Dari Keterampilan Jadi Cuan, Warga Binaan Lapas Banjarmasin Produksi 15 Toples Cookies Coklat
Banjarmasin, Gerbangkaltim.com – Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banjarmasin mulai menghasilkan produk yang siap dipasarkan.
Tiga warga binaan, DY, S, dan MD, memproduksi cookies coklat untuk pertama kalinya hingga menghasilkan 15 toples. Produk tersebut kemudian dipasarkan secara daring dan melalui stan penjualan Lapas Banjarmasin, Rabu (16/9/2026).
Dalam proses produksi, ketiganya didampingi petugas Giatja. Mereka terlibat langsung mulai dari menyiapkan bahan, mengolah dan membentuk adonan, memanggang, hingga mengemas cookies.
Kegiatan tersebut menjadi praktik langsung setelah sebelumnya ketiganya mendapatkan keterampilan membuat cookies melalui program kemandirian yang diselenggarakan Lapas Banjarmasin.
“Ini pertama kali saya membuat cookies coklat untuk dijual. Sebelumnya kami belajar melalui program kemandirian, kemudian sekarang mencoba menerapkannya dalam produksi. Rasanya senang ketika hasil yang kami buat bisa menjadi produk yang siap dipasarkan,” ujar DY.
Kasi Giatja Lapas Banjarmasin, Bagus Paras Etika, mengatakan kegiatan produksi menjadi bagian dari pembinaan untuk memberikan pengalaman kerja secara langsung kepada warga binaan.
“Program kemandirian tidak berhenti pada pemberian keterampilan. Kami ingin warga binaan memiliki kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut hingga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan dapat dipasarkan,” kata Bagus.
Menurut dia, proses produksi juga melatih warga binaan untuk memperhatikan kualitas produk, kerapian kemasan, serta menjalankan setiap tahapan pekerjaan secara bertanggung jawab.
Sementara itu, Kalapas Kelas IIA Banjarmasin Akhmad Herriansyah mengatakan keterampilan yang diberikan dalam program pembinaan diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi bekal setelah warga binaan kembali ke masyarakat.
“Kami ingin keterampilan yang diperoleh warga binaan benar-benar dapat diterapkan. Ketika mereka mampu menghasilkan produk dan memasarkannya, itu menjadi pengalaman berharga yang bisa dikembangkan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujar Akhmad Herriansyah.
Produksi 15 toples cookies coklat tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan program kemandirian melalui kegiatan Giatja. Selain menghasilkan produk siap jual, kegiatan ini memberikan pengalaman kepada warga binaan dalam menjalankan proses produksi hingga pemasaran.
Pembinaan tersebut diharapkan dapat membangun keterampilan, pengalaman kerja, serta kemandirian warga binaan sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pembinaan.
BACA JUGA
