Danlanud Dhomber Fasilitasi Operasi Water Bombing Australia, Hercules Guyur 15.000 Liter Air ke Titik Api
Balikpapan, Gerbangkaltim.com – Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Dhomber Balikpapan memberikan dukungan penuh terhadap operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui udara atau water bombing yang melibatkan dua pesawat bantuan dari Australia di Kalimantan Timur (Kaltim).
Dukungan tersebut meliputi fasilitasi perizinan penerbangan, pengamanan, penyediaan fasilitas pangkalan, hingga koordinasi kebutuhan operasional pesawat dan personel selama menjalankan misi pemadaman.
Komandan Lanud (Danlanud) Dhomber Balikpapan Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana mengatakan, persiapan dan koordinasi telah dilakukan sejak kedatangan tim Australia pada 4 November 2026.
Menurut dia, TNI AU memfasilitasi sejumlah kebutuhan agar operasi udara tersebut dapat berjalan lancar, termasuk penerbitan flight clearance dan security clearance.
“Jadi, TNI AU sudah memfasilitasi dengan mengeluarkan flight clearance, kemudian juga security clearance untuk mendukung kegiatan ini,” kata Sorga Laksana, Jum’at (6/11/2026).
Selain itu, Lanud Dhomber juga menyiapkan fasilitas apron atau area parkir pesawat serta fasilitas pendukung bagi kru dan personel yang terlibat dalam operasi tersebut.
Lanud Dhomber turut berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menyiapkan sumber air yang dibutuhkan dalam pengisian tangki pesawat sebelum melaksanakan penyiraman dari udara.
Danlanud menjelaskan, dukungan tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan unsur terkait untuk memastikan ketersediaan air serta kelancaran pengisian tangki pesawat.
Ia menilai, pelaksanaan operasi pada hari pertama menunjukkan hasil positif. Berdasarkan laporan yang diterimanya dari satuan tugas di lapangan, pesawat Hercules telah melaksanakan tiga kali penjatuhan air atau water bombing.
Dalam operasi tersebut, Hercules C-130 membawa sekitar 15.000 liter air dalam setiap sorti penerbangan. Pesawat itu didampingi Cessna Citation yang bertugas melakukan pengintaian sekaligus mengarahkan pesawat tanker menuju titik api sasaran.
“Dengan metode kombinasi antara pesawat pemandu dan pesawat Hercules yang melaksanakan water bombing, membawa kurang lebih 15.000 liter air, proses pemadaman dapat dilakukan beberapa kali. Ini sangat efektif untuk memadamkan titik api yang menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurut Sorga Laksana, penggunaan pesawat berkapasitas besar memungkinkan pemadaman dilakukan lebih intensif. Dengan demikian, operasi tidak harus terus-menerus bergantung pada pengambilan air dari embung atau sumber air terdekat menggunakan pesawat yang sama.
Ia juga memastikan koordinasi antara personel Indonesia dan Australia berjalan baik. Perbedaan bahasa tidak menjadi hambatan berarti dalam pelaksanaan operasi.
“Alhamdulillah, proses koordinasi sampai dengan siang tadi bisa berjalan lancar. Kendala bahasa tidak menjadi masalah. Artinya, kami berusaha sama-sama mencari solusi dari setiap permasalahan yang muncul,” katanya.
Penentuan lokasi pemadaman, lanjut dia, turut didukung BNPB dan satuan tugas darat yang memberikan informasi mengenai titik api beserta koordinatnya. Informasi tersebut menjadi dasar bagi tim udara dalam menyusun rencana penjatuhan air secara tepat.
Sementara itu, Deployment Lead sekaligus Chief Superintendent New South Wales Rural Fire Service (NSW RFS), Matthew Reeves menjelaskan, operasi pemadaman menggunakan pesawat tanker berkapasitas besar membutuhkan perencanaan teknis yang matang.
Ia mengatakan, Hercules C-130 yang dikerahkan mampu membawa hingga 15.000 liter air. Proses pengisian tangki menggunakan pompa khusus dapat dilakukan sekitar 15 menit sebelum pesawat kembali mengudara.
“Pesawat tangki air besar milik NSW RFS ini mampu membawa 15.000 liter air. Kami dapat mengisi tangki tersebut melalui pompa dalam waktu 15 menit, lalu menjatuhkan air ke titik api, biasanya dari ketinggian sekitar 250 kaki atau sekitar 76 meter,” kata Matthew.

Deployment Lead sekaligus Chief Superintendent New South Wales Rural Fire Service (NSW RFS), Matthew Reeves.
Menurut dia, air dapat dijatuhkan sekaligus maupun secara bertahap, bergantung pada kondisi lapangan dan tujuan pemadaman. Strategi tersebut memungkinkan tim menyesuaikan pola penyiraman, terutama ketika operasi diarahkan untuk melindungi permukiman dan masyarakat dari ancaman kebakaran.
Matthew menambahkan, pesawat Cessna Citation yang mendampingi Hercules memiliki peran penting dalam memastikan ketepatan sasaran. Pesawat tersebut dikenal sebagai bird dog atau pesawat pemandu yang bertugas melakukan pengintaian dan memberikan arahan kepada pesawat tanker.
“Pesawat yang mendampingi pesawat tangki air besar disebut sebagai bird dog. Tugasnya melakukan pengintaian dan memandu pesawat tangki air menuju titik api agar air dapat dijatuhkan dengan tepat, sehingga memberikan hasil terbaik dalam melindungi masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebutkan, para awak pesawat yang dilibatkan merupakan personel berpengalaman dalam operasi pemadaman kebakaran dari udara di berbagai negara, termasuk Prancis dan Australia. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi karakteristik wilayah operasi di Kalimantan Timur.
Meski demikian, Matthew menegaskan keberhasilan operasi tidak hanya bergantung pada kemampuan awak dan teknologi pesawat. Dukungan dari berbagai instansi di Indonesia menjadi bagian penting untuk memastikan keselamatan penerbangan sekaligus efektivitas pemadaman.
“Kami tidak akan bisa mencapai hasil hari ini tanpa dukungan BNPB setempat, pengatur lalu lintas udara (air traffic control), serta badan meteorologi yang memberikan pengarahan mendalam dan pemahaman menyeluruh mengenai medan di sini. Ini merupakan operasi teknis yang memerlukan perencanaan matang,” katanya.
Berdasarkan data BNPB, operasi bantuan Australia melibatkan satu pesawat Hercules C-130 sebagai Large Air Tanker dan satu Cessna Citation sebagai pesawat pemandu, dengan dukungan 20 personel spesialis penerbangan dari NSW RFS, termasuk pilot, kru, dan tenaga paramedis.
Pada hari pertama operasi, Jumat (6/11/2026), pesawat Hercules telah melakukan tiga kali penjatuhan air hingga pukul 15.00 WIB. Sasaran awal pemadaman difokuskan pada dua titik api yang berada di dekat permukiman warga di Samarinda.
Operasi bantuan udara tersebut dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari, mulai 6 hingga 12 November 2026. Dalam sehari, Hercules diproyeksikan mampu melaksanakan hingga enam sorti penerbangan dengan kapasitas penjatuhan air mencapai lebih dari 100.000 liter.
Kehadiran armada Australia diharapkan memperkuat upaya penanganan karhutla di Kaltim, sekaligus melengkapi pemadaman melalui jalur darat dan langkah penanggulangan lainnya yang selama ini dilakukan pemerintah.
BACA JUGA
