi strategis dalam menghadapi ancaman tersebut.
Mereka tidak hanya berperan sebagai figur yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat, tetapi juga dapat menjadi teladan, penyejuk dan perekat persatuan.
Karena itu, para tokoh tersebut diminta menggunakan pengaruh dan ruang komunikasi yang dimiliki untuk menyebarkan pesan positif, memperkuat semangat kebangsaan, menangkal hoaks dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pesan tersebut sejalan dengan arah penguatan literasi digital yang tengah didorong Bacadnas. Pada Agustus 2026, Kemhan melalui Bacadnas melakukan kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk memperkuat literasi digital sebagai bagian dari program bela negara, termasuk melalui penyebaran konten edukatif dan positif serta penguatan kemampuan masyarakat menghadapi hoaks, misinformasi dan disinformasi.
Kepala Pusat Bela Negara Bacadnas Kemhan Brigjen TNI Luhut Marpaung dalam sejumlah kegiatan bela negara sebelumnya juga menekankan bahwa masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk tidak mudah terpengaruh hoaks dan provokasi.
Dalam latihan kader bela negara di Aceh pada 30 Oktober 2026, misalnya, Luhut menyebut penguatan bela negara penting untuk membangun generasi yang tidak mudah terombang-ambing oleh hoaks maupun terpecah oleh provokasi.
Bekal menuju Indonesia Emas 2045
Latihan Kader Bela Negara di Dodikjur Rindam VI/Mulawarman mengusung tema “Internalisasi dan Penguatan Nilai-Nilai Dasar Bela Negara sebagai Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045.”
Gabriel mengatakan, kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberlangsungan bangsa dan negara.
Menurutnya, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan karakter kebangsaan, integritas serta kesadaran bela negara.
“Latihan Kader Bela Negara ini merupakan bagian dari upaya membangun sikap mental, karakter, dan kepribadian bangsa,” katanya.
Ia berharap peserta mengikuti seluruh rangkaian latihan dengan sungguh-sungguh, disiplin dan penuh tanggung jawab. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan sekaligus ditularkan kepada masyarakat di lingkungan masing-masing.
“Jadikan kegiatan ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat komitmen dan tekad bersama dalam menjaga persatuan, kesatuan, kedaulatan, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Pembinaan kesadaran bela negara sendiri merupakan kebijakan nasional yang memiliki dasar hukum Perpres Nomor 115 Tahun 2022.
Regulasi tersebut menempatkan pembinaan bela negara sebagai kebijakan lintas sektor yang melibatkan kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan unsur terkait lainnya.
Gabriel berharap dari latihan tersebut lahir kader-kader bela negara yang memiliki karakter kuat, wawasan kebangsaan luas dan mampu menjadi pelopor kesadaran bela negara di tengah masyarakat.
BACA JUGA
